Memories..
Dini masih duduk dihadapan Hisyam setelah mengungkapkan semua isi hatinya. Sambil menahan air mata yang sejak tadi sudah menggenang dipelupuk matanya. Dini tidak ingin menangis dihadapan Hisyam , meskipun hatinya terasa begitu pilu dan pedih.
Hisyam menatap Dini dalam-dalam dan berkata "Din, bahkan setelah 9 tahun. Saat aku sudah menikahi perempuan lain, memiliki dua orang anak dari perempuan itu. Aku masih amat sangat mencintai kamu, Aku masih amat sangat menyayangi kamu. Maaf kalau aku harus bilang ini ke kamu sekarang, aku ga bisa lagi simpen semua ini. Bohong kalau aku ga pernah ingat kamu 9 tahun terakhir, Bohong kalau aku bisa ngelupain kamu dan ga pernah kangen kamu."
Dini terdiam agak lama.. berfikir bahwa yang ia dengar adalah benar yang Hisyam ucapkan untuknya. Ada rasa senang, bahagia, sedih, takut, dan semua rasa yang ada didunia mungkin sedang berkecamuk didalam hatinya.
Dini berusaha menjelaskan keadaannya saat ini kepada Hisyam.
"Hisyam, sejak 11 tahun lalu dan sekarang.. rasa yang aku miliki untukmu itu masih sama. Tidak ada yang berubah dan tidak ada seorangpun yang bisa merubah itu. Tapi, saat ini aku bukan lagi Dini yang kamu kenal. Aku juga sudah menikah, Aku sudah milik orang lain. Maaf, jika aku kembali membuatmu kecewa. Satu hal yang harus kamu tahu pasti, Rasa cinta dan sayang yang pernah aku miliki ke kamu.. semuanya masih sangat sama. Masih berada ditempat yang sama, dan Tidak pernah ada yang berubah, selama ini aku masih sangat merindukan kamu tidak peduli sepahit apa kenyataan itu. Maaf aku harus pergi." Dini beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi. Dini pergi meninggalkan Hisyam yang masih duduk terpaku dikursinya, Dini tak lagi sanggup menahan air matanya. Ia tak ingin menangis di depan Hisyam dan memilih meninggalkan Hisyam begitu saja.
Hatinya pilu dan sedih , ketika ia sadar bahwa kenyataan tak pernah sesuai dengan harapannya. Dini sudah berhenti berharap 4 tahun lalu.
Ketika hatinya hancur melihat Hisyam sudah dengan wanita lain.
Dini berhenti berharap kepada siapa dan apapun juga. Dia tak lagi memiliki impian , tak lagi bercita-cita, bahkan untuk berangan-angan saja dia tak pernah memiliki keberanian. Dia sangat takut, ketika harapan atau angan-angannya tak pernah sesuai dengan kenyataan didalam hidupnya, seperti yang ia alami sekarang. Antara dia dan Hisyam.
Dini pulang kerumah dengan hati yang berkecamuk. Berusaha menyembunyikan rasa itu didepan suami dan ibu mertuanya tak terlihat semudah yang ia lakukan.
Setelah pertemuannya dengan Hisyam, Dini kembali terisak dalam setiap sujudnya. Lebih Sering dan bahkan cukup membuat matanya sedikit bengkak dan sembab.
Kehidupan Dini menjadi sedikit agak rumit. Disamping masalah yang dia hadapi dengan suami dan ibu mertuanya. Kini hatinya ikut terguncang akan kemunculan Hisyam yang tiba-tiba dan membuat luka yang terpendam cukup lama kembali menyembul dan terbuka.
Sakit...
kesakitan akan kenyataan yang tak sesuai harapan.
Kesakitan akan kenyataan bahwa dia dan orang yang ia cintai tak bisa bersama.
kesakitan akan kenyataan bahwa dia adalah BOM waktu bagi rumah tangganya.
Menahan, menahan, dan menahan setiap luka. Itulah Yang Dini lakukan sekarang. Sampai batas apa ia mampu menahan setiap luka ? Jika setiap hari bertambah dengan goresan-goresan luka yang baru ? Bisakah ia bertahan menghadapi luka itu sendirian ?
YOU ARE READING
After 9th dan rasa itu masih ada
Non-FictionCerita satu ini masih kelanjutan cerita sebelumnya yang berjudul "perjuangan melepasmu" Seorang perempuan yang ternyata masih Berharap bisa berbincang, bercerita banyak hal dengan mantan kekasih terindahnya. Setelah 5 tahun putus dan hatinya hancu...
