"Apa yang kamu pikirkan sampai berbuat seperti itu. Seburuk apapun hidupmu tetap jalani dengan biasa. Hal yang membahagiakan telah menantimu nanti."
Seseorang yang ada dihadapanku bukan ayah kan? Orang yang dihadapanku hanyalah seseorang yang senasib denganku. Tangannya yang besar mendarat di kepalaku. Mengusapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Benda bening cair mengalir dari mataku. Diriku menatapnya. Dia tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku. Sosok ayah yang telah meninggalkanku untuk selamanya. Karena itu aku maju selangkah. Menabrakkan badanku padanya. Melingkari lenganku pada punggungnya yang lebar. Aku merasa sedang memeluk Ayah.
"Terima kasih." Pelukan ini semakin kueratkan. Tolong jangan lepaskan ini. Aku tahu kamu bukan ayah. Tapi, tolong begini saja sedikit lebih lama.
Lengannya menyentuh kedua pundakku dan mendorongku. Pelukan yang mengingatkanku pada ayah terlepas karenanya. "Sudahlah, jadi apa tujuanmu kembali?" Dia melanjutkan dengan bertanya.
Bisa dibilang dengan polosnya aku menjawab, "Aku ingin Maratha tidak jadian dengan Aprillia." Untuk menjawab itu aku sedikit malu.
"Kalau begitu tujuan kita sama. Kita sama-sama saling bantu. Aku akan membantumu lebih dekat dengan Maratha. Begitu juga kamu harus membantuku untuk lebih dekat dengan Aprillia." Senyum terlukis di wajahnya. Dia sangat bahagia.
"Setuju." Orang biasa akan mengulurkan tangan ketika melalukan transaksi atau perjanjian akan begini. Dan untungnya dia menjabat tanganku.
Setelah berjabat tangan dia menggerakan bola matanya ke atas. Mengisyaratkan kita untuk pulang. Lalu dia membalikan badannya. Aku menahannya dengan menarik sweaternya.
"Ada apa?" Dia berbalik ketika sweaternya ditarik.
"Boleh minta LINE nggak?" Aku menyodorkan ponselku padanya.
"Bayarlah."
"Eh? Berapa?" Aku terkejut mendengarnya. Reflek aku mengeluarkan dompet dari tasku.
"Hahaha, aku bercanda." Dia tertawa lepas dan mengambil ponselku. Dan menyerahkannya kembali padaku. "Btw untuk apa?"
"Kita harus saling mengabari mengenai perkembangaan alur yang baru." Aku berkata sambil memandangi layar ponsel.
"Oke deh."
Hari menjelang sore. Kami pergi meninggalkan belakang ruang olahraga.
Kota Bankyo memiliki 12 distrik. Aku tinggal di distrik 7. Menyewa sebuah apartemen. Tinggal hanya dengan ibuku yang sibuk banting tulang demi menghidupiku setelah ditinggal selamanya oleh ayah. Sosoknya selalu kurindukan.
Kami menaiki kereta untuk sampai ke distrik 7. Ternyata rumah Natsuga berada satu distrik denganku hanya berbeda daerah saja. Turun dari kereta kami masih berjalan bersama sampai di persimpangan ke-4 kita berpisah.
****
Di rumah aku hanya membuka ponsel. Melihat instagram Maratha. Hampir lupa kalau dia akan mengkuti turnamen basket nanti sabtu.
Di kasur aku mencoba tertidur. Memejamkan mata. Hanya suara detik jam yang terdengar. Suasana kamar begitu sunyi. Tinggal sendiri memang menyedihkan. Harapan untuk esok adalah jangan kembalikan aku kehidupan yang sebelumnya. Aku ingin alur yang baru ini meskipun mencuranginya
6 April 2016 sebelum pengulangan.
Hari ini adalah pertandingan Maratha. Kebimbangan hati membutakan tujuan. Untuk orang yang tidak dikenalnya apa boleh aku datang ke pertandingannya. Tapi, hatiku selalu memaksakan itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Alternate Ending
RomanceBagaimana jika kau bangun di hari yang sama? Atau, bagaimana jika kau bisa mengubah takdir? Mengubah alur kehidupan dirimu. Tapi apa jadinya kalau tak sesuai keinginanmu. Natsuga Arthur seorang siswa SMA yang sangat pendiam sebelumnya. Sangat menyuk...