mbah Por menurunkan Lastri, sementara, ada lubang besar di depan Agus, Lastri merangkak mendekati wanita itu, ia menciumi tangannya, sedangkan mbah Por meletakkan dedaunan pisang di samping lubang, sebelum memberikan parang pada wanita itu
wanita itu mendekati Agus, ia seperti memeriksa kepala Agus, Ruslan hanya bisa melihatnya dari jauh
Lastri hanya diam, ia sudah tidak bisa berdiri lagi, sementara mbah Por berjalan menuju rumah tempat Ruslan berada
mbah Por masuk, Ruslan langsung menemuinya
"onok opo iki mbah, lapo atek beleh-belehan" (ada apa ini mbah kenapa pakai acara sembelih)
mbah Por tampak geram, Ruslan baru sadar, bibir mbah Por mengeluarkan darah, "Koncomu iku menungso paling goblok!! asu!!"
Ruslan bingung.
mbah Por melewati Ruslan, ia berjalan menuju Ranggon, Ruslan yg masih bingung mengejar mbah Por,
"opo maksude mbah?" (apa maksudnya mbah)
mbah Por membuka mulutnya, Ruslan tidak percaya dengan apa yg dia lihat
"kok isok koyok ngunu mbah?" (kok bisa sampai kaya begitu mbah?)
"nek gak onok Lastri, wes pedot iki ilatku, tak belani protol untuku, tapi wong iku jek kepingin ae ndelok menungso gak nduwe ilat" (kalau gak ada Lastri, sudah sobek ini lidahku, aku belain sampai gigiku ompong, tapi manusia itu masih saja pengen lihat orang gak punya lidah)
mbah Por melangkah masuk kamar, ia melihat Ranggon sebelum menggendongnya
Ruslan masih tidak mengerti apa yg akan mbah Por lakukan, "awakmu nang kene ae, bengi iki, bakal akeh getih nang lemah" (kamu disini saja, malam ini akan banyak darah bercucuran)
mbah Por melangkah keluar
Ruslan kembali mengintip ke jendela
Ranggon itu diletakkan tepat di atas daun pisang di samping lubang itu, wanita misterius itu lantas melepaskan cengkramannya dari kepala Agus, ia mendekati Ranggon
mbah Por hanya berdiri melihat, sementara Lastri, ia membuang muka
sayup-sayup terdengar wanita itu bicara,
"wes ngerti koen, Ranggon iki gak bakalan mati nek aku gak ngijino, koyok awakmu nduk" (sekarang kamu ngerti, Ranggon ini gak akan pernah bisa mati sebelum aku ijinkan, seperti kamu nak)
Parang seketika mengiris leher Ranggon, Ruslan membuang muka, saat Ranggon itu di biarkan mengelepar dengan leher mengangah,
jantung Ruslan berdegup kencang, ia masih mengawasi, sebelum, Ranggon itu berdiri
Ranggon itu berdiri mendekati Lastri dengan kepala tergedek, lehernya hampir saja putus, namun, masih hidup
hening
Ruslan masih mengamati, sampai, sosok wanita misterius itu mengangkat kepalanya melihat tepat di tempat Ruslan mengawasi sembari menghunus parang,
mbah Por ikut melihat Ruslan, ia meminta Ruslan turun,
Ruslan sendiri, terkesiap, apa yg ingin wanita itu lakukan
Ruslan membuka pintu, lalu berjalan pelan mendekati wanita itu, matanya seakan menghipnotis, entah berapa kali Ruslan menelan ludahnya,
mbah Por tidak melakukan apapun, membiarkan Ruslan melewatinya,
termasuk Ranggon yg kini ada di pelukan Lastri, Agus melotot ngeri
saat Ruslan sudah ada di depan wanita itu, jantung Ruslan berdegup kencang, ngeri, gila, Ruslan tidak bisa menggambarkan ketakutan yg ia rasakan, terutama saat mendengar suara dinginnya
"ndangak" (angkat lehermu) kata wanita itu, Ruslan menurut, wanita itu memeriksa leher Ruslan
"arek iku gak salah, Du" kata mbah Por, wajahnya pucat
wanita itu terus melihat leher Ruslan, menyentuhnya dengan jari jemarinya yg berlumuran dengan darah,
dingin, tubuh Ruslan mengejang, tetesan darah yg menyentuh kulitnya, terasa dingin sekali.
setelah memeriksa, wanita itu menatap mbah Por "ambu lengkuas" katanya,
wanita itu mendorong Ruslan, ia mendekati Lastri dan Ranggon, mbah Por segera menenangkan Ruslan, "tenang ae, iku gok seng nduwe lemah iki" (tenang saja, dia bukan yg punya tanah ini) "dia hanya Gundik'colo"
Ruslan tersentak mendengarnya "Gundik'colo maneh" (Gundik'colo lagi)
Ruslan mendekati Agus, ia seperti orang ling-lung, bahkan melihat Ruslan pun, Agus enggan
"ilingo Las, kejadian opo sing tau onok nang kene" (ingat dulu Las, kejadian apa yg pernah terjadi di tanah ini)
wanita asing itu, mengelus rambut Lastri, sementara Ranggon itu hanya diam,
"aku jek iling mbak yu" (aku masih ingat mbak) kata Lastri, ia menatap mbah Por, seakan kejadian itu baru kemarin,
Lastri dan mbah Por sudah menyaksikan bagaimana tanah ini pernah menjadi mimpi terburuk
"dia bukan ibu kandungmu, tapi, kamu sampai mau menjadi Gundik'colo, hanya agar bisa merawatnya, padahal, sudah berapa banyak orang di siksa oleh Ranggon yg kamu peluk ini" kata wanita itu, "ingat lagi kejadian itu, dan sekarang, ada yg tahu dia hidup, kontraknya selesai"
wanita itu kembali berbisik,"keluarga Anggodo!! sudah menginginkan kepalanya sejak dulu, dan sekarang aku kesini menagih kontrak yang sudah kamu sepakati, benarkan Por, kamu juga ada disana, mendengar Lastri bersumpah, setelah menjadi Gundik'colo itu!! BIARKAN DIA MATI sekarang!"
"sebagai orang yg menerima penderitaan menjadi Gundik'colo dan mengorbankan semuanya sepertimu, aku ikut bersimpati, bahkan sampai kau curi berapa banyak tali pocong untuk kau tanam di tanah ini agar tak satu orang pun mau mendekati tanah ini, tapi, pemuda itu, dia sudah tahu"
"Por" kata Lastri, "koen wes tak anggap dulurku, awakmu gelem mateni bajingan iki!!" (kamu sudah saya anggap saudara sendiri, kamu mau ikut membunuh bajingan satu ini)
wanita itu tersenyum, lantas menatap Pornomo,
mbah Por tampak pucat, ia menggelengkan kepalanya
"wes talah tri, aku gak isok mbantu awakmu, gelar Gundik'colo sing wes mok panggul iku ngunu abot di tambah tugas jogo Ranggon, ilingo, ilingo opo sing biyen di lakoni ambek Ranggon sing mok jogo iku!!" "wes pirang arek di sikso ambek menungso biadab iku!!"
"sudah lah tri, aku tidak bisa membantumu, gelar Gundikcolo yg kamu emban sudah sangat berat, di tambah tugas menjaga Ranggon, ingat, ingat apa yg dia pernah lakukan, Ranggon yg kamu jaga itu siapa!!" "berapa banyak anak di desa ini yg sudah dia siksa, manusia biadab!!"
wanita itu berdiri, ia menjilati darah di parangnya, sementara mbah Por memaksa Lastri melepaskan Ranggon yg lehernya sudah mengangah, "wes talah culno" (sudahlah, lepaskan dia) kata mbah Por,
ditengah ketegangan itu, Ruslan lantas berdiri berteriak, "ASLINE ONOK OPO IKI!!"
(SEBENARNYA ADA APA INI!!)
semua mata lantas memandang Ruslan tajam, Ruslan menelan ludah, sebelum kembali menunduk lalu diam
"ceritakno Por, ben cah ambu lengkuas iku ngerti onok opo nang kene!" (ceritakan Por, biar anak bau lengkuas itu mengerti ada apa disini) kata si wanita
mbah Por mendekati Agus dan Ruslan, lalu menunjuk rumah Lastri
"dulu, itu adalah rumah orang terpandang di desa ini" kata mbah Por, "beliau orang yg baik, bijaksana dan di hormati penduduk desa, namun sayang, umurnya tidak panjang, ia meninggalkan seorang isteri tanpa anak"
"namanya adalah Candramaya, setiap hari, Candramaya duduk di depan rumah ini, menyaksikan anak2 desa bermain di depan rumah, karena hanya rumah ini yg punya latar luas untuk bermain, termasuk, aku dan Lastri" kata mbah Por, "namun, sesuatu terjadi"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lemah Layat ( TAMAT )
HorrorCerita diambil dari akun twitter @SimpleM81378523 jika ingin membaca langsung di akunnya, silahkan ⬇ Lihat SimpleMan (@SimpleM81378523): https://twitter.com/SimpleM81378523?s=09 Jangan lupa like dan tinggalkan comment
