Jason Pov
"Ok aku mengerti akan hal semua ini, tapi tunggu kenapa aku tahu akan hal ini?"
"Kurasa aku harus memberitahu Dika akan ini. Kenapa aku juga terlibat, tunggu aku masih disini." Masih tercium bau alcohol yang menyengat.
"Aku dioperasi? What!!! Apa yang terjadi aku bermimpi?? Deja Vu? Ok aku tersadar." Dan aku bingung sendiri.
"Dok, anak saya sudah siuman dok!!!" Seseorang berteriak dari luar kamar seperti panik dan takut tapi aku merasakan ada kelegaan.
Di rumah sakit??
Astaga sudah berapa hari aku disini, apa dia baik - baik saja. Aku harus segera menelfonnya.
"Bu, aku mau handphone aku." Ibuku hanya heran melihatku, mungkin aku kayak orang habis mimpi dikejar hantu. Ya aku sedang panik karena ini penting untuk kita berdua dan yang lain yang mungkin menemukan video terkutuk itu.
"Denger Dik kita nggak ada waktu lagi, ini bakal jadi takdir kita tapi aku nggak mau kita mati, sekarang dengarkan aku, kamu pergilah ke gang kemaren aku di bantai. Pasang kamera disana kecil aja, kunjungi situs yang kemaren kita dapat video, jika sudah berhasil masuk ke home ubah username mu dengan RASI, jika sudah nyalakan kamera di laptop mu, jangan pernah buka sosmed apapun ketika membuka ini, jangan buka file apapun di laptop, jangan menelepon, dan liat saja yang ada dilayar. Ketika kameramu ada yang aneh screenshoot saja layarnya. Ketika itu pasti ada user yang tertera di sebelahnya." Nggak ada waktu lakukan secepatnya kita hanya punya 2 hari. Jangan lupa periksa juga monitor kamera yang kau pasang tadi."
Dika Pov
"Jason?? Ada apa, kau sudah siuman?" Aku hanya kaget saja bukankah kemaren dia masih belum sadarkan diri?? Aku mendengarnya mengoceh banyak. Aku nggak tahu dia ngejelasin apa dia kayak orang ketakutan. Ok aku coba cerna apa yang dia bilang.
"Ok ok kamu tenang dan coba jelaskan apa yang sebenarnya kau mau aku lakukan?"
Dia terus nerocos dan aku nggak ngerti sama sekali. Aku mencoba menenangkannya untuk bisa mendengarkan apa yang dia katakan.
"Ok, sekarang aku harus pasang kamera terlebih dahulu kan, Jes pelan - pelan ok." Aku mulai bergerak, aku takut, dan aku bingung. Kamera pengintaiku ada di lemari tengah sebelah kiri ruang tamu. Aku membuka dan mulai merakit nya.
"Jes kamu masih disitu?" Kurasa aku sudah tak mendengar hembusan nafasnya ditelepon jadi aku menanyakannya. Dia tak menjawab, entah lah sepertinya di jeda.
Saat aku selesai merakit nya aku hendak memasangnya tetiba ada suara orang berteriak memanggil namaku dan menggedor pintuku dengan sangat tidak santai. Aku kaget suara itu semakin ribut, dan aku malah diam mematung. Aku tak bisa melihatnya karena aku takut setengah mati. Bagaimana jika itu pembunuhnya, dan dia ingin mengincar nyawaku untuk kepuasannya. Bagaimana ini?? Aku sendirian.
Tiba tiba suasana yang tadinya sangat mencekam, tiba tiba jadi diam tenang, akh berfikir bahwa yang tadi itu aku berhalusinasi, but you know i feel like its real.
Suara ketukan pintu dapur terdengar, kurasa aku akan mati saja. Ketukan sedikit berbeda ritme, dia lebih santai.
Aku masih belum bisa merespons karena takut setengah mati.
"Dik, ini aku Jason, bukakan pintunya, apa kau sudah memasang kameranya?"
Wait itu Jason, aku langsung berlari menuju jendela disebelah pintu untuk memastikan bahwa benar itu Jason. Ita benar dia Jason dengan masih berpijama rumah sakit, dia sangat terlihat tak sehat. Dia pucat, aku langsung membawanya masuk.
"Jadi itu kau yang tadi mengetuk pintu?" Aku mulai bertanya. Dia hanya melihatku bingung. Aku terkaget ketika di merespons seperti itu
"Tadi kamu mengetuk pintu depan rumah ku dengan keras kan?" Ok aku mulai takut
"Shiiiit!!!!! Aku keduluan!!!" Aku kaget Jason tetiba mengumpat. Aku semakin bingung,
"Baguslah kau tak membukakannya, kau tahu dia orang yang buat aku jadi begini, dan target selanjutnya kau dik"
YOU ARE READING
JANGAN KLIK !!!!
Terror(On going) Hanya akan ada pembunuhan sadis yang tak berujung selesai. Karena 1 klik menentukan beberapa mata yang melihat hasilnya.
