Suhu udara di luar sana terasa semakin panas tat kala sang surya kini duduk semakin tinggi di langit lepas. Panas yang sebenarnya tak begitu berpengaruh dengan suhu mansion besar yang hampir di setiap sudut ruangannya telah terpasangi dengan AC.
Di dalamnya kini ada seorang pria yang terlihat mematung di depan pintu suatu ruangan di sana. Pria itu adalah Hans. Dan setelah menimbang nimbang apa yang akan di lakukannya. Akhirnya ia pun mengetuk pintu kayu di depannya itu.
Tanpa menunggu jawaban dari pemilik kamar, ia langsung saja masuk kedalam. Meski setelah itu kehadirannya mendapatkan tatapan tajam dari dua orang lain disana.
"Kak." Panggil Hans. Namun orang yang di panggil demikian malah terlihat meremehkan.
"Kau punya cukup nyali untuk menemuiku rupanya." suara dingin itu adalah milik Mark. Ia menatap Jackson yang ada di sampingnya, memberi kode untuk meninggalkannya berdua dengan anak itu.
Bersamaan dengan keluarnya Jackson. Mark terlihat bangkit dari posisinya yang sebelumnya duduk di kasur miliknya.
"Ada apa?" tanyanya tak kalah dingin dari sebelumnya.
Ia menatap Hans tajam. Namun, pria di depannya itu malah tersenyum dan membuatnya semakin kesal.
"Terima kasih karena kau sudah datang, Kak. Ayah dan ibu pasti akan sangat senang mengetahuinya."
"Jika kau datang hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting, lebih baik pergi sana. Aku tidak punya waktu untuk melayani semua omong kosongmu itu."
Mark menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali menyerang Hans dengan pertanyaan yang mungkin kebih tepat di sebut dengan pernyataan?
"Hah .... Dari pada itu. Bukankah lebih menarik untuk membicarakan tentang hadiah yang ku berikan padamu kemarin?"
Hans menegang. Kalimat Mark barusan seperti memperjelas apa yang ada di bayangannya sejak kemarin. Membuatnya sadar bahwa kemungkinan terburuk yang ada dikepalanya sejak kemarin menjadi kenyataan.
Hal itu membuat Mark tersenyum smirk. Ia mengalihkan pandangannya kesamping sambil terkekeh ringan saat melihat reaksi saudara tirinya itu.
"Apa kau yang melakukannya?"
"Bukankah sudah sangat jelas?"
"Kenapa?"
"Karena aku membencimu."
"Tapi, bukankah kali ini kau harusnya merasa berterimakasih padaku? Aku sudah membawakan orang yang kau cari selama ini." ujar Mark, rasanya cukup seru melihat adik tirinya terdiam ketakutan seperti ini. Anggap saja ini sebagai hukuman yang setimpal untuknya karena berani bermain-main dengannya.
"Lepaskan dia kak Mark. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini." Mohonnya.
"Hahahaha. Apa kau bilang? Mepaskannya? Untuk apa aku melakukan hal bodoh itu. Apa kau tau betapa sulitnya mendapatkan pria itu."
"Jangan menyakitinya, Kak. Kumohon."
"Memangnya kenapa aku harus menyakitinya. Dia ada di pihakku sekarang. Dan jika ada orang yang akan menyakitinya, itu adalah kau, Hans."
Mark berjalan mendekat pada sosok Hans. Lalu setelahnya membisikan kata-kata yang membuat Hans semakin tak berkutik.
"Berhentilah bersikap sok hebat, jika tidak ingin aku menghabisinya."
🔫🔫🔫
"Kak." Ucap Hans mengawali. Saat ini mereka berdua tengah berada di sebuah ruangan berisi dengan buku-buku lama milik Hans. Bisa di bilang ini adalah perpustakaan kecil miliknya di mansion besar ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark and Flash
Mystery / Thriller"Mari lihat sampai seberapa lama kau akan bertahan..."
