Saat pulang sore ini Miller melihat sebuah truk ekspedisi terparkir di depan rumahnya.
Setelah benar-benar masuk ke halaman rumah bersama sepeda motornya terlihat Axel tengah menerima sebuah paket yang cukup besar.
Tukang paket itu membungkuk kecil saat melihatnya dan pergi karena urusannya sudah selesai di sini.
"Dari siapa?" tanya Miller penasaran.
"Ibu," jawab Axel singkat lalu mengangkat paket itu dengan mudah dan dibawanya masuk.
Melihat itu semakin membuat Miller tidak yakin apakah dia bisa merengkuh tubuh itu dalam dekapannya jika menyetujui tawaran Axel tentang membuat anak bersama.
Bagaimana jika kami punya anak tanpa harus berhubungan sex? Miller mendesah. Dalam urusan pendanaan, hal itu sangat mudah dilakukan. Namun, masalahnya adalah apakah bisa berjalan semudah itu?
Aku tidak tahu apa-apa tentang program bayi tabung, bagaimana dengannya? Kepala Miller mendadak penuh dengan hal itu. Bohong jika dia tidak kepikiran sama sekali dengan tawaran Axel soal memiliki anak. Jika secara alami akan menjadi sulit, mungkin satu-satunya cara adalah dengan inseminasi buatan.
Satu desah pelan kembali membelai bibirnya. Dia lelah, dan sekarang hal yang paling ingin dia lakukan adalah membersihkan diri dan berendam air hangat untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Di ruang tengah, Axel tengah mengeluarkan isi paket itu. Sebuah foto berbingkai dengan ukuran besar terlihat saat Axel mengeluarkannya dari dalam kotak.
Miller yang penasaran pun mendekat untuk melihatnya.
"Yang benar saja," celetuk Axel tidak percaya dengan foto yang dikirimkan oleh ibunya itu.
Mata Miller terbelalak saat melihat foto itu. Foto pernikahan mereka, tapi bukan itu masalahnya karena pose yang diambil adalah saat mereka tengah berciuman dengan cukup agresif di dalamnya.
"Haruskah aku buang saja?" tanya Axel menoleh pada Miller.
Miller menatap foto itu dan Axel secara bergantian. "Menurutmu mereka akan membiarkannya?" balasnya kembali bertanya--merujuk pada orang tua mereka.
Tepat saat itu juga ponsel Axel berdering tanda ada panggilan masuk dan itu dari ibunya saat dilihat.
"Speak of the devil," celetuk Axel lalu menerima panggilan itu.
"Apa fotonya sudah sampai? Bagaimana?" tanya Rachel dari seberang sana tanpa basa-basi.
Axel memutar bola matanya malas. "Norak," jawabnya langsung.
"Awas saja kalau kau membuangnya! Katakan pada Miller juga agar tidak macam-macam, dan kalian harus memanjangnya di ruang tengah! Aku akan memeriksanya kapan-kapan," ucap Rachel sarat akan ancamannya.
Axel mendesah kasar dan hanya bisa mengiyakan saja lalu tidak lama panggilan pun berakhir.
"Sepertinya tidak ada pilihan, bantu aku memanjangnya. Di sana," ucap Axel pada Miller sembari menuju dinding kosong dekat televisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Affection [21+ Mpreg, BL, Smut]
Ficção Geral[Revisi] Saat dua penerus organisasi mafia besar harus menikah karena terpaksa, bukan karena cinta. Sebagai seorang alfa, Miller tidak pernah menyangka bahkan tidak menyadari sama sekali bahwa Axel, bos mafia dari pihak musuh yang terkenal kejam itu...
![Affection [21+ Mpreg, BL, Smut]](https://img.wattpad.com/cover/207534207-64-k653120.jpg)