Bagian 27: Kejutan Sempurna

12.2K 874 84
                                        

Sampai di tujuan Axel melihat panitia pelaksana acara pelelangan itu sudah ditaklukkan oleh Reon dan bawahannya.

"Sudah semua? Jelaskan padaku secara singkat," tanya dan titah Axel.

Meski terlihat jelas kalau dia enggan menerima perintah dari Axel, Reon tetap menjalankan tugasnya dengan profesional.

"Mereka semua penipu dan dia adalah dalangnya, sekretaris tuan Karl. Mereka memiliki lebih dari satu duplikat, dan dia mengelabui tuan Karl dengan itu untuk bisa mencuri lukisan yang asli untuk dijual lagi atau melakukan penipuan lain seperti ini," jelas Reon.

"Pantas saja pemilik aslinya tidak terlihat." Seringai yang mengerikan tertarik di belah bibir Axel. Dia menatap wanita muda yang berstatus sebagai sekretaris tuan Karl itu.

Wanita itu jelas tidak nyaman dengan tatapan haus darah yang Axel tunjukkan padanya dan berusaha untuk menghindarinya.

"Bawa dia, habisi sisanya," titah Axel sembari berbalik dan menatap Reon yang masih dengan ekspresi kusutnya.

"Tidak perlu memasang wajah seperti itu. Kalian sudah bekerja dengan baik, bos kalian pasti juga akan senang," ucapnya sembari menepuk bahu Reon lalu berangkat pergi dari sana terlebih dahulu.

Setelah itu bersama bawahannya Axel membawa para penipu yang mereka tangkap ke ruang interogasi yang ada di rubanah gedung netral agar anak buah Miller juga bisa ikut serta dalam interogasi malam ini.

Ini akan menjadi debut ruang interogasi baru itu. Sayang Miller tidak bisa ikut menikmatinya.

Dari interogasi yang mereka lakukan selama berjam-jam akhirnya ada beberapa informasi penting yang mereka dapatkan.

1.) Sekretaris pemilik lukisan itu tidak ada hubungan langsung dengan orang-orang lain dalam komplotan penipu itu. Dia hanya kebetulan mengenal mereka lalu bekerja sama dengan mereka demi memeras uang dari bosnya sendiri; 2.) Komplotan penipu itu punya relasi dengan organisasi milik keluarga Byrne yang berhubungan dengan pengkhianatan distrik Utara juga kasus gubernur yang sama-sama gagal.

Dengan ini akhirnya Axel menemukan bukti-bukti, tinggal menunggu waktu untuk menggunakannya saja.

"Terima kasih sudah kooperatif dengan kami," ucap Axel mengakhiri interogasi dengan menodongkan pistolnya tepat di dahi pemimpin komplotan itu.

"A-ampuni aku! Aku akan melakukan apa pun untukmu! Aku akan memberikan informasi apa pun--"

Klek! Axel mengokang pistolnya.

Dengan ekspresi dingin dia menarik pelatuknya dan pria itu mati dalam sekejap.

"Nah! Siapa selanjutnya? Yang mau duluan angkat tangan!" serunya dengan riang sembari menatap para tawanan yang lain.

Mereka mulai berseru minta ampunan sembari beringsut dengan kaki yang dirantai.

"Oh kalian kan sudah tidak punya tangan, hahaha! Maaf-maaf, aku terlalu bersemangat," seru Axel lagi dengan tawa renyahnya yang terdengar mengerikan.

Bahkan untuk Gray dan anak buahnya yang sudah sering melihat sisi itu dari dirinya, kadang mereka tetap saja merasa ngeri sendiri.

"Aku tahu dia kejam, tapi apa dia selalu segila ini?" bisik Reon pada Gray.

Gray menghela napasnya sembari memejamkan matanya sesaat lalu mengangguk.

Reon juga memiliki bos yang sama kuat dan kejamnya, tapi tidak pernah sekali pun Miller melakukan hal seperti ini pada tawanannya selama interogasi.

Tidak hanya sadis, saat ini Axel terlihat sangat mengerikan. Dia tidak membiarkan orang-orang itu mati dengan mudah begitu saja. Dan dia terlihat sangat menikmatinya.

Affection [21+ Mpreg, BL, Smut]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang