Miller membawa seprai, selimut, dan pakaian kotor ke ruangan laundry untuk mencucinya.
Sembari menunggu mesin cuci di sana menyelesaikan pekerjaannya, Miller membuat secangkir kopi lalu menyalakan TV. Dengan begitu dia tidak akan tertidur lagi mengingat sudah tanggung jam segini.
Kurang lebih satu jam kemudian pekerjaan rumahnya itu selesai.
Merasa lapar Miller berniat untuk membuat sarapan sederhananya meski masih terlalu pagi untuk itu.
Saat keluar dari ruang laundry dan menuju dapur Miller melihat Axel yang tengah membuka kulkas lalu meminum air mineral dari sana.
Miller berjalan mendekatinya dan Axel pun menoleh. Dia hanya mengenakan celana dalam tanpa pakaian menunjukkan tubuhnya yang memiliki banyak bekas cumbuan juga gigitan Miller semalam.
"Sial, kau sengaja ya menunjukkan itu semua padaku untuk mengingatkanku pada sisi terburukku hah?!" batin Miller merasa sangsi melihat Axel saat ini. Nah, mungkin itu salahnya juga karena tidak memakaikan pakaian untuk Axel tadi karena merasa terlalu merepotkan.
"Dari mana kau?" tanya Axel santai dengan suaranya yang agak serak.
"Mencuci," sahut Miller seadanya.
Dia berjalan ke meja dapur lalu mulai bersiap untuk membuat sesuatu.
"Tidakkah terlalu awal untuk sarapan? Matahari bahkan belum terbit," celetuk Axel sembari berjalan mendekati Miller.
"Berisik ah, pakai bajumu dengan benar sana. Mau masuk angin kau?" sahut Miller setengahnya mengusir.
Mendengar itu Axel langsung teringat akan sesuatu lalu mundur perlahan. "Oke maaf, aku lupa. Aku tidak akan mengganggumu lagi saat memasak," ucapnya mengalah dan beranjak dari sana.
Meski merasa cukup kesal karena perbuatan Miller semalam Axel tidak merasa harus berlarut-larut di dalamnya.
Setidaknya mereka sudah berhasil menghindari kemungkinan terburuknya. Yang harus dilakukan mulai sekarang adalah lebih berhati-hati lagi.
Dia cukup terkesan saat bangun dalam keadaan tubuh yang sudah bersih dan hangat di balik selimutnya yang bersih.
Mungkin karena rasa bersalahnya Miller akan bersikap agak berbeda padanya setelah ini. Axel tidak mengharapkannya, tapi dia juga tidak mau terkejut jika asumsinya benar terjadi.
Axel berjalan menuju kamarnya untuk merebahkan tubuhnya di ranjangnya sendiri. Meski bisa bersikap biasa-biasa saja di depan Miller aslinya dia menahan nyeri dan pegal hampir di seluruh bagian tubuhnya.
Miller benar-benar gila semalam, bisa melewati malam dan masih bisa bangun pagi hari ini benar-benar terasa seperti keajaiban baginya.
Pengalaman paling mengerikan yang pernah dia alami sepanjang hidupnya.
"Sepertinya aku harus ke dokter lagi. Setelah aku pikir sudah mulai terbiasa, hal seperti itu malah terjadi," gumamnya sembari memejamkan mata.
Rasanya masih lelah, dari awal saat bangun tadi juga dia hanya meniat minum lalu kembali melanjutkan tidurnya.
Namun, saat baru beberapa saat memejamkan mata aroma harum dari roti yang dipanggang tercium begitu menggoda membuat perutnya keroncongan.
"Miller sialan, aku jadi tidak bisa tidur lagi," umpatnya dengan mata yang kembali terbuka.
"Ryder!" Panggilan itu datang dari balik pintu kamarnya.
Axel hanya diam dan malas untuk bangun lagi. Tidak lama terdengar pintu yang dibuka lalu langkah kaki yang berjalan ke arah ranjang. Sepertinya Miller hendak memastikan keadaannya sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Affection [21+ Mpreg, BL, Smut]
Fiksi Umum[Revisi] Saat dua penerus organisasi mafia besar harus menikah karena terpaksa, bukan karena cinta. Sebagai seorang alfa, Miller tidak pernah menyangka bahkan tidak menyadari sama sekali bahwa Axel, bos mafia dari pihak musuh yang terkenal kejam itu...
![Affection [21+ Mpreg, BL, Smut]](https://img.wattpad.com/cover/207534207-64-k653120.jpg)