Aku bahagia, melihat senyum manismu.
.
.
.
Sorakan menggebu di setiap permainan. Bersorak meneriaki tim pemain basket yang bertanding merebut bola untuk di masukan ke ring dan mendapatkan rekor.
Aku sebenarnya sedikit pusing tentang pertandingan bola basket, tapi aku diam nonton saja. Itu berkat Grizella yang memohon manja minta di temani. Katanya, ingin lihat cogan bertanding.
Aku melihat Grizella di samping kiriku, berteriak histeris bersama segerombolan cewek-cewek ketika tim pilihannya mencetak rekor. Lalu aku berahli lagi pada Riani, sahabatku yang hanya diam menikmati pertandingan.
"Tha.. Dari antar cogan-cogan yang lagi bertanding di lapangan sana, lo pilih mana?" tanya Grizella padaku.
Aku diam, lalu menyapu pandangan mengamati satu persatu wajah di lapangan sana yang nampak asing. Tapi, pandanganku berhenti tepat kepada seorang cowok di dekat lapangan sedang memegang camera dan sesekali memotret mereka bertanding.
"Gue lihat dia senyum Griz...!!" seruku girang. Grizella tersentak, keningnya naik sangat tinggi. Aku tidak perduli, aku melihat fenomena sosial itu. Si tas merah, cowok itu tersenyum puas saat melihat hasil jepretannya.
"Apa sih Tha?" tanya Grizella penasaran.
"Si tas merah... Gue lihat dia senyum, yaampun manis banget Griz...!!!" oke, aku sungguh girang. Tangannganku sampai terkibas-kibas untuk menghilangkan rasa bahagiaku ini. Tapi hasilnya nihil.
"Mana sih?" Grizella penasaran. Ia menyapu pandangan antusiasi, tapi detik kemudian mukanya cemberut.
"Mana? Gak ada tuh!" katanya kecewa.
Aku lihat ke arah lapangan. Tapi benar saja, tidak ada lagi si tas merah. Entah menghilang kemana?
"Tadi ada, gue gak salah lihat, beneran ada" kataku membela diri. Tapi Grizella mengabaikanku.
***
"Thalita... Lo mikirin apa sih?" tanya Ria saat melihatku senyum terus.
"Ada deh.." kataku girang, bahkan sedikit tertawa genit.
"Dia lagi di rasuki jin tas merah" sahut Grizella sedikit menyindir.
"Kalau iya kenapa?" kataku judes.
"Yehh.. Gue aja yang naksir dia deluan gak segitunya."
"Lain kamu lain aku.."
Aku lihat, Grizella mencibir tanpa suara, hanya mulutnya saja yang bergerak gak jelas. Kesal sih, tapi yah gak usah di ambil pusing. Mananya juga lagi bercanda.
"Kalian sebenarnya lagi ributin apa sih?" tanya Ria penasaran. Aku tersenyum, lalu di ikuti oleh Grizella. Senyum-senyum malu, aneh, gak jelas, dan gue bisa lihat kalau Ria jadi merasa geli.
"Permisi..."
Kami serempak menoleh ke kiri. Mataku segera membelalak tak percaya, jantungku betdebar gila, bibirku milai senyum-senyum getir lagi. Aku tau dia permisi mau numpang lewat. Udah jelas karena kita menghalang jalan. Kami pun, terbelah dua membuka jalan. Tidak berkomentar apa-apa, si tas merah langsung jalan melewati kami.
"Ini bukan mimpikan...!!" teriakku dan Grizella bersamaan. Kami bahkan melompat girang dengan jemari kami yang menyatuh. Ini gila. Setelah dia menghilang, kami berdua jadi salah tingkah sendiri.
"Oh.. Kalian lagi rebutin Devaro?" tanya Ria membuat aktifitas kami terhenti.
"Apa? Namanya Devaro?" tanya Grizella antisiasi. Ria mengangguk.
"Lo tau dari mana Ri?" tanyaku penasaran.
"Dia, kan, satu kelas sama gue."
Aku, dan Grizella segera berteriak girang. Kalau beginih mah, banyak peluang berarti. Ada alasan buat berpaspasan dengan si tas merah.
"Kenapa baru bilang sih Ri?" tanyaku girang.
"Kalian aja gak pernah tanya ke aku soal dia. Gimana gue mau beri informasi coba?"
~Battle For You~
KAMU SEDANG MEMBACA
Bettle For You
Kort verhaal~Rasanya perih, ketika cinta tak selamanya harus memiliki.~ {Wattpad, 2020} Selama tiga tahun, Thalita berjuang untuk mendapatkan hati Devaro. Bahkan ia harus bersaing terlebih dahulu dengan Grizella, sahabatnya sendiri. Dan saat Devaro mulai merasa...
