Beritau saja dia kalau aku suka sama dia.
.
.
.
Hari berikitnya. Aku selalu mencari si tas merah, Devaro namanya. Anehnya aku selalu senyum-senyum sendiri kalau lihat dia dari jauh. Anehkan? Bahkan orang asingpun pernah menegurku aneh. Gak urus yah..
"Tha.. Thalita...!!"
Grizella berlari ke arahku, sembil teriak-teriak gak jelas memanggil namaku. Aku malu, sumpah. Tatapan mereka yang ada di kantin tertuju padaku. Setidaknya aku sedikit senang saat Si tas merah melirik sejenak kepadaku. Selebihnya aku hanya menyengir meladeni mereka.
"Tha.. Tadi, Tha.. Gue ngobrol sebentar sama si tas merah" kata Grizella setelah duduk di depanku, jangan lupakan bahwa dia seenaknya meminum es teh manisku.
"Apa sih? Jangan kencang-kencang, ada dia di sini" aku memperingati, tapi Grizella acuh.
"Tadi, gue pura-pura tuh, nanya, Ria ada di kelas? Terus dia jawab gak tau, coba aja cek sendiri. Dia bilang begitu sambil masang muka datarnya" kemudian Grizella tertawa getir. Gue diam saja.
"Gue senang banget bisa ngobrol sama dia sebentar, walau terkeaan cuek tapi udah cukup buat gue dak dik duk.." lanjutnya sangat girang, sampai ia memompa tangannya di daya naik turun. Aneh, kan. Malunya, semua orang mandangin kita. Aku hanya bisa menutup wajah cantikku dengan telapak tangan.
"Griz... Mungkin kalau gue di sisi lo, gue juga senang. Tapi kalau senang, gak usah segininya kali Griz..!!" kataku pemuh penekanan di akhir kalimat.
"Lo lupa yah, kalau masih ada dia di situ?" tambahku, melirik Devaro yang sibuk menyantap mie baksonya. Aku jamin, hanya dia satu-satunya orang yang gak tertarik dengan kehebohan Grizella. Soalnya, dia sok misterius dengan gaya coolnya itu.
"Biarinlah, dia, kan, gak tau kalau kita lagi ngomongin dia" tukas Grizella acuh tak acuh.
Setelah itu, kami sibuk bercerita. Yang gak masuk akal. Tau ah, percakapan kita gak penting. Dan kemudian Ria tadang.
"Griz.. Gue dengar lo cariin gue yah?" tanya Ria saat pantatnya menyentuh kursi.
"Dengar dari mana?" tanya Grizella penasaran.
"Dari Devaro, dia bilang teman kamu yang paling suka heboh itu nyariin lo tadi."
"Dia bilang gitu?" Ria mengangguk.
"Kalian lihatkan.. Dia kenal gue... Dia kenal gue Thalita..!!" mulai lagi, kan. Grizella kelewatan girang. Suaranya sudah kaya toa sekolah.
"Enak yah?" kataku sedikit iri. Jelas lah. Teman Ria bukan hanya sati, ada gue juga. Tapi Grizella yang paling menonjol di mata Devaro. Saingan makin berat nih. Kalau gue gak beraksi, yah bakal gini-gini aja. Gak ada perubahan.
"Emang benar yah, lo cari gue?"
Grizella menyengir lebar.
"Heheh.. Enggak, gue hanya mau basa-basi aja sama si tas merah. Setelah tanya itu, gue langsung pergi, gak ke kelas lo kok."
"Yaelah, dasar modus. Gue laporin, nih sama Devaro.." ancam Ria. Grizella semakin tertawa.
"Laporin aja, biar dia tau perasaan gue tanpa gue ngasih tau" Grizella emang udah bucin. Tapi setidaknya gak usah ngomong gitu juga kali. Gak ingat apa ada aku di sini yang juga naksir sama Devaro.
Aku ngelirik, Devaro. Tapi, aku tersentak setelah itu. Devaro lihat ke arah sini. Pandangan kami sempat bertemu sebelum akhirnya aku memutuskan untuk membuang pandangan ke arah lain. Aku belum siap coy..
~Battle For You~
KAMU SEDANG MEMBACA
Bettle For You
Historia Corta~Rasanya perih, ketika cinta tak selamanya harus memiliki.~ {Wattpad, 2020} Selama tiga tahun, Thalita berjuang untuk mendapatkan hati Devaro. Bahkan ia harus bersaing terlebih dahulu dengan Grizella, sahabatnya sendiri. Dan saat Devaro mulai merasa...
