Putra mahkota Fu tiba di kerajaan TangXing ketika hari telah beranjak sore. Langit kerajaan TangXing kini dihiasi oleh goresan jingga kemerah - merahan yang nampak sangat indah dimata putra mahkota Fu.
Semilir angin sore berhembus menerpa dan menyapu kulitnya, putra mahkota Fu lantas memejamkan matanya dan menikmati angin yang berhembus di gasebo belakang kediamannya yang berada di istana timur.
Saat ia menikmati waktu yang tenang ini, Chyou datang dan membawa pesan kaisar Zhao yang memintanya menyusul Ayahandanya itu ke istana barat.
"Yang mulia putra mahkota, yang mulia kaisar meminta anda untuk menyusulnya ke istana barat saat ini juga" kata Chyou menyampaikan perintah kaisar Zhao
Kedua mata putra mahkota Fu yang sempat terpejam lantas terbuka lebar, ia berbalik menghadap Chyou dan menampilkan raut wajah tidak senang saat pengawal pribadi sekaligus teman kecilnya itu menyebut istana barat.
Istana bagian barat merupakan kediaman Fahrani. Selama ini putra mahkota Fu tak pernah mengunjungi tempat itu dengan sukarela kecuali jika Ayahandanya menurunkan perintah atau Ayahandannya memaksanya. Kebencian putra mahkota Fu sudah mendalam, bahkan akar kebenciannya kini sudah tak terhingga seberapa dalam ia terus merambat dan melebarkan anak cabang dari akarnya.
Kehilangan Ibunya diusia ia masih sangat membutuhkan sosoknya sangat membuat putra mahkota Fu sangat terpukul dan kehilangan. Alasan kematian Ibundanya adalah sosok adiknya hingga 14 tahun usia putri Fahrani, rasa benci itu tak kunjung surut ataupun hilang terkikis oleh waktu.
Kebenciannya pada putri Fahrani malah semakin bertambah seiring dengan segala prilaku yang ia tunjukan selalu membawa masalah dan petaka untuknya dan juga untuk kerajaannya. Tiada hari tanpa melakukan kegaduhan, sikapnya yang kekanakan dan manja selalu saja berhasil membuatnya sering kali tak mampu mengontrol emosinya. Selain membuat onar, fisiknya dan pengetahuannya sangat memalukan. Karena terlalu dimanja oleh kaisar Zhao, putri Fahrani selalu saja mengabaikan kewajibannya sebagai seorang putri.
Tak perlu membuang - buang tenaga untuk mengetahui maksud dan alasan kaisar Zhao memanggilnya, tentu saja hal itu tidak jauh dari putri Fahrani yang selalu menciptakan kegaduhan dan masalah untuk mereka. Karena terlalu sering berada disituasi yang sama dengan pembuat onar yang sama, hal itu membuat putra mahkota Fu terbiasa dengan kegaduhan dan masalah yang putri Fahrani ciptakan. Ia tak akan terkejut jika Ayahandanya memanggilnya untuk meminta bantuan ketika tak mampu menangani segala kelakuan dan perilaku buruk putri Fahrani.
"Masalah apa lagi yang gadis itu ciptakan? Tak bisakah ia berhenti membuat kegaduhan dan masalah sehari saja?" Tanya putra mahkota Fu tak mampu menyembunyikan nada geramnya.
"Yang mulia putri tidak membuat masalah apapun, Yang mulia putra mahkota. Hanya saja sejak pulang dari kerajaan TangShi hingga hari kembali malam, yang mulia putri tak kunjung keluar dari kamarnya" jelas Chyou
"Itu yang kau bilang bukan menciptakan masalah? Kau pikir dengan mengurung dirinya seperti itu tak membuat orang khawatir?" Tanya putra mahkota Fu yang langsung membuat Chyou menunduk dalam dan bergumam "bagi pengawal ini apa yang dilakukan yang mulia putri bukanlah sebuah masalah, kekhawatiran semua orang saja yang sangat berlebihan" lirihnya
"Apa yang kau bilang?" Tanya putra mahkota Fu yang langsung di balas gelengan oleh Chyou dan dengan cepat menjawab "pengawal ini tak mengatakan apapun" sangkalnya yang membuat putra mahkota Fu memincingkan matanya curiga karena ia jelas - jelas melihat teman kecilnya itu menggumamkan sesuatu.
Chyou menampilkan raut wajah tenang seakan ia memang tak mengatakan apapun agar putra mahkota Fu berhenti menatapnya curiga. Saat putra mahkota Fu mendesah dan melangkah lebih dulu meninggalkannya, saat itu pula Chyou akhirnya bisa bernafas dengan lega. Sedari tadi ia menahan nafasnya hanya karena tatapan putra mahkota Fu yang sangat mengintimidasi baginya.
.
.
.
Setelah melalui jalan utama menuju istana barat yang juga merupakan istana bagian dalam, kini putra mahkota Fu kembali menginjakan kakinya pada tempat yang sangat tak ingin ia pijaki ataupun singgahi.
Istana barat adalah kediaman sekaligus saksi bayi mungil berlumuran darah itu kini tumbuh menjadi gadis yang sangat ia benci. Bukan hanya karena ia lahir dengan harus mengorbankan nyawa Ibundanya, tapi ia juga terlahir dengan fisik dan pengetahuan yang sangat memalukan.
Tiada hari tanpa cercaan, hinaan atau makian semua orang lontarkan padanya, fisiknya yang sangat jauh berbeda dari kebanyakan putri dan nona muda diluar sana membuatnya selalu mendapat hujatan yang ikut berimbas pada kerajaan TangXing.
Tak ada yang gadis itu tahu selain hanya mengejar sang pujaan hati yang malangnya menolaknya di depan banyak orang. Entah sudah berapa banyak masalah yang ia ciptakan, entah sudah berapa banyak cacian, makian, hujatan dan penghinaan yang mereka dapatkan karenanya selama 7 tahun lamanya.
Sampai saat ini, dengan kebencian yang semakin hari semakin besar. Bagi putra mahkota Fu, gadis yang sangat tak ingin ia sebutkan namanya ataupun anggap sebagai saudarinya walaupun kerap kali kaisar Zhao, bibi dan juga pamannya bahwa ia adalah mei meinya, namun dimatanya ia masih seorang pembunuh!
.
.
.
.
.
TBC
Selasa 14 Januari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Empress [END]
Historical FictionSemua orang beranggapan, ia hanyalah beruntung terlahir dari keluarga kerjaan TangXin. Tak ada yang bisa di banggakan dari sosoknya, sikap arogan dan sombongnya, tubuh gendut dan riasan menor yang selalu ia poles pada wajah bulatnya membuat usianya...
![My Perfect Empress [END]](https://img.wattpad.com/cover/211095047-64-k694408.jpg)