Track#3 Resah jadi Luka

73 5 2
                                    

Resah menjadi Luka

Karena terbit merupakan sapaan dan tenggelam merupakan pamit yang dipaksakan walau dia enggan
- Irdistan Pratama

#Indie

Rintikan hujan desember menari indah dilangit kota. Memandikan jendela Bis kota yang gue tumpang sekarang.

Awalnya berniat mengantar gue sampai portal komplek rumah gue dalam 1 setengah jam seperti yang seharusnya, tapi waktu udah berlari sampai 3 jam dan bis ini masih terjebak di lampu merah yang sama seperti 1 jam yang lalu.

Ini semua akibat ketamakan orang-orang yang  menyerobot dan masuk ke jalur bis padahal mereka bukan bis.

Dan itu semua terjadi hanya karena hujan desember ini.

Gak tau kenapa, semenjak adu argumen dengan cowok sok tahu yang gue gak tau namanya itu, gue jadi memandang hujan dengan persepsi yang beda dari sebelumnya.

Yang pertama, Hujan yang malang. Dan yang kedua, Hujan yang jahat dan bodoh.

Terimakasih kepada cowok sok tahu itu. Gue jadi memandang sesuatu dengan sudut pandang yang lebih terbuka.

Tapi entah kenapa, setiap melihat hujan, gue jadi inget satu judul lagu.

Bukan, bukan angin pujaan hujan.

Tapi Resah jadi Luka.

Gara-gara argumennya yang bagus, gue lengah dan membiarkan lagu jahat itu masuk ke playlist gue.

Gue gak pernah nyangka kalo orang itu suka lagu indie apalagi yang sejenis Resah jadi Luka. Brengsek emang.

Kalo lo nanya kenapa gue sekesel ini, itu karena lirik lagu itu sangat amat menggambarkan pesan gue untuk Damar walau enggan gue utarakan.

Mungkin alam semesta tak menerimanya
Dan waktu tak memberi kesempatannya

Tapi setidaknya kau telah merubahku dari resah menjadi luka...

Hell No. Pesan yang mungkin Damar sendiri akan pusing untuk paham isinya, karena dia itu anak hukum bukan anak musik ataupun sastra.

Dan pesan terakhir gue untuk Damar dari lagu ini,

Namun aku akan tetap disini
Menunggu alam semesta menerima
Dan angin membawakan jawabannya
Karena Detak jantungku dan nadiku akan
selalu Merindukanmu

Suatu larik bodoh yang menggambarkan seberapa naif dan kerasnya diri gue.

Bis berhenti di pemberhentian bertepatan dengan terjebak macet.

Masih jauh banget. Gue mendengus. Pembuatan jalan khusus bis yang kurang cermat berakhir merepotkan bagi khalayak orang banyak.

Seharusnya jalur bis di tembokin aja kayak jalan tol.

Gerutuan batin gue berhenti saat mata gue terperangkap pada atensi yang menyadari keberadaan gue juga.

Dia menatap gue dari jendela dan berlari masuk ke bis.

Mata kami enggan berpaling. Seolah emang seharusnya kami terus menatap, biar gak kehilangan.

Apaan sih?

Gue mengerutkan kening. Baru menyadari sesuatu yang salah.

Ngapain dia naik bis ini? Gue yakin dia tadi lagi jalan bersisian sama bis dan gak ada gerakan ataupun gestur tubuh yang mau naik bis.

Dia juga ngapain duduk disebelah gue? Kayak gak ada tempat duduk lain.

Padahal kita berdua gak deket.

INDIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang