"Ma, Yerin langsung berangkat ya!", Yerin tiba-tiba muncul dari atas tangga sambil berlari. Mamanya yang saat itu masih sibuk menyiapkan sarapan seketika menghadang putrinya itu dan menarik kerah seragamnya.
"Masih pagi, makan dulu", titahnya sambil menyeret paksa Yerin. Saat di meja makan, ia menekan pundak gadis itu untuk duduk di kursi.
"Maa, tapi Yerin ada ujian. Belum belajar nih", tolak Yerin sambil merajuk. Mama Jung melirik putrinya itu sekilas lalu mengoleskan selai nanas kesukaan Yerin pada selembar roti.
"Suruh jawab oppa-oppa mu yang setiap hari kamu tonton itu. Biar mereka ada manfaatnya", celoteh Mama Yerin yang membuat wajah anak gadisnya itu langsung memerah karena menahan amarah. Mood Yerin akan berubah drastis ketika ada yang menjelek-jelekkan idolanya. "Mama kenapa sih?. Bang Hoseok aja tiap hari main game. Tapi-"
"Tapi nilainya bagus-bagus, gitu maksud kamu?", potong Mama Yerin cepat-cepat. Yerin langsung terdiam. Tadinya sih Yerin mau protes. Kakaknya itu jarang sekali mendapat omelan dari Mamanya. Jadi, kalau sudah menyangkut nilai, peringkat, dan tetekbengeknya itu, Yerin lebih memilih untuk diam. Dia sadar betul kalau otaknya memang pas-pasan.
"Ada apa nih, tumben pada diem-dieman?", Hoseok turun dari tangga sambil menenteng tas punggung dan terlihat sibuk dengan handphonenya. Yerin meringis, apa-apaan sikap kakaknya itu?. "Loh, kamu perginya pagi?", Hoseok mengangguk dan menarik kursi di samping Yerin lalu mendudukinya. "Aku ada kuliah pagi, Ma", jawab Hoseok sambil mencomot roti selai milik adiknya itu. Yerin merenggut, mengetahui roti miliknya telah berada di mulut besar Hoseok. Ia reflek menampar lengan kakaknya itu sampai tersedak.
"Durhaka ya lo sama gue!. Abang sendiri juga masih maen geplak-geplak aja lo", Yerin menjulurkan lidahnya. "Bodo amat!", ujarnya sambil merebut kembali rotinya yang tinggal secuil dari tangan Hoseok. Ibu mereka yang menyaksikan tingkah absurd kedua anaknya itu hanya menggeleng-geleng. Sikap Yerin sama sekali tidak ada bagus-bagusnya sebagai seorang gadis remaja. Dan kebetulan, baru saja terlintas dipikiran Mama Jung kalau Hoseok dan Yerin lahir di waktu yang sama. Tapi itu jelas tidak mungkin.
"Yaudah, kalau gitu kalian berangkat bareng aja", kata Mama Jung memberi pendapat. Kali ini Yerin yang tersedak rotinya sendiri. "Nggak mau ah! Mobil Bang Hoseok kan gampang mogok", tolaknya mentah-mentah. Hoseok menatap tidak percaya pada Yerin. Mulut adiknya itu sama sekali tidak ada filternya. "Mogok karna lo numpang ya", sergah Hoseok cepat.
"Tau ah. Yerin mau berangkat sama Taehyung aja", kata Yerin yang setelah itu mencium kedua pipi Mamanya. Ia melenggang pergi begitu saja seperti tidak menganggap keberadaan Hoseok yang duduk di sampingnya. Kalau sudah seperti ini, Yerin pasti sedang kesal, dan Hoseok sudah hafal betul tingkah adiknya yang satu ini. Entah karena apa, tapi Yerin memang seperti itu. Masih sering moody.
"Ma, nikahin aja sih si Yerin. Siapa tau bisa tobat", katanya asal sambil melanjutkan acara mengunyahnya. Mama Jung hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata anak sulungnya itu.
"Emang kamu mau dilangkahin sama Yerin?", kata Mama Jung sambil mengoleskan selai nanas di permukaan selembar roti panggang. Hoseok berusaha untuk tidak tersedak lagi. Ia cepat-cepat menghabiskan sisa roti di mulutnya lalu meminum air secepat mungkin.
"Ma, please deh. Aku cuma bercanda kali"
💜💜💜
"Tae....! Taehyung......!", Yerin berteriak di depan pintu gerbang rumah Taehyung, ia dengan percaya dirinya menganggap suaranya sudah layak disandingkan dengan suara merdu Adele si Diva legendaris itu. Ini masih pukul 6 pagi dan nyatanya Yerin sudah membuat keributan dengan suara toanya itu. Ia memanggil Taehyung beberapa kali, sampai yang keempat kalinya belum ada tanda-tanda gerbang itu terbuka atau seseorang yang menyahut dari dalam.
