J

350 48 2
                                    


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜

"Lo yakin Rin?"

Yerin mengangguk mantap mendengar pertanyaan Joy yang terkesan ragu-ragu. Oke, sebenarnya Yerin juga tidak begitu yakin dengan anggukan kepalanya. Dia hanya asal menyetujui.

Yerin menatap sejenak pintu kaca buram di hadapannya itu dengan hati yang sedikit berdebar. Di dalam sana adalah tempat paling khidmat dan terjaga di sekolah ini. Jadi ia sedikit sungkan.

Ini yang kesekian kali. Bagi Yerin, masuk ke tempat itu seperti mengubah sesuatu dalam dirinya. Sikap bar-barnya?. Hm, mungkin saja.

Mereka masih berdiri di depan kelas Daniel dengan Yerin yang membawa dua buku sains tebal di tangannya. Ternyata itu adalah buku Daniel yang dipinjam Joy tiga hari lalu.

"Lo nggak usah ikut masuk, ok?"

Itu bukan pertanyaan!, teriak Joy dalam hati. Bagaimana mungkin?. Pasalnya Yerin langsung pergi sebelum ia sempat menjawab. Menurut Joy, pertanyaan harus ada jawabannya. Tapi Yerin selalu menolak argumennya itu langsung dengan tindakan yang semena-mena.

Joy menghela napas gusar. Bukan apa-apa, dia cuma takut kalau seandainya terjadi sesuatu. Apalagi sekarang mereka ada di kelas Daniel dan banyak orang sedang berkumpul disana.

Joy tahu Yerin memang bukan orang yang mudah sakit hati dan ia sama sekali tidak khawatir tentang itu.

Dia hanya takut kalau Yerin mendapatkan konsekuensi yang lebih dari sekedar 'tetap diabaikan Daniel' seperti yang sudah-sudah. Jujur saja, ketakutan Joy berkali-kali lipat dari itu.

Ya Tuhan, sekarang Joy harus minta bantuan siapa???

Dari dulu, Joy pikir ada lebih dari seribu alasan untuk Yerin harus menjauhi Kang Daniel. Tapi gadis itu sangat keras kepala dan terlalu percaya dengan hal-hal kuno dimana dia akan mendapatkan apa yang ia mau karna ketekunan dan kerja keras.

Oh ayolah, Jung Yerin. Mendapatkan Daniel bukan semata-mata seperti meraih peringkat di sekolah ini.

Karna kenyataannya, Kang Daniel, orang yang disukai Yerin itu, adalah bintang paling terang di sekolah ini.

💜 💜 💜

Suasana kelas Daniel yang biasanya terkenal penuh ketenangan karna penghuninya yang 'gila' belajar, kini hanya dalam beberapa menit berubah menjadi sepi dan mencekam.

Jangan ditanya lagi. Keadaan itu dengan alami tercipta setelah gadis berkuncir kuda yang terlihat sangat familiar tiba-tiba masuk dan menyapa 'Pangeran' mereka dengan wajah yang sumringah.

Namun tidak seperti biasanya, kali ini nampaknya sang 'Pangeran' tidak dalam mood yang baik. Jangankan membalas sapaan atau tersenyum, ia secara kasar mengambil buku-bukunya dari tangan gadis itu.

"Lo nggak malu ngejar-ngejar gue terus?", mata Yerin berkedip beberapa kali lalu menggeleng dengan polosnya.

Sekarang Daniel seperti bersungguh-sungguh. Jadi Yerin sedikit berdebar ketika ia menatap dalam mata monolid paling indah yang pernah ia lihat itu. Serius, Yerin bahkan bisa tenggelam walaupun ia tidak sedang bermain air.

Yerin masih tetap diam seribu bahasa. Bagaimana ya cara menjelaskannya?. Walaupun kata-kata Daniel jauh dari kesan 'baik', tapi Yerin sudah senang setengah mati. Dia ingin berteriak, tapi kebiasaannya itu harus ia tahan mati-matian.

Ingat, dia harus terlihat baik di depan Kang Daniel, cintanya.

Btw, ini pertama kalinya Daniel mau berbicara sedikit lebih panjang dari biasanya. Jadi, wajar saja kalau sekarang Yerin dibuat speechless.

YERIN! [KTH-JYR]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang