Lututku lunglai. Aku terduduk dengan kedua lututku ditengah lapangan. Hujan mengguyur deras membasahi tubuhku yang semakin lemah. Sakit dikepalaku kian terasa. Dan air mataku... jatuh.
Ingatan itu perlahan menyerbu kepalaku yang sakit akibat alkohol kemarin malam. Memori akan Mas Awan, taman ditengah kota, dan... Mama.
Mama?
Sudah berapa lama aku tak mengingat Mama?
Air hujan menyamarkan tangisanku. Aku tak sanggup berdiri. Kini tubuhku terlihat jelas dibalik seragam yang basah tanpa kaos dalam. Dingin semakin menusuk. Pandanganku mulai buram.
Samar, kulihat siluet seseorang didepanku. Dia berjongkok dengan satu lutut kakinya menapak tanah. Mas Awan?
Dia memegang pundakku. Entah apa yang di komat-kamitkan olehnya. Gendang telingaku terasa tersumbat karena hanyut menyerangku, atau entah karena berisik hujan yang deras. Mas Awan mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu.
"Maaf, Mas baru pulang sekarang."
Air mataku jatuh semakin deras seiring dengan turunnya hujan. Ya, aku ingat suasana ini. Mas Awan dan taman kelam ditengah kota. Kala itu, aku memeluk Mas Awan. Berharap rasa sakitku menghilang dalam pelukan Mas Awan.
Sekali lagi, setelah sekian lama. Aku kembali memeluk Mas Awan. Mendekapnya erat setelah sekian tahun absennya sosok kakak dari hidupku. Aku menghadapi semua itu sendiri. Perginya Mas Awan, disusul kepergian Mama selamanya dari dunia.
Masih kuingat aroma ini. Aroma mawar dan kayu manis khas Mas Awan. Aku merasakan itu lagi. Aku kembali merasa seperti anak-anak. Rasa sakit itu hilang, kesedihan itu hilang dalam dekapan Mas Awan. Memeluknya erat seperti adik yang kehilangan kakaknya setelah sekian lama. Ya, memang itu yang kurasakan. Aku rindu Mas Awan. Aku tak sanggup membohongi diriku lebih lama.
Para siswa terheran-heran melihat seorang siswa hujan-hujanan ditengah lapangan bersama seorang guru baru. Dua makhluk paling tampan di sekolah. Hal itulah yang terakhir kuingat. Semuanya hitam.
***
Aku terbangun. Membuka mataku sangat berat rasanya. Sakit dikepalaku mulai sedikit mereda. Namun lunglai di tubuhku masih terasa.
Ini ruang UKS, tidak salah lagi. Kutebak aku pingsan saat menyusuri lapangan tadi pagi. Aku meminum teh hangat disamping ranjang. Ahhhh nikmat rasanya. Dingin akibat hujan tadi perlahan hilang.
Itu mengingatkanku. Tunggu dulu!
Aku membuka selimut. Dan betapa terkejutnya aku mendapati baju dan celanaku sudah berganti dengan kaos dan celana panjang.
"Main minum-minum aja. Emang itu teh buat kamu?" Mas Awan masuk menyelonong dari balik tirai.
"Emang buat siapa lagi?" sahut ku ketus. "Kenapa Mas Awan harus selalu dateng tiba-tiba abis gantiin bajuku sih?"
"Ya jangan tanya Mas lah, tanya yang diatas." Jawab Mas Awan setengah tertawa.
Ake kembali menghirup teh hangatku. Menghiraukan Mas Awan yang duduk sambil menatapku dari sisi ranjang.
"Apaan sih liat-liat?" tanyaku judes.
"Ge-er banget."
"Terus itu ngapain?"
Dia terdiam sesaat.
"Itu ada belek."
Aku langsung buru2 mengusap kedua mataku. Aneh, tak kutemukan apa2. Mas Awan tertawa sambil geleng2 kepala. Kakak kurang ajar.
"Hahaha... kamu tu ternyata gak berubah ya. Penampilanmu aja yang badboy." Sial. Bahkan sampai sekarang masih aja dia suka ngerjain adik nya yang polos tanpa dosa ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Boys in Boots : Lucifer
Teen FictionKisah cinta antara guru dan murid SMA. -cerita ini mengandung unsur LGBT, jadi tidak dianjurkan buat yang homofobik. -serial pertama dari big novel yang akan dibuat dimasa mendatang. -akan ada sedikit unsur sex bernuansa bromance atau kakak adik. **...