"Ini sudah yang kesekian kalinya Ricky."
Jika bukan karena aku yang sudah cukup dekat dengan guru yang satu ini, tidak mungkin aku akan hanya mendengarkan ceramah beliau sambil berkeliling ruangan mengamati piala-piala yang tersusun rapi hampir di setiap sudut. Biar kuingat, apa ini yang ketiga? Kelima? Kesembilan? Ah masa bodoh, aku sudah hafal dengan semua perkataan beliau.
Bu Rima mendesah pasrah. Bukan karena celotehan beliau yang tak kunjung kudengar. Well, salah satu nya pasti. Tapi kali ini pasti karena hal lain, hal yang lebih besar. Bu Rima adalah guru BP paling disegani di sekolah ini, bisa dibilang beliau tahu hampir seluruh latar belakang siswa di setiap kelas. Dan jika salah seorang siswa berurusan dengannya, itu artinya masalahmu bukan masalah biasa, seperti aku.
Tapi, bisa dibilang aku tak punya masalah apa-apa. Selain karena Papa yang rutin menjadi donatur di tiap acara atau keperluan sekolah, aku pun bukan anak yang terlalu bodoh kupikir. Lalu apa alasan ku bisa berada disini untuk kesekian kalinya? Ya, mungkin dunia tak bisa lepas dari drama kehidupan mereka. Orang-orang selalu mengikuti orang lain. Lingkaran. Tanpa ujung. Ketika umurmu menginjak 6 tahun kau harus mulai masuk sekolah, mengikuti tiap pelajaran membosankan walau sebenarnya waktu yang paling kau tunggu adalah waktu istirahat untuk bermain bersama teman-teman ingusanmu. Tiap sore kau harus tidur siang walau sejujurnya keinginan terbesarmu di pukul 3 sore adalah bermain game bersama anak-anak satu komplek. Menginjak usia ke-16, kau harus menjadi yang nomor 1 di kelas. Aktif di berbagai organisasi atau menjadi murid kebanggaan beberapa guru senior agar nilai rapot mu dapat terjamin tidak bertuliskan dengan warna merah, walau sejujurnya keinginan mu hanyalah sekedar nongkrong dan mendapatkan obrolan bermakna dengan sahabat-sahabat dekat mu, atau mengejar cewek idola di sekolah. Dan ya, semua itu akan terus berlanjut hingga kau dewasa, tua, dan mati. Tidakkah itu membosankan?
Lalu sekali lagi, apa masalahku hingga bu Rima si guru BP senior yang terhormat ini rela menangani aku yang kupikir innocent ini?
"Ibu tahu kamu bukan anak bodoh Ricky."Tunggu dulu, kalimat ini berbeda dari kalimat yang biasanya kudengar. Maksudku, disaat seorang siswa berbuat kesalahan dan harus mendengar ceramah panjang guru BP yang dapat mengurangi sepersekian jam hidupmu, mereka akan mengatakan 'sekolah kita punya aturan', atau 'ini sudah keterlaluan', atau 'pihak sekolah akan memanggil orang tua mu', seperti yang biasanya kudengar. Lalu apa Papa tidak akan datang hari ini? Well, itu bagus kurasa.
"Bahkan jika Ibu memberikan satu lembar soal UN tahun lalu Ibu tahu kamu akan menjawab semuanya dengan mudah. Tapi hanya karena kamu tahu kamu mampu melakukannya bukan berarti kamu bisa bertingkah seakan kamu bukan siswa disini." Harus kuakui, beliau menarik perhatianku dari piala-piala bodoh ini.
"Papamu, dia rela mengorbankan apa saja agar kau bisa melanjutkan sekolah. Teman-teman, sahabat, bahkan banyak gadis yang mengagumi mu Ricky." Kali ini aku tersenyum sungging, bukannya mengejek beliau, hanya saja pernyataan itu tak dapat kutebak sebelumnya.
"Saya hanya bosan, bu. Itu saja. Tiga hari bolos gak akan ngehancurin masa depan saya kok. Lagipula, cewek-cewek itu bukan kagum sama diri saya, tapi sama uang saya."
"Uang Papa mu, Ricky." Beliau melepas kacamatanya. "Dan ini bukan pertama kalinya kamu bolos beberapa hari berturut-turut. Kemana saja kamu?" Aku hanya mengangkat bahu dan menyeringai. Ya, pertanyaan itu tak harus kujawab. Urusan anak muda.
"Ibu harus apa lagi, Ricky?" Beliau tertunduk lesu. "Jika Ibu mu ada disini mungkin akan lebih mudah." Benarkah ini? Bu Rima, terisak? Bukan hanya aku yang kaget dengan apa yang barusan beliau katakan kurasa, beliau pun demikian.
"Ricky, kalau kamu memang marah pada semua ini, pada semua yang terjadi pada hidupmu, setidaknya jangan mengecewakan orang-orang yang masih peduli padamu. Jika Ibu berada di posisi Ibu mu, Ibu tidak akan bangga dengan tingkah laku mu seperti ini."
"Tolong jangan bawa-bawa Mama."
"Setidaknya, Ricky.... lakukanlah apa yang menurut kamu dapat membuat Mama mu senang."
Masih terlalu sungkan bagi ku untuk memanggil Bu Rima dengan sebutan bude lagi. Seingatku saat zaman sekolah dasar dulu tak pernah aku kenal dengan yang namanya sungkan. Bahkan Bu Rima, yang saat itu ku kenal dengan sebutan bude sudah kuanggap seperti Ibu sendiri. Mama dan Bu Rima memang tak punya hubungan darah, tapi Mama pernah cerita kalau mereka sudah akrab sejak sekolah dasar, dan tak pernah terpisah hingga..... ya, hingga kejadian itu.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Boys in Boots : Lucifer
Novela JuvenilKisah cinta antara guru dan murid SMA. -cerita ini mengandung unsur LGBT, jadi tidak dianjurkan buat yang homofobik. -serial pertama dari big novel yang akan dibuat dimasa mendatang. -akan ada sedikit unsur sex bernuansa bromance atau kakak adik. **...