"Gimana rasanya di pelontos, Mas?" Mas Awan langsung berbaring di sofa. Melihat rambut botak dan kulitnya yang kini semakin gelap terpapar sinar matahari bukan iba yang kurasakan, tapi justru tergelitik. Hahaha memang aku adik yang durhaka.
"Pulang-pulang langsung pengen ngadem kesini kata Awan tuh." Bude terkekeh sembari meletakkan beberapa bungkus plastik makanan ke meja makan. Asik, ada cendol. Bude menghilang ke dapur. Yang kayak gini nih, pasti sebentar lagi akan ada makanan enak.
Aku mendekat, menatap mas Awan yang kelelahan dari sisi sofa. "Mas kayak kuli." Dia hanya dapat menggumam dengan tenggorokannya yang kuyakin sudah tandus. Seluruh kancing bajunya kini terbuka. Sungguh, dia seperti pekerja rodi saat ini. Sekejam itukah ospek SMA? "Cendolnya ku abisin looo." Aku berteriak sambil berlenggang menuju es cendol ku di meja makan.
"Abisin aja, tapi gak usah pinjem PSP ya nanti sore." Sial, aku lupa bahwa seluruh hidupku sekarang bergantung pada PSP Mas Awan yang selama ini selalu kupinjam hampir tiap hari.
"Halah-halah gak looo, becanda. Gitu aja marah." Aku duduk di sofa, berhadapan dengan mas ku yang sekarang jadi kuli.
Bude datang. Es cendol lainnya kini mendarat di hadapan Mas Awan. Satu di tangan ku, satu lagi di tangannya.
"Emang ngapain aja sih sampe item gitu? Perasaan aku dulu cuman dikasih tugas terus besoknya dikumpulin. Terus udah, besoknya udah belajar."
Mas Awan menyedot cendol nya hingga habis setengah gelas dalam satu sedotan. Gila ini orang, beneran jadi kuli kayaknya. "Disuruh lari 100 putaran."
Kini giliranku yang tersedak oleh cendol sendiri, dengan mata melotot menatap Mas Awan. Sungguh? Sekejam itukah?
"Push up 1000, sit up 1000, di suruh lari bolak balik komplek sekolah, terus nyuci cabe sampe warnanya jadi putih." Sial, lebih kejam dari itu ternyata. Pupus sudah semangat ku untuk menamatkan jenjang SD dan SMP. Mungkin lebih baik untuk tetap dirumah. Main game tiap kali Mas Awan dan Bude datang dan meminjamkan PSP nya pada ku. Atau main bola sama anak-anak komplek sebelah sampai aku jadi pesebak bola terkenal dan menghasilkan banyak uang seperti Ronaldo atau David Beckham. Tapi bagaimana jika Mas Awan tidak lagi datang ke rumah seperti biasanya? Bagaimana nasib ku tanpa PSP-nya? Sial!
"Lebay Mas mu tuh." Bude datang lagi dengan semangkuk penuh surabi manis. Sudah kubilang kan, akan ada makanan enak. Mas Awan hanya terkekeh mencibir kepolosan ku yang bisa-bisanya percaya pada penjelasannya barusan. Kakak kurang ajar.
"Orang dia tadi mau pingsan, sampe senior harus bopong dia buat istirahat di UKS sampe pulang. Padahal baru dijemur beberapa jam." Bude menjatuhkan anaknya sendiri.
"Beberapa jam? Itu udah hampir dua jam, ma. Dan senior-senior itu malah asik-asikan di bawah pohon sambil ngasih perintah ini itu. Maaf aja, Awan bukannya capek. Cuman males aja melihat ketidakadilan dan kesenjangan lingkaran setan-setan itu." Sambil menjumput surabi, Mas Awan tak mau kalah dengan ibunya sendiri, dan Bude hanya mendesah sambil menatapku yang cekikikan.
"Mama mu belum pulang, Ki?"
"Udah kok, Bude. Di belakang tuh nyiram taneman."
"Nyiram taneman? Tumben-tumbenan?"
" Taneman yang kemaren Mama kasih dari Bali, Ma. Kamboja. Masa udah lupa sih." Oh jadi itu kamboja. Tanpa bunga, pohon kecil itu terlihat seperti pohon Bonsai yang ada di ruang kerja Papa. Tapi tidak masuk akal juga jika pohon bonsai di tanam di halaman belakang rumah.
"Oh iya, Bude nyamperin Mama mu dulu kalo gitu, yah." Bude berlenggang riang ke halaman belakang. Haha, Bude sudah seperti mama kedua buat ku. Tingkah nya sangat lucu, seperti emak-emak komplek dalam drama komedi RCTI. "Sisain surabi nya ya Awaaaan." Bude berteriak dari halaman belakang.
Untuk sesaat kami kembali fokus pada cendol masing-masing dan surabi manis yang dibawa Bude. "Pinjem PSP dong, Mas." Tanpa aba-aba, mulutku yang penuh surabi langsung mencerocos memohon pada Mas Awan, pada PSP nya maksudku.
"Gak bawa, mana dibolehin bawa PSP ke sekolah, pas OSPEK lagi." Yahhh. Kecewa. Oke, akan kukeluarkan jurus maut ku. Seketika aku langsung diam dan cemberut. "Dan itu gak akan berhasil buat bujuk aku ngambil PSP ke rumah buat kamu." Ah sial, gagal.
"Ayolah mas, aku bosen looo udah gak ngapa-ngapain seharian." Aku semakin memelas, mengharap belas kasih.
"Oke oke..."Mas awan menatapku sesaat. Es cendolnya kini telah ludes, beserta tiga es batu yang tadinya masih ada disana. "Tapi kamu harus nginep malam ini, lagian besok kan juga libur." Yessss. Hahaha, akhirnya aku bisa puas main PSP semalaman. Bersama Mas Awan di kamarnya. Malam ini, akan kuhabiskan seluruh waktuku untuk main PSP Mas Awan, bahkan jika itu berarti harus tidak tidur semalaman. Cendol ku ludes dan beralih pada surabi manis. Tunggu dulu...
Bude kembali dengan wajah masih ceria. "Loh, surabi nya mana?" Well, tidak seceria tadi kurasa. Dan Mas Awan hanya tersenyum manis dengan mulut tersumpal dua, bahkan mungkin tiga atau lebih surabi manis. Aku tertawa terbahak-bahak. Bude, hanya bisa pasrah menatap mangkok surabi yang kini kosong. Kakak kurang ajar.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Boys in Boots : Lucifer
Fiksi RemajaKisah cinta antara guru dan murid SMA. -cerita ini mengandung unsur LGBT, jadi tidak dianjurkan buat yang homofobik. -serial pertama dari big novel yang akan dibuat dimasa mendatang. -akan ada sedikit unsur sex bernuansa bromance atau kakak adik. **...