Gelas ke sekian muncul di hadapan ku. Aku tidak ingin teler malam ini, aku perlu semua pikiranku untuk memastikan apa yang terjadi tadi siang. Mas Awan? Pak Kurnia? Mungkinkah mereka orang yang sama? Fuck, tidak mungkin. Maksudku, hanya karena mereka punya nama yang sama bukan berarti mereka orang yang sama bukan? Ada lebih dari satu Ricky di sekolah, jadi tidak mungkin hanya ada satu Kurniawan Sanjaya di dunia ini. Benar kan?
Lagu lain diputar di speaker dengan volume keras. Aku menenggak minuman yang baru saja ku pesan. Kaki ku tidak berhenti bergerak. Semakin heboh saja di belakang sana. Lampu-lampu warna warni berputar ke segala tempat. Para penghuni dunia malam melompat dan berjingkrak di dance floor. Laki-laki, perempuan, laki-laki setengah perempuan, bergumul menjadi satu. Kadang saling cium pipi, kadang pelukan mesra, atau sekedar pura-pura tanpa sengaja saling senggol bagian tubuh sensitif masing-masing.
"Woy!" seseorang menepuk bahu ku dari belakang.
"Adan. Gua kira gua digodain banci lagi." Balas ku santai.
"Anjir lu. Udah ganteng begini masa dibilang banci." Bak model papan atas, Adan dengan bangga memamerkan jaket branded nya. Walau harus ku akui, dengan tampang seperti itu, para wanita mendekatinya hanya karena mengira Adan adalah orang kaya. Well, dia memang terlihat seperti orang kaya.
Aku kembali menenggak gelas ku.
"Gak nimbrung, Rik? Anak-anak pada asik tuh. Ada yang enak cooyyy." Adan menunjuk table di sisi lain. Dia benar, semuanya berkumpul disana. Mungkin sekitar delapan hingga sepuluh orang. Ada beberapa wajah yang tidak ku kenal, para perempuan yang menggunakan pakaian re-cycle alias serba kekurangan kain. Ah, aku sedang tidak terlalu bersemangat malam ini.
"Gua nyusul deh." Alasan klasik ku muncul. Masih mempertahankan pantatku di kursi bar.
"Taik lu, Rik. Lu bilang nyusul tapi nanti lu pulang, lu pikir gua gatau. Ayolah, yang baju merah keppo sama lu tuh." Aku kembali menatap kerumunan teman-temanku. Perempuan dengan jaket merah oversize dan celana se paha melirik ku sesaat, lalu tersenyum singkat.
"Anjirrr, di kodein tuh, Rik"
"Buat lu aja, dan." Aku menenggak gelas ku hingga habis.
"Ah, ga asik lu coy. Lu ada apa sih?" Adan penasaran. Hilang sudah ketenanganku di tengah keramaian ini.
Aku diam. Mengambil dompet di saku celana ku dan membayar dua gelas minuman ku.
"Gara-gara si Tika ya? Lu berantem lagi sama Tika? Hahaha. Mungkin udah saatnya lu udahan sama Tika coy. Buat gua aja lah. Gua jamin deh Tika bakal bahagia kalo sama gua."
Kadang cowok bernama Adan ini memang berengsek. Mungkin dia pikir aku adalah teman dekatnya, tapi tidak. Bahkan aku hampir tidak tahu latar belakang cowok cerewet ini. Selain sering bertemu dengannya tiap malam minggu di club-club malam, aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Dan dia pikir dengan sifat itu dia bisa mendapatkan cewek secantik Tika? Orang bodoh semakin banyak saja.
"Sorry, bro. Gua gak bisa bayarin table lu dulu malam ini. Lu cari temen lu yang lain aja. Tuh gua beliin minum segelas." Aku langsung pergi meninggalkannya sendiri di bar. Jika kalian tahu ekspresi orang tertangkap basah, seperti itulah wajah Adan saat ini. Mungkin tertampar dengan perkataanku barusan.
Aku berjalan menembus kerumunan. Tak memperdulikan alkohol yang sudah menguasai kepalaku. Bau alkohol dan asap rokok menyerbak di segala tempat. Setengah mati, kubawa langkah kaki ku sempoyongan menuju pintu keluar. Yang benar saja, ini baru jam 11 malam.
Bukk!
Aku menabrak sesuatu. Semuanya hitam.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Boys in Boots : Lucifer
Ficção AdolescenteKisah cinta antara guru dan murid SMA. -cerita ini mengandung unsur LGBT, jadi tidak dianjurkan buat yang homofobik. -serial pertama dari big novel yang akan dibuat dimasa mendatang. -akan ada sedikit unsur sex bernuansa bromance atau kakak adik. **...