Chapter 5 : Rain

269 14 0
                                        


"Rik... Woy, Rik..."

"Mmmhhh..." aku menggumam.

"Bangun, gila. Ini lagi kelas malah tidur aja lu." Sial. Kepalaku masih sangat sakit dan Bayu sudah ribut saja pagi ini.

"Woy, Rik..."

"Apaan sih?" Aku terpaksa mengangkat kepala dari kedua tanganku yang terlipat di meja, demi apa? Mendengar celotehan Bayu.

"Ricky, coba baca ini lalu ubah jadi past tense!" Ms. Arum setengah berteriak dari depan kelas.

"Elu sih. Udah gua bangunin masih aja tidur, gua kira mati lu." Bayu berbisik dari depanku.

"Ya lu bilang kek dari tadi gua di perhatiin Ms. Arum." Umpat ku kesal sambil memegang kepala.

"Gimana, Ricky? Atau mau cuci muka dulu ke kamar mandi?" Wanita ini meremehkanku? Aku langsung berdiri dari tempat dudukku.

"Timmy goes to the school with his father. Timmy went to the school with his father this morning. Jhonny buys a milk at the store. Jhonny bought a milk at the store yesterday." Seisi kelas terdiam memandangku, termasuk Ms. Arum. Astaga, kau hanya tinggal mengubah satu kata dan menambahkan beberapa kata di akhir kalimat. Well, mungkin pengucapanku yang begitu fasih yang membingungkan mereka.

"Is there anything else that I should do for you, Miss?" beberapa anak mulai berbisik-bisik. Ms. Arum terdiam didepan kelas, mungkin malu serangannya tak mempan terhadapku.

"Yasudah, kamu boleh duduk. Dan tolong jangan tidur saat jam pelajaran saya!" aku duduk kembali.

Benar-benar sial hari ini. Semua ini gara-gara Mas Awan. Dia memaksaku pergi sekolah dan mengadukan ku dengan Papa. Bukannya aku takut, sebenarnya aku sudah sering melawan Papa. Tapi ini dua lawan satu. Itu tidak adil, kawan. Mas Awan pikir siapa dia? Setelah bertahun-tahun menghilang dari dunia dan pagi ini dia datang untuk memaksaku melakukan sesuatu yang ku tidak mau? Tak bisa dibiarkan.

Bel tanda istirahat berbunyi. Ms. Arum sudah keluar kelas dan anak-anak mulai berhamburan keluar kelas, beberapa anak diam di kelas. Ah masa bodo, aku akan bolos hari ini.

"Rik, kantin kuy." Ajak Bayu membalikkan badannya dari kursi depan.

"Gua mau cabut, Bay. Sakit banget nih pala gua dari pagi." Aku mengepak tas ku.

"Tuhan... Gaada bosen-bosennya ya lu cari masalah. Kan bisa ke UKS, atau tidur noh di belakang."

"Ah males gua. Lagian bete juga gegara Ms. Arum tadi."

Tiba-tiba ada tangan yang memegang dahiku. Seorang pria tinggi dengan kemeja biru ketat dan celana hitam slimfit berdiri disampingku.

"Badanmu panas. Kalo emang sakit kan bisa ke UKS. Lagian ini mau ujan, kalo bolos sekarang paling kena ujan di jalan." Mas Awan berkata dengan suara soprannya yang menyebalkan. Sok perhatian.

Bayu terheran-heran dengan mulut menganga menatap kami. Yaiyalah, guru musik baru kami secara mendadak berlagak sok akrab dengan ku, dan memegang jidatku.

"Ck... Aku bisa pulang sendiri." Aku menepis tangan Mas Awan dari dahiku. Benar saja, hari mulai hujan. Aku terduduk kembali di kursi, membenamkan wajahku pada kedua tanganku di meja lagi.

"Ayo, saya antar ke UKS. Bayu, tolong bilang sama guru selanjutnya Ricky izin sakit dan dirawat di UKS ya." Kata Mas Awan dengan senyum sok manis nya. Bayu hanya bisa mengangguk. Tunggu, baru kusadari badanku yang ternyata juga lemas.

Boys in Boots : LuciferTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang