Company

134 17 5
                                        

Musim semi adalah musim kesukaannya, seharusnya aku memberinya ingatan yang indah ketika musim itu datang.

Tapi tidak, aku malah memberinya ingatan buruk di awal musim semi ini.

Pintu di ruangan tempatku berada saat ini terbuka, menampakkan lelaki jangkung berbahu lebar yang tampak mencermati beberapa lembar kertas di genggamannya dengan raut wajah serius, sebelum kemudian berganti menatapku dengan senyuman hangat terulas di antara garis wajah yang lelah tersebut.

Aku tidak tega melihatnya.

“Sudah bangun?” dia duduk di tepi ranjang tempatku berbaring saat ini, mencium puncak kepalaku sebelum kemudian kembali beralih untuk menatapku lagi.

“Dari mana?”

“Menebus obat, dan juga mengecek jadwal dokter.” jawabnya sambil memasukkan kertas-kertas yang ia pegang tadi ke dalam salah satu saku ransel hitam yang ia letakkan di dekat nakas, “Sebentar lagi perawat akan mengantar sarapanmu.”

“Aku tidak mau makan makanan di sini.” aku menggeleng, tidak tahan mengingat bagaimana hambarnya rasa makanan yang ada di tempat ini, entah karena indra pengecapku yang memang sedang tidak berfungsi dengan baik, atau karena juru masak di sini yang memang sedang tidak ingin menambah banyak garam dalam masakannya.

“Lalu apa yang ingin kau makan? Akan ku belikan di luar nanti.”

“Es krim?” ucapku sambil terkekeh, membuat lawan bicaraku mendengus dan refleks mencubit pelan hidungku.

“Ini masih pagi, Sayang. Lagipula itu bukan sarapan.”

“Kalau begitu, roti saja.”

“Baiklah, aku akan membelinya sekarang.” lelaki itu mengambil dompet yang tersimpan di saku celana kain hitamnya, memeriksa apakah ia membawa cukup uang tunai untuk membeli makanan yang ku minta.

Oppa.” panggilku, ketika lelaki bersurai cokelat tua itu akan beranjak dari ranjang. Dia sendiri hanya menatapku sambil mengangkat alis.

“Jangan lupa beli sarapan juga untukmu sendiri.” ucapku kemudian sambil menjangkau jemari kurus milik lelaki itu.

“Iya, Sayang.” balasnya, kembali menarik garis senyum seraya melepaskan perlahan tautan jemariku padanya dan mengusap surai cokelat tua pudar milikku sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

Dan saat keheningan kembali menemaniku, aku bisa merasakan sesuatu yang basah kini mengalir di pipiku.

Oppa, maafkan aku.”

* * *

Bisa kau kirimkan datanya ke e-mail-ku sekarang, Sungjong-ssi? Aku akan mengeceknya dan mengirim balasannya besok pagi.”

Aku bisa mendengar suara seseorang tengah berbicara di tengah waktuku terlelap malam. Aku tahu itu suara lelaki jangkung itu, sepertinya tengah menghubungi seseorang.

Ketika aku membuka mataku, pandanganku terasa sedikit kabur, sedikit karena efek cahaya yang minim karena fungsi matahari kini telah tergantikan oleh lampu yang bersinar redup.

Tapi aku bisa melihat lelaki jangkung itu mondar-mandir di dekat ranjangku, menekan layar ponselnya beberapa kali sebelum kemudian kembali mendekatkannya pada telinga kirinya.

“Sungyoon-ssi, aku dengar ada sedikit masalah di Suwon, bisa tolong kau konfirmasi langsung di lapangan besok pagi? Aku tidak bisa datang sendiri karena besok aku harus menemani istriku di rumah sakit.”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 24, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

"Giraffe Couple" Story CollectionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang