2| Pria tidak dikenal

28 5 2
                                        


Pengalaman membawaku berubah.
lalu?

Tiga tahun dia mengurung diri.
Tiga tahun dia tak memiliki arti
Tiga tahun dia berdiri, membentuk sebuah pondasi, agar tak ada yang dapat memecahkannya lagi.

Suara rendah dari kamar membuyarkan semua khayalan yang dia susun agar menjadi sebuah cerita. Melody mendengus pelan, lalu matanya beralih pada pintu kayu yang ada disebelah kanannya. Pintu sengaja ia buka agar orang yang ada disana boleh memanggilnya meskipun dengan suara yang pelan.

"Melody!" Itu suara Jason, ayahnya. Sudah lama dia berada dikamar itu. Karena penyakit yang ia derita sekarang, Jason harus terbiasa dengan situasi sulitnya. Seperti meminum obat, dan mencari udara segar ke luar rumah.

"Yes, Dad?" Jawab Melody sambil merapikan Buku-bukunya di meja. Selanjutnya, Melody berjalan ke arah kamar untuk menemui sang ayah. Tak perlu perintah lagi, ia sudah tau apa yang ayahnya maksud.

"Ayah ingin keluar?" Tanya Melody sambil membantu ayahnya menuruni ranjang.

"Bawa ayah ke dapur" Kata Jason sambil menarik tongkat dari nakas. Namun, Melody sudah terlebih dulu mengambil dan menyerahkannya pada Jason.

"Ke dapur? untuk apa yah?" Melody kebingungan. Biasanya Jason hanya menyuruhnya ke teras rumah dan ke ruang tengah. Dan kali ini, kenapa Jason menyuruh Melody untuk membawanya ke dapur?

"Ayah ingin mengambil sesuatu" Melody mengangguk meskipun dalam benaknya masih tersimpan kebingungan.


Pelan-pelan Melody menuntun sang Ayah melewati pintu kamar menuju dapur. Entah apa yang ingin ayahnya ambil darisana, Melody tidak bisa menebak itu.
Tak beberapa lama kemudian, Melody dan Jason sudah berada didalam dapur. Jason langsung meletakkan tongkat kayunya di atas meja, lalu membuka lemari es yang sudah tak berisi alias rusak.

Melody hanya mengamati saja apa yang ayahnya perbuat. Hingga detik kemudian, Jason mengeluarkan sebuah kotak yang Melody yakini bahwa itu adalah obat herbal miliknya.

"Ini obat herbal ayah. Lihatlah obatnya sudah mulai menipis. Ayah ingin kau membelikannya ke toko" Kata Jason yang diakhiri dengan batuk ringannya.
Melody mengangguk pertanda setuju. Namun, kembali bertanya dalam hati, Ayahkan tidak punya uang lagi.

"Baiklah ayah" Melody menjawab sambil menarik bibirnya membentuk lengkungan. Ia baru saja mengecek isi tabungannya, dan masih ada beberapa uang lagi untuk dipakai membeli obat kepada ayahnya.

"Melody, Are you have a money?" Jason menampakkan raut memelasnya.

"Iya ayah.. Ayah nggak perlu khawatir" Kata Melody meyakinkan.

"Kalau begitu pergilah. Hati-hati diperjalanan Melody." Melody mengangguk dan tak lupa mencium pipi ayahnya, lalu ia pun pergi ke toko tempat menjual obat Jason.

Melody berjalan di aspal yang basah ini. Ia baru menyadari satu hal, bahwa baru saja hujan berhenti setelah beberapa jam mengguyur kota ini.
Dia menapaki trotoar yang sepi itu sambil sesekali melirik ke arah para pedagang yang melewatinya.

"Kenapa tempatnya sangat jauh?" Kesal Melody sembari memperhatikan jalanan yang sudah basar, dan sesekali menghasilkan cipratan saat mobil melewatinya.

Melody sudah merasa lelah dengan perjalanan ini. Ia berpikir bahwa jam 9 begini, tokonya sudah tutup. Melody mempercepat langkahnya dua kali dari sebelumnya, agar dia bisa membeli obat herbal itu dengan tepat waktu. Matanya lalu terarah ke Gedung-gedung dan apartemen yang menjulang tinggi. Lampu-lampu darisana menghasilkan nuansa yang sangat indah, hingga tak sadar mulut Melody menganga dengan lebar.
Karena terlalu asyik menatapi gedung menjulang yang ada disekitarnya, tiba-tiba Melody merasakan sesuatu yang perih.
Kakinya berhasil keluar dari trotoar, dan kini dia berada hampir ditengah jalan raya.

Along with the MelodyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang