05 - Makan Siang
“Kok lo udah balik aja sih dari Bali?”
Mama langsung mendelik begitu mendengar celetukan gue, tapi gue enggak peduli sama sekali. Karena yang menjadi fokus gue sekarang adalah laki-laki yang sedang duduk berdua bersama Mama di ruang makan.
Siapa lagi kalau bukan si Kampret Nolan?
Laki-laki itu tampak tersenyum ceria, seperti biasanya. “Kan kerjaanku udah selesai di sana. Oh iya, kamu apa kabar?”
Gue hanya memutar bola mata dengan gerakan malas, dan langsung menarik kursi di samping Mama yang sedang duduk berseberangan dengan Nolan.
“Nolan nanyain kabar kamu lho, Re.”
Gue dengar kok, tapi ... dia bisa lihat, dan menyimpulkan sendiri kan kalau keadaan gue baik-baik saja?
So, gue merasa enggak perlu menjawab pertanyaan paling basi yang barusan Nolan tanyakan.
“Rere baik-baik aja kok, Lan. Lihat aja kelakuannya; masih nyebelin kayak biasa,” ujar Mama tak lama kemudian.
Gue cuma mendengkus samar begitu melihat mereka berdua kompak tertawa atas perkataan Mama barusan.
Di meja makan ini, cuma gue sendirian yang sarapan. Karena Mama sepertinya sudah makan duluan, sedangkan Nolan cuma minum secangkir kopi atau teh, gue enggak tahu pasti. Tetapi, yang jelas, di hadapannya ada sebuah cangkir keramik lengkap dengan piring kecil.
Selama gue sarapan, gue cuma menjadi pendengar yang baik sekaligus penonton yang budiman di antara mereka berdua.
Sial. Mama kelihatan akrab banget sama si Kampret Nolan. Feeling gue langsung enggak enak. Karena merasa kalau kedekatan mereka berdua pasti bisa menjadi bumerang buat gue ke depannya. Bahkan gue juga dongkol sendiri, karena sampai hari ini gue enggak menemukan juga kesalahan fatal yang dilakukan oleh Nolan. Kalau begini terus ... kapan gue bisa dapat alasan yang kuat supaya bisa membatalkan perjodohan di antara kami berdua?
“Oh iya, Papa mana, Ma?” Akhirnya, gue membuka suara setelah menandaskan segelas air putih yang tersedia. “Aku mau berangkat bareng Papa aja, sekalian mampir ke apartemennya Bang Raka.”
“Pergi aja sama Nolan. Kan dia udah jemput kamu ke sini.”
Gue cuma melirik Nolan sekilas, dan sudah bersiap untuk melayangkan protes, tapi ....
“Lagian Papa kamu juga udah pergi dari tadi.”
What the ....
Pantas saja Mama sudah selesai sarapan. Ternyata Papa sudah berangkat bekerja.
Kenapa otak gue baru berjalan ya?
“Kamu mau berangkat sekarang?”
Gue cuma bergumam sebagai jawaban atas pertanyaan Nolan barusan.
Tanpa diduga, Nolan malah membawa cangkir bekas minumannya ke arah wastafel dan bersiap untuk mencucinya di sana, tapi Mama langsung mencegahnya. Sedangkan gue cuma bengong doang di tempat.
Lalu wanita yang sudah melahirkan gue ke dunia itu segera menyuruh Nolan untuk langsung berangkat, supaya enggak terkena macet terlalu lama di jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Something About You (Repost)
ChickLitKriteria lelaki idaman menurut Rekha Maheswara: satu keyakinan, bertanggung jawab, sayang keluarga, tidak banyak omong, dan bukan cowok playboy. Tahu-tahu ia malah dijodohkan dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak memenuhi semua kriterianya, y...
