Nightmare

427 40 3
                                    

The Reason
Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Main Pair : -

Main Cast : Naruto U, Sasuke U, and other

Warning!!! : Gender Switch, OOC!OOC! ALUR GAJE, MISS TYPO DAN MASIH BANYAK KEKURANGAN LAINNYA!

.
.
.
.


.
.

Chapter 2: Nightmare
.
.
.

Naruto duduk di mejanya setelah kembali dari ruangan guru, dua teman sekelasnya Hinata dan Tenten sudah bosan menunggunya, di meja kantin paling pojok kanan. Mereka sedang asik makan siang sambil bercanda menertawai guru BP mereka yang baru cuti hamil.

Naruto hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.

"Asyik! kita tidak perlu melihat muka Anko- sensei Semoga setelah melahirkan, dia langsung pensiun!" celetuk Tenten sambil memakan roti melonnya.

"Ara.. Ara.. itu kejam sekali!!" Hinata tertawa.

"Eh salah sendiri, siapa suruh jadi guru BP galak sekali! Masa pakai rok pendek sedikit saja langsung diomeli. Mana ngomelnya di depan kelas lagi, bikin malu orang aja."

Naruto tertawa kencang menatap Tenten, "Ternyata seorang Ten Ten bisa malu juga ya? Makanya kamu pakai rok ituh kira-kira dikit. Itu sih namanya bukan pendek lagi, nggak usah pakai rok aja sekalian.  Kalau kamu Jongkok dikit saja, rok  itu sudah mau robek!" Naruto berkata dengan nada sarkas yang kentara. Namun sepertinya Ten Ten tidak masalah dengan itu.

"Memang sudah robek," sahut Ten Ten.

Naruto dan Hinata tertawa terpingkal-pingkal, Ten Ten sama sekali tidak menghiraukan mereka.

"Eh, ada Menma tuh." ujar Hinata tiba-tiba.

Tawa Naruto langsung mereda, ia menoleh ke belakang dan melihat Menma datang menghampiri meja mereka dengan senyum cerah.

"Hai, seru sekali?"

"Hai Menma...." sapa Hinata dan Ten Ten bersamaan.

"Mau kemana? Kenapa kau membawa tas?" Tanya Naruto.

"Oh ini," Menma menenteng tas sekolahnya sambil tersenyum bangga,

"Hari ini mau ke sekolah lain buat latihan tanding basket. Pemanasan, buat turnamen bulan depan. Yang masuk team inti hari ini boleh tidak ikut pelajaran terakhir."

"Wah, enak sekali! Eh ngomong-ngomong team kalian butuh cheerleaders tidak? Kalo ada aku mau ikut ya, enak bisa bolos sekolah." Ten Ten terkikik pelan, dan langsung mendapat jitakan di kepalanya.

Naruto tersenyum ringan pada Menma ,"Sukses ya buat tandingnya. Mainnya jangan kasar!"

"Memangnya aku pernah main kasar?" Menma mengacak rambut Naruto dengan santai, Hinata dan Ten Ten langsung beradu pandang.

" Baiklah, aku pergi dulu ne! Bye bye semuanya!" Menma langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.

"Bye..."

Hinata mencolek Naruto, "Mesra sekali....nanti ada yang cemburu loh!"

"Iya....tuh  yang baru diomongin datang, panjang umur sekali si pinky," bisik Ten Ten.

Sakura menghampiri meja mereka beberapa detik setelah Menma pergi. Mereka tidak berpapasan karena berlawanan arah. Ia hanya tersenyum kecil pada Hinata dan Ten Ten tanpa menyapa sedikitpun. Kelihatannya sedang terburu-buru.

"Naruto, aku ingin berbicara sebentar. Penting." Dan langsung menyeret gadis itu ke atap sekolah yang sepi.

Sesampainya di atap, Naruto hampir kehilangan kesabarannya karena sakura menginginkan dia ikut berkencan.

"Apa kau bilang? Aku harus menemanimu kencan dengan uchiha itu?" Naruto terdiam menahan marah saat dilihat wajah sahabatnya itu tersenyum-senyum penuh harap.

"Oh ayolah, Naruto sayang. Menma kan hari ini pergi latihan tanding, jadi dia tidak akan tau jika kita pergi bersama Sauke-kun dan Gaara."

"Gaara?! Siapa lagi itu?! Naruto benar benar ingin mengamuk sekarang juga. Namun masih bisa ia tahan.

"Temannya Sasuke-kun,  dia bilang dia ingin mengajak temannya. Jadi kita sekalian aja double date." Jawab Sakura enteng tanpa melihat wajah Naruto yang memerah menahan marahnya.

" Kenapa kita harus berkencan dengan mereka! Kau ini! jika bukan namanya kecentilan lalu apa? Aku kan sudah bilang kemarin, kau memang dari dulu tidak pernah berubah!" Sembur Naruto.

"Kalau kau tidak suka dengan istilah kencan, kita ganti saja namanya pergi sama teman. Sasuke-kun kemarin mengajakku nonton setelah pulang sekolah, dia bilang dia akan menjemputku disini. Tapi karena ada Gaara jadi kupikir lebih baik aku mengajakmu juga, kan tidak enak pergi bertiga. Aneh rasanya."

"Lebih aneh lagi jika aku mau ikut! Sakura berapa kali aku bilang, kau jangan mengulang sifat jelekmu itu. Jika pacarmu yang sekarang ini bukan Menma, mungkin aku tidak akan peduli. Tapi ini Menma, dia juga sepupuku dan dia  itu kurang apalagi? Kau masih juga kegatelan sama laki-laki lain."

Sakura mulai kelihatan kesal, "Susah punya pacar yang terlalu dekat dengan sahabat sendiri, rasanya jadi menyebalkan"

"Aku tidak akan setuju kau pergi dengan Uchiha itu, meskipun kau bilang itu bukan kencan lah....hanya teman lah....Kau harus pikirkan perasaan Menma. Kau sadar tidak, kau ini bermain terus kerjanya! Katanya sudah berubah, sudah dewasa. Mana?!" Suara Naruto meninggi.

"Hey ayolah, kita masih remaja. Apa salahnya dengan bermain!"

"Memang tidak ada salahnya bermain namun kelakuanmu menyakiti perasaan orang lain. Bagaimana mungkin kau tidak menyadari itu?!"

"Aku mohon Naruto, kita ini sahabatkan? Kenapa tidak mau menolongku?" Sakura memohon kepada gadis di hadapannya dengan mata yang berkaca-kaca.

Naruto mengalihkan penglihatannya ke arah lain  lalu menghembuskan napasnya perlahan untuk meredakan amarahnya. Salah satu sifat sakura yang Naruto benci adalah ketika keinginannya tidak terpenuhi maka dia akan merengek seperti anak kecil.

"Apa untungnya buatku? Buang - buang waktu saja."

"Setidaknya kau tau kan kalau aku dan Sasuke hanya berteman, kau bisa melihatnya langsung." Sakura tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengajak gadis itu pergi.

"Baiklah, aku akan ikut,"

Setelah perdebatan panjang mereka, pada akhirnya, Naruto untuk kesekian kalinya mengalah kepada Sakura.

The ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang