Jika ada pertanyaan, "Bagaimana sih rasanya punya kembaran seperti Haekal?"
Disitulah Viona menjawab. "Ah, mantap! Dulu aku hipotensi, eh sekarang malah jadi hipertensi."
Tinggal jauh dari saudaranya tidak membuat gadis itu berubah. Dia tetap menjad...
p.s: aku ngedraft dari September plis, lagi buntu bgt
ASDFQYHQJENSKKSKAJK JENO ♡︎_____♡︎
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari demi hari telah berlalu. Belakangan ini Viona merasa sedikit kewalahan karena mempersiapkan materi-materi ujian pada bulan Februari sampai Mei mendatang. Belum lagi dengan urusan-urusan OSIS, kadang kepalanya terasa seperti mau pecah berkeping-keping.
Tak jarang dirinya absen dalam meminum obat. Ah ... jangankan meminum obatnya, makan pun hanya sehari sekali. Sang nenek sudah menyerah, keras kepala cucunya mirip seperti anaknya.
Bak kata pepatah, ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ sangat cocok untuk mereka. Seperti saat ini. Viona tengah sibuk berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru lesnya, sampai mengabaikan sepiring nasi dengan lauk ayam goreng dengan sayur kangkung yang nganggur di sebelahnya.
"Maem dulu," kata neneknya.
Gadis itu menoleh sekilas, lalu memakan makanannya, dan kembali berkutat dengan buku-buku tebal itu. "Bentar Mbah, dikit lagiii ..." begitu katanya.
"Suud malu, gelem nyen. Neh, maem! (Berhenti dulu, nanti sakit. Nih makan!)" kata neneknya lagi, mengambil nasi yang didiamkan begitu saja oleh Viona.
"Aduuuh, bentar dulu Mbah. Ini tugas Pio masih banyak. Pio kan mau masuk SMA Negeri 4 Denpasar!" Seru Viona, namun kedua tangannya menutup alat-alat tulis di atas meja.
*sedikit info
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.