O3 | berbaur, bersedih

566 82 12
                                        

Bel istirahat akhirnya berbunyi, saat ini murid-murid sedang sibuk membereskan barang-barangnya lalu beberapa dari mereka segera pergi meninggalkan kelas untuk menghabiskan waktu istirahatnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bel istirahat akhirnya berbunyi, saat ini murid-murid sedang sibuk membereskan barang-barangnya lalu beberapa dari mereka segera pergi meninggalkan kelas untuk menghabiskan waktu istirahatnya.

Raina memasukkan buku-buku miliknya ke dalam tas, setelahnya ia mengambil headphone biru dari kolong meja dan segera memakainya,

Keyra yang baru saja selesai membereskan barang-barangnya lantas bertanya, "Ra, laper? ke kantin yuk, aku traktir deh." ajak si teman sebangku.

Yang diajak terlihat bingung sebelum akhirnya menolak, "Gak usah, tadi pas jam kosong aku makan roti, masih kenyang, kamu aja."

"Kenapa kalo diajak ke kantin ga mau terus, sih? sesekali aja ayo!" Keyra bersikeras membujuk Raina.

Raina memajukan bibirnya, "Kenyang, Key, maaf ya, lain kali aja." balasannya itu membuat Keyra tak tega untuk menggusur Raina sampai ke kantin.

Keyra mendengus kesal, "Huh, baiklah, hati hati."

Setelahnya Keyra pergi meninggalkan Raina sendiri di bangkunya.

Raina memutar acak playlistnya seperti biasa, mengingat tidak ada hal yang harus dilakukan, ia memutuskan untuk mengerjakan tugas Fisika yang baru saja tadi diberikan, setidaknya ia ingin menyicil tugasnya agar tidak terlalu menumpuk nantinya.

Ruang kelas yang tadinya terasa penuh karena murid-murid di dalamnya, kini terasa sepi karena sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu istirahatnya di luar kelas.

"Kantin yuuk, mau rice box." sahut Ghio yang baru saja menghampiri teman-temannya itu.

"Males ke sana, bro. Sama Jinan aja gih atau sama Baskara." usul Rendra yang masih duduk di kursinya.

"Udahlah kagok, kantin semua." Jinan bangkit dari kursinya, "cepetan."

Rendra berdecak kesal, lalu terpaksa bangun "Asal traktir ya?"

Jinan hanya mendecak terpaksa, "Iya iya, Kal, gak ikut?" tanya Jinan yang mendapati Baskara yang belum kunjung bangun.

Baskara tampak bingung, ia ingin menolak, tetapi perutnya yang lapar itu berkata tidak, sampai akhirnya ia terpaksa menyetujui tawaran temannya itu, "Oke."

Belum saja kakinya melangkah, pandangannya tak sengaja melihat perempuan yang baginya sudah tidak asing lagi.

Berniat menghampiri, Baskara sedikit berteriak, "Ren! Duluan aja ntar nyusul!"

Dirinya berjalan dari arah belakang supaya yang dihampiri tidak menyadari keberadaannya, ia memperhatikan Raina yang tampak sibuk mengerjakan tugas fisikanya,tangannya tertumpu pada bagian belakang kursi, "Rajin amet." celetuk Baskara.

Raina yang menyadari bahwa dirinya tengah diperhatikan lantas berhenti melakukan kegiatannya, ia menoleh lalu mendapati Baskara yang kini berada di depannya.

baskara, haechan.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang