"BALIKIN BUKU INGGRISKU, RENDRAA!" Baskara dan Rendra tak hentinya saling mengejar satu sama lain di kelas.
Sementara itu, Ghio yang sedari tadi memperhatikan kelakuan teman-temannya akhirnya merasa kesal karena kegaduhan yang mereka buat, "Udah napa, kejar kejaran kayak anak sd, tau gak?" tegur Ghio.
"Mereka tuh emang bocah." sahut Jinan yang sedang memakan sarapannya, yang ditegur bukannya berhenti melainkan melanjutkan kegiatannya itu.
Ghio mendecak kesal, ia kembali mengerjakan tugas Bahasa Inggris miliknya sambil mendengarkan musik lewat airpodsnya.
Jinan yang sudah selesai dengan sarapannya lantas berbalik, ingin menyimpan kembali kotak makan miliknya ke dalam tas, matanya menangkap Ghio yang sedang mengerjakan sesuatu, "Inggris?"
"Iya, yang kemarin."
"Lihat dong, belum nih" Jinan mengambil bukunya dari tas, lalu ia membalikkan kursinya agar bisa melihat catatan milik Ghio, kakinya tak sengaja ia letakkan di samping meja.
Dengan napas yang tak teratur, mereka berhenti sejenak. "SINI, KATANYA MAU AMBIL WHAHAHAHAH" Rendra mengangkat buku milik temannya itu, sebelum ia kembali berlari lagi.
Yang diambil bukunya lantas kembali mengejar Rendra, "BALIKIN HEEHHH!" baru saja Baskara berlari, kakinya tersandung mengenai kaki Jinan.
Bruk! Baskara terjatuh, suaranya terdengar keras di heningnya suasana kelas, juga mengundang perhatian penghuni kelas.
"WHAHAHAHAHAHAHAHAHHAH." Jinan dan Ghio tertawa kencang setelah mengetahui siapa yang baru saja terjatuh.
Baskara memegang lengannya sambil meringis kesakitan, pasalnya, saat terjatuh, ia menahan tubuhnya dengan lengannya, "Keterlaluan si jamet, dikutuk baru tahu rasa," ia menyeletuk.
"Dibilangin jangan kejar-kejaran, kayak bocah tahu, ga?" ujar Ghio kesal.
Rendra yang sedang duduk di kursi Baskara hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat temannya itu, "Astaga, serius ngakak, sakit ga??" tanyanya.
"Pikir aja sendiri," Baskara pun bangkit lalu kembali ke tempat duduknya, "Awas, jamet mana boleh duduk di kursi pangeran." Baskara mengusir Rendra.
"Ngaco aja kalo ngomong," Rendra pun akhirnya menyingkah dari kursi Baskara, tak lupa mengembalikan buku yang sempat ia curi.
Setelahnya, bel masuk pun berbunyi, bersamaan dengan Raina yang mendengus kesal karena dirinya tidak bisa tidur, pasalnya, yang sedari tadi ia tangkap hanyalah kebisingan yang dibuat oleh penghuni jelas,
terutama kelakuan kumpulan lelaki yang berada di barisan paling belakang.
Matanya melirik ke arah depan, ia mendapati bangku Keyra yang masih terangkat, yang berarti Keyra tidak masuk sekolah hari ini, Raina mendengus kesal setelah mengetahuinya, lagi.
—
Raina mengantuk, ia meregangkan otot-otot tubuhnya lalu kembali menidurkan dirinya di atas meja, tangannya ia lipat lalu dijadikan bantal untuk kepalanya itu.
Raina menghela napas, lalu mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya, walau sebenarnya punggungnya akan terasa sakit setelah tidur dalam posisi seperti itu.
Bel istirahat telah berbunyi dari tadi, tetapi mereka— Baskara, Jinan, Ghio, dan Rendra tak kunjung berhenti dalam bermain kartu uno di belakang sana.
Rendra yang merasa bosan pun akhirnya mengeluh, "Bosen amat, udahan aja kek, laper nih." Rendra melempar kartunya kasar.
"Sebentar deh, kagok." Baskara memilih milih kartu, sebelum akhirnya ia lempar ke depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
baskara, haechan.
Fanfiction↳ ༷❀ ̮̫̋❝ Insannya penyembuh, dikala batinnya yang perlahan-lahan terasa rapuh. ❞ [ haechan x oc ] [ semi baku au ] namanya baskara, artinya matahari. sosoknya selalu terlihat periang dan tersenyum cerah layaknya sang mentari, sosoknya selalu berusa...
