Epilog

1K 109 24
                                        

***

Hari demi hari telah dilalui oleh Harry dengan menyendiri. Tanpa menemui siapapun, bahkan orangtuanya sendiripun ia tak mau. Disaat itu juga Lily tak pernah bangun dari komanya. Padahal ini sudah dua minggu dari kejadian mengerikan itu. Harry selalu mendatangi Lily, memberi setangkai bunga mawar putih, salah satu bunga kesukaannya.

Tetapi semua itu percuma. Bagaimanapun Lily tak pernah bangun dari komanya. Sampai saat dimana Harry tak sanggup lagi untuk mengutarakan perasaannya kepada Lily. Di hari itu juga, Lily sudah tak sanggup untuk bertahan hidup. Terlalu banyak darah yang keluar, apalagi penyakit yang ia derita. Membuat gadis itu akhirnya menyerah.

Cuaca siang ini, disambut dengan kesedihan yang mendalam. Semua orang berdiri melingkari tempat pemakaman Lily. Beda dengan Harry yang memilih untuk memerhatikan dari jauh. Ia merasa gagal sebagai sahabat, karena pada saat itu ia tidak berhasil menyelamatkan Lily.

Semua orang telah pergi satu persatu dari tempat pemakaman. Tinggal Harry yang masih diam ditempatnya. Dengan langkah pelan, begitupun pandangannya yang kosong. Ia berjalan kearah pemakaman tersebut.

Harry menaruh sebucket mawar putih di atas pusara Lily. Ia diam untuk waktu yang lama sampai pada akhirnya air matanya tak sanggup di tampungnya lagi. Satu demi satu bulir air matanya jatuh membasahi pipinya.

“Kenapa harus sekarang, Lily? Kenapa harus sekarang kau meninggalkan diriku sendiri? Kenapa harus saat aku telah mencintaimu? Kau jahat.” Lirih Harry pelan. “Kau bahkan belum mengetahui isi hatiku, Lily. Kau tahu? Aku sangat mencintaimu.” Lanjutnya.

Tiba-tiba Harry beranjak dari duduk. Ada satu hal, mungkin seperti wasiat yang dulu pernah diminta oleh Lily kepada Harry.

Salah satu keinginan yang selalu Lily inginkan. Dimana ia ingin, seseorang yang ia cintai bisa meniupkan lilin disaat pemakamannya. Mungkin hanya itu hal yang bisa menebus rasa penyesalan yang selalu datang disaat Harry merindukan gadis itu.

***

Harry memasuki gereja yang selalu ia kunjungi bersama dengan Lily. Kosong, itulah hal pertama yang dapat ia simpulkan dari tempat ini. Dengan langkah pelan, ia berjalan kedepan ke arah pusat gereja. Terdapat banyak lilin yang menyala. Ia mengambil salah satunya. Lalu menutup mata, sambil melontarkan beberapa doa untuk Lily.

‘Tuhan, jika engkah memberi hambamu ini satu permintaan. Bisakah engkau menyampaikan rasa bersalahku padanya? Dan bisakah kau menyampaikan kalau aku begitu mencintainya? Dia adalah satu-satunya orang yang selalu ada di sisiku. Mengapa engkau tega mengambilnya? Apakah ayah  dan kakakku tidak cukup untuk menemanimu disana? Aku sendirian disini. Tolong berikan aku kekuatan untuk bisa mengurangi rasa bersalahku, Amen.’

Lalu detik selanjutnya Harry meniupkan lilin tersebut. Asap yang ditimbulkan terbang kesana kemari. Ada rasa senang dihatinya karena berhasil mengabulkan permintaan Lily. Tapi ada rasa sedih karena tak dapat melihat senyumnya lagi.

Ia masih ingat bagaimana pertama kalinya Lily mengajaknya berkenalan saat jam istirahat. Gadis itu berhasil membuat Harry kecil mempunyai teman pertamanya.

“Aku Lily,” Katanya, sambil menjulurkan tangan kanannya diudara. Harry yang baru pertama kali diajak berkenalan dengan Lily. Menatap gadis mungil tersebut dengan pandangan takut.

“Aku Harry,” Jawabnya, sambil menjabat tangan Lily dengan bergetar. Disaat itulah Lily mengembangkan senyum manisnya. Gadis itu senang akhirnya bisa memiliki teman pertamanya. Sama dengan Harry, ia juga merasakan hal yang sama.

“Kamu tahu? Aku suka dengan lesung pipi milikmu itu.” Harry menaikkan sebelah alisnya bingung, “Kata ayah, kalau kita punya lesung pipi seperti itu. Tandanya kita manis, dan kamu itu manis.” Lanjutnya sambil mencubit pipi milik Harry.

Harry yang terkejut dengan perbuatan Lily, hanya bisa tertawa. Begitupun dengan Lily, gadis itu tertawa saat mendengar teman barunya juga tertawa.

 

Saat itulah mereka menjadi dekat, sampai sekarang dimana Lily pergi meninggalkan Harry sendirian. Saat itu juga ia mulai nyaman bisa berada bersama Lily. Ia sudah menganggap Lily sebagai teman, sahabat, begitupun adiknya. Bahkan ia tak tahu akan menjadi seperti apa jika Lily pergi meninggalkannya.

Satu persatu orang yang ia cintai pergi begitu saja meninggalkan Harry. Ayah, kakaknya bahkan sekarang tambah menjadi Lily. Harry tidak tahu apakah ia masih bisa terus berjalan. Menguatkan hatinya yang telah hancur berkeping-keping.

Tetapi mungkin ia masih memiliki ibu yang bisa menemaninya. Begitupun dengan teman-temannya yang selalu mendukung dirinya. Ia tahu, tuhan tidak pernah membiarkan hambanya sendirian. Disaat mereka terpuruk sedih, maupun bahagia pasti selalu ada hikmahnya.

Harry tak akan pernah bisa melupakan teman pertamanya, bahkan bisa dibilang sebagai cinta pertamanya.

***

 

Hold fast hope

All your love is all I've ever known

How could a heart like yours

Ever love a heart like mine?

How I could I live before?

How could I have been so blind?

You opened up my eyes

***

a/n: akhirnya selesai juga yay! maaf banget kalau ini cerita akhir jadi shortstory padahal awalnya nggak kayak gini akhirnya hahaha tapi cuman pengen biar ini cerita cepet abis jadi ya gitu deh semoga banyak yang baca ya dan makasih banget untuk yang udah baca cerita ini dari awal sampe abis makasih<333

love,

nisa x

Happy // h.sTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang