Update lagi kalo bintang dan komentar 10+
Selamat membaca:)
Perempuan berambut sebahu itu memilih untuk bersembunyi di belakang taman sendiri saat dirinya sadar bahwa dia terpisah bersama Choerry saat di koridor barusan.
Walaupun tempatnya terbuka dan tidak terlalu aman. Setidaknya tempat seperti ini tidak terlalu bahaya, mengingat kala jika si pembunuh lebih sering mencari di seluruh ruangan ketimbang di area terbuka.
Intinya tempat berbahaya belum tentu bahaya, tempat aman belum tentu aman.
Ryujin berjongkok di belakang semak-semak, tetapi lama kemudian dia merasa pegal berjongkok terlalu lama, sehingga mau tak mau menduduki dirinya di atas rumput, tidak peduli kotor atau basahnya.
Perlahan netranya tak sengaja menatap seorang pemuda yang kini tengah duduk di kursi panjang di depannya. Ryujin mengernyitkan keningnya, sayangnya dia tak bisa melihat wajah pemuda itu, hanya terlihat rambut belakangnya saja.
Mengapa pemuda itu tak bersembunyi?
Tidak, Ryujin tak curiga, dia hanya penasaran apa yang sedang dilakukan pemuda yang tengah duduk dibangku kursi taman itu. Melamun?
Ryujin tak ingin membiarkan pemuda itu melamun, bagaimana bila dia kerasukan jin atau setan??
Ryujin terus menatap pemuda itu dari belakang, padahal suara misterius itu menyuruh mereka bersembunyi, tetapi bahkan sampai sekarang dia masih tetap duduk di kursi panjang itu, apa dia tidak takut?
Perlahan Ryujin membangunkan dirinya sembari membersihkan rok belakang sekolahnya, kakinya mengayuh ke depan menuju pemuda yang hanya berjarak 6 meter itu.
Sampai akhirnya Ryujin tepat berada di belakang pemuda itu, mulutnya refleks berkata, "C-chenle?"
Pemuda yang merasa terpanggil segera menoleh ke arah Ryujin dengan terkejut, lalu dilihat pemuda itu menghela nafas lega. Satu alis Ryujin terangkat, "Lo ngga sembunyi?"
Chenle kembali menatap ke arah depan, "Lo sendiri?" Ryujin menghela nafas gusar, bahkan pertanyaannya tak dijawab, malah bertanya balik.
"Gue udah sembunyi kok," Ryujin menduduki dirinya di bangku sebelah Chenle, "Tadi dibelakang semak, tapi gue malah ngelihat lo ga gerak-gerak, nyeri sendi lo?" Pertanyaan Ryujin membuat Chenle terkekeh pelan. Perempuan itu sedikit terkejut, pasalnya Chenle tak pernah tertawa seperti itu selama ini.
"Eh ketawa," Celetuknya, seketika Chenle tersadar, Ryujin terkekeh pelan, "Tapi gue serius loh, kok lo malah diem aja gitu disini? ga takut?"
"Semua orang juga pasti merasa takut. Gue lagi berusaha untuk menerima keadaan," Ryujin menoleh ke arah Chenle, pemuda itu masih setia menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
Chenle menghembuskan nafas kasar, "Seandainya gue gak ngikut ajakan Jeongin Ryu, seandainya Daehwi gak ngajak main permainan konyol ini, seharusnya gue dari awal udah nolak buat ga ikut kaya gini!" Rahang Chenle mengeras, sedangkan Ryujin menatap nanar ke arahnya.
"Le-"
"Gue udah ngikut permintaan kalian, gue berusaha berbaur bersama kalian, tapi apa balasan kalian, kalian malah bikin gue terseret ke dunia lain yang bikin nyawa siapapun menghilang, seandainya gue tetep di dalam pendirian gue Ryujin!"
"Chenle stop it!"
Pemuda itu melirik ke arah Ryujin sembari menahan emosinya yang mulai memuncak.
"Chenle dengerin gue," Ryujin menatap Chenle seolah meminta untuk Chenle mendengarkannya, "Ga ada kata seandainya, semua sudah direncanakan oleh Tuhan yang Maha Esa, kita sebagai manusia hanya menerima takdir yang sudah di berikan, mau kita melakukan apapun, kejadian yang sudah tertulis akan tetap dijalankan, gak seharusnya lo menyalahkan takdir," Jelas Ryujin panjang lebar, Chenle berhasil terdiam seribu bahasa, ucapan Ryujin menohok hatinya, ada sedikit rasa penyesalan atas apa yang sudah dirinya lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serial Killer 01 line✔
Mystery / Thriller𝘛𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨. "𝘾𝙝𝙤𝙤𝙨𝙚 𝙩𝙤 𝙟𝙤𝙞𝙣 𝙢𝙚 𝙤𝙧 𝙙𝙞𝙚..." 𝚆𝙰𝚁𝙽𝙸𝙽𝙶 ❕❕ 𝙷𝚊𝚛𝚜𝚑 𝚆𝚘𝚛𝚍𝚜 + 𝚅𝚒𝚘𝚕𝚎𝚗𝚌𝚎 𝐒𝐭𝐚�...
