BAB 3 : Pertanggungjawaban

3.4K 142 0
                                        


Pintu ruang operasi yang bercat hijau pucat itu akhirnya berderit terbuka. Bau antiseptik yang tajam menyeruak keluar, bercampur dengan aroma logam dan keringat cemas dari orang-orang yang menunggu. Devan muncul pertama, masih dengan pakaian operasi yang warnanya sudah sedikit basah oleh peluh. Ia melepas masker dengan gerakan pelan, napasnya berat tapi teratur. Wajahnya yang pucat tersinari lampu putih koridor rumah sakit, memunculkan semburat lelah yang tak bisa ia sembunyikan.

“Operasinya berhasil. Dia berhasil melewati masa kritisnya,” suaranya tenang namun terdengar sedikit serak.

Seolah satu tarikan napas panjang serentak terdengar. Keluarga pasien, yang sejak tadi berdiri di depan pintu, langsung tergopoh mendekat. Seorang pria paruh baya—ayah pasien—menjabat tangan Devan erat-erat, matanya berkaca. “Terima kasih, Dok,” ucapnya lirih, suaranya bergetar.

Devan menundukkan kepala sebentar. Senyumnya tulus tapi tipis, seperti senyum seseorang yang terbiasa menyimpan lelah di balik profesionalitasnya. “Itu sudah tugas saya,” balasnya singkat sebelum berjalan pergi, meninggalkan keluarga yang masih berpelukan penuh haru.

Di ruang istirahat dokter, Devan menyeduh kopi instan. Bau kopi bercampur dengan bau disinfektan yang menusuk, membuat perutnya sedikit berputar. Tangannya memijat tengkuk, kepalanya menunduk. Napasnya berat, pundaknya turun naik. Pasien tadi benar-benar menguras tenaganya.

“Bukankah operasi tadi seharusnya jadi tanggung jawab Dr. Anton? Kenapa jadi kau yang melakukannya?” suara Aldo terdengar dari pintu. Ia ikut menyeduh kopi, alisnya berkerut melihat kondisi sahabatnya.

Devan hanya melirik sekilas sebelum menjawab, “Dr. Anton ada urusan mendesak. Dia minta aku mengambil alih.” Tangannya mengaduk kopi dalam gelas cup, sendok kecilnya beradu dengan dinding gelas, bunyinya tajam di telinga.

“Luar biasa, kau bahkan mengambil tugas yang bukan bagianmu. Ada apa denganmu? Kau gila kerja sekali beberapa minggu terakhir,” Aldo duduk di seberang, matanya mengamati setiap gerak-gerik Devan. Wajah dokter muda itu pucat, garis hitam di bawah matanya jelas.

Devan tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip tarikan bibir paksa. “Apa terlihat seperti itu?”

“Kau bahkan tidak sadar, hah? Bercerminlah, kau hampir seperti zombie,” Aldo berkata dengan nada separuh bercanda, separuh khawatir.

Devan mendengus singkat, mencoba menyembunyikan luka batin dengan humor. “Tenang saja, aku masih terlihat tampan,” ucapnya, tapi suaranya lirih dan agak hampa. Ia duduk, memeluk gelas kopi seperti memeluk penghangat terakhir di dunia. Lalu gumaman itu keluar begitu saja, nyaris seperti pengakuan: “Aku sedang menghukum diriku sendiri…”

Aldo menghentikan gerak tangannya, memandangi Devan. “Memang kesalahan apa yang kau lakukan sampai membuatmu sefrustrasi ini?” tanyanya hati-hati. Tapi Devan hanya tersenyum—senyum yang mata dan bibirnya tidak pernah sepakat—membuat Aldo yakin ada rahasia gelap yang tengah disembunyikan.

Devan menyeruput kopinya. Pandangannya lurus ke depan, kosong, seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang. Ia sengaja menyibukkan diri, menenggelamkan diri dalam operasi, shift malam, pasien-pasien yang tak pernah berhenti—semuanya hanya untuk mengalihkan pikirannya dari sesuatu yang tak bisa ia benahi.

Ponselnya bergetar di dalam saku. Nama “Tasya” menyala di layar. Devan menatapnya sebentar, jemarinya bergetar. Dada kirinya terasa diremas. Ia belum sempat menekan tombol jawab ketika…

PERNIKAHAN HASIL TRAGEDI SATU MALAM  (1-END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang