"Mau ikut nggak?"
"Kemana?"
"Pintu kemana saja"
Aku mengangguk dan segera mengikutinya dari belakang. Entah mau kemana.
Kami sampai di pintu kecil yang ada di belakang sekolah, jadi ini yang namanya pintu kemana saja? Aku diam. Aku masih tidak paham apa maksud lelaki ini.
Mark tersenyum. "Masuknya lewat sini"
Aku mengerutkan dahi.
"Masuk" Mark menyuruhku masuk. Pintu itu sangat kecil, ketika kita mencoba masuk harus memiringkan badan. Iya, pintu itu sangat sempit.
"Nanti ketahuan" Ucapku dengan nada takut.
Sementara Mark? Dia masih tersenyum santai. Sungguh, senyumnya membuatku candu.
"Nggak"
Setelah aku masuk, kali ini gilirannya. Dia masuk setelahku dengan badannya yang santai.
Kami sedikit tertawa, Mark menatapku dengan wajahnya yang manis. Ini wajah yang ku bayangkan semalaman, wajah itu tidak terlalu besar atau bahkan cenderung kecil, matanya yang agak sipit membuatku tak ingin lepas darinya.
Aku memutuskan pandangan terlebih dahulu, meskipun hatiku ingin lebih lama bersamanya tetap saja ini lingkungan sekolah. Malu.
Dengan cepat aku berjalan, kurasa sekarang wajahku semerah tomat. Aku sedikit berlari menuju kelas, aku salah tingkah sendiri. Aku tak melihat Mark dibelakang, ah mungkin saja dia sudah sampai dikelasnya terlebih dahulu.
"HAECHAN? LO DARIMANA?" Aku mendegar suara teriakan yang cukup keras. Kalau ditanya siapa yang teriak, sudah pasti jawabannya Nana.
Nana terlihat baru saja dari kamar mandi, sendiri.
"Nggak ada guru?" Kataku sambil menatapnya.
Ia menggeleng kemudian menarik tanganku untuk masuk kedalam kelas. Suasana kelas sangat berisik, seperti sedang berada di tengah kebun binatang.
"Kok chat gue di read doang? Lo nggak ngejawab pertanyaan gue, Haechan" Ucap Nana sambil menyilangkan tangannya didepan dada.
Aku tertawa renyah, entah mengapa setiap kali dia mendengar aku dekat dengan seseorang dia selalu menanyakan hal yang sama.
"Kok bisa deket gitu?"
"Kenal darimana?"
"Gue denger denger —
Dan berbagai macam pertanyaan lainnya.
"Jawab dulu" Dia berusaha menarik tanganku.
"Apanya?"
"Kemarin lo sama Mark?" Nana mengulang pertanyaan yang sama seperti semalam.
Aku diam selama beberapa saat. "Ya, gitu"
Nana semakin penasaran, dia mendekatkan duduknya persis di depan wajahku. Dia menatapku. Sungguh ekspresinya seperti ingin menyantapku habis habisan.
"Kenapa sih?" Tanyaku dengan nada sedikit ketus.
"Kok lo nggak kasih tau gue dulu? Kenapa gue harus tau dari Jeno?"
"Gue udah kasih tau"
"Kapan?"
"Barusan"
Telapak tanganku merah karena dipukul Nana. Dia hanya gemas dengan ulahku, bukan karena dia dendam atau menganiaya.
─── Bagian Empat
Mark tidak langsung menuju kelasnya. Dia mampir sebentar ke warung yang ada di belakang sekolah. Berkumpul dengan teman temannya.
Disana ada beberapa lelaki idaman sekolah. Winwin, Lucas, Doyoung, Jeno, dan Renjun. Sisanya mungkin belum datang atau sudah sampai dikelas.
"Yang tadi sama lo siapa Mark?" Tanya Lucas dengan nada sedikit mengejek.
"Haechan, gebetannya dia. Bukan begitu ganteng?" Jeno tak kalah kompor.
Sementara Mark hanya tertawa ringan. Teman temannya tak perlu tahu akan ini, biarlah dia simpan sendiri.
"Gais, gue punya rencana. Gimana kalo hari minggu kita kemah?" Ucap Renjun dengan semangat.
Winwin dan Doyoung yang tengah fokus dengan mie rebus-nya langsung menatap Renjun.
"Kemah dimana?" Doyoung mengeluarkan suara.
"Di padang mahsyar" Kata Renjun sambil berimajinasi.
"Renjun ganteng banget. Belum pernah di betot pake mie rebus?" Winwin naik pitam.
Sementara yang lain hanya bisa tertawa, terutama Lucas. Dia saking semangatnya ketawa sampai jatuh dari bangku. Sudahlah, memang semua orang tak ada akhlak.
"Gue, Lucas, sama Winwin balik ke kelas dulu bro, takut ada guru" Ucap Doyoung.
Sekarang hanya tersisa Mark dan Jeno. Oh iya, Renjun izin ke toilet, katanya sakit perut habis di racunin pakai sianida oleh Lucas. Ada ada saja.
Jeno mendekati Mark, sekarang jarak yang tersisa diantara mereka hanya beberapa centi saja.
"Kalo lo mau deket sama Haechan gue bisa bantu" Jeno berbisik tepat di telinga Mark.
Yang membuat Mark Lee merinding.
─── Bagian Empat
Waktu istirahat tiba, aku dan Nana segera menuju kantin. Kali ini Nana yang akan mengantri makanan. Sedangkan aku hanya akan duduk manis diatas kursi.
Nana melihat sekeliling, mencari makanan yang serasa menarik untuk di coba. "Lo mau apa?" Katanya.
"Somay, gue tunggu sana" Aku segera meninggalkan Nana dan pergi ke tempat duduk yang masih kosong. Sambil menunggu Nana yang sedang demo menuntut makanan. Aku mengeluarkan handphone dari saku celana.
"Hai, gue boleh duduk?"
"Lo?"
─── Bagian Empat
bintangnya jangan lupa
—🐙💚
KAMU SEDANG MEMBACA
Thank u, Mark.
FanfictionTere Liye pernah bilang : ❝ Ketika melupakanmu sama rumitnya dengan melupakan hujan. Ketika merasa bahagia dan sakit di waktu bersamaan, merasa yakin dan ragu dalam satu hela nafas, merasa senang sekaligus cemas secara serempak. Apakah ini yang dis...
