Sisipan

36 4 6
                                    

Patah enggan melangkah,
Kata mengalah pada kita.

Frasa berkelana menjauhi bait,
Enggan dihimpun menjadi sajak.

Aksara meraib seketika,
Sementara kiasan dan majas merangkul serpihan puisi yang kau serakkan disekujur badan jalan.

Untuk apa lara berkawan dengan hati,
Saat tau bahagia sedang pergi?

Naif, sudah tau sesak menghampiri,
Malah dibukakan pintu selebar-lebarnya.

Bagaimana? Sudahkah penuh sesak ruang dalam hati ?

Silahkan! Tumpahkan sebanyak mungkin diksi yang kau punya.

Ada kertas yang siap mendekap netramu yang hendak basah dengan masing masing kosa katanya.

Sudahlah. Usah bertambah patah mu,
Disini masih tersedia pengurangan atau bahkan pembagian.

Putarlah melodi yang kau perlukan untuk merekat kembali apa-apa yang patah.

Tenanglah, pena masih dapat mengisi sela jari mu untuk menulis lagi,

Untuk membicarakan apa-apa yang tertahan digerbang hati.

Sebab kadang, aksara lebih efektif mengobati daripada manusia itu sendiri.

Sebab lucunya, semesta terkadang sebercanda itu mengarang bab sisipan pada buku yang sementara kita susun.

Lantas semua alur yang telah disediakan dalam kepala mestilah dirombak ulang dari awal.

Tiap-tiap ekspetasi mesti diseleksi untuk dapat masuk bagian yang baru.

Sial!

Bukankah semestinya tak perlu ada sisipan cerita seperti ini.

Sial!

Tak dapatkah kita mengedit lagi yang sudah tertulis, atau mungkin menghapusnya?

Lupakanlah.

Masih ada bagian lain yang mesti dijalani.

Kau tak dapat stuck pada satu bab...

Bolehlah menetap sebentar untuk menata hati, lalu kemudian...

Jangan lupa untuk lanjut melangkah.

Hey,
Semangat lah !

Setidaknya pada bab selanjutnya, kau tak perlu menahan apa yang ingin lepas :)

Terimakasih untuk cerita sisipannya.
Aku menghargainya.

Tak apa, bertambah lagi satu pelajaran yang dapat kupakai pada hari depan.

Wed.may.20.2020

TacendaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang