Malam hari, saat anak anak lain sudah terpejam dengan kasur empuknya, kecuali untuk dua orang yang diam diam pergi dari tempat peristirahatannya menuju halaman belakang. Awalnya salah satu dari mereka menolak untuk pergi kehalaman belakang, namun sang adik terus merengek manja.
Angin malam menembus tubuh mereka, tentu mereka kedinginan, tubuh mereka tanpa di baluti jaket. Sang kakak mencoba untuk membujuk adiknya masuk namun hanya penolakan yang didapat.
"Itu dia!" Teriak sang adik dengan senyum yang merekah, tangannya menunjuk langit.
"Apa?" Kakaknya bertanya, ia menatap kearah apa yang ditunjuk adik perempuannya itu.
"Indah, aku harap kakak seperti itu" adik perempuan itu menatap kakaknya.
"Bukanya itu sulit? Menjadi yang paling terang diantara latar yang gelap?"
"Apapun itu, aku harap kakak seperti dia!"
Mimpi itu, wajah perempuan itu, keadaan malam dingin saat itu terbayang jelas di memori laki laki yang sedang mengatur nafasnya, laki laki itu adalah Langit. Tangannya mengusap wajah, lalu menengok ke arah jam dinding, pukul 23.45 . Ia melangkah ketempat yang sama dengan mimpinya. Ia menengadah kearah langit lalu membuang nafas, ada sakit yang berteriak saat mengingat. Dan ada marah yang enggan untuk menerima takdir.
***
Mobil itu hening, didalamnya terdapat tiga orang siswa SMA Semesta. Orion sebagai pengemudi lalu disampingnya Langit dan dibelakangnya Bintang.
Setelah Orion menjemput sahabatnya—Langit—di Panti Asuhan, ia putar mobilnya menuju rumah Bintang. Awalnya Langit menyuruh untuk langsung kesekolah namun Orion tetap kekeuh untuk menjemput adik kelasnya itu, agar tak kenapa kenapa katanya.
"Jadi benar kalau kak Langit itu sekolah dapet beasiswa?" Tanya Bintang ragu.
"Hm" jawab Langit pendek.
"Terus kenapa Kak Ori bilang—eh maaf, Bintang nggak jadi nanya" mungkin Bintang sadar tak seharusnya ia mengetahui lebih banyak.
"Bilang kalau dulu bohong gitu?" Orion menimpali.
"Eh eh, lo tuh yang suka rangking satu disemua kelas X? Terus suka jadi perwakilan olimpiade ipa?" tanya Orion pada Bintang disela sela langkah mereka.
Bintang mengangguk "iya kak"
"Lo emang pantes dapet beasiswa, eh Langit juga sama kayak lo tapi bedanya dia dibidang ips"
"Oh ya? Bintang kira cuman Bintang doang yang dapet. Iya soalnya disekolah ini yang dapet beasiswa bukan merasa spesial tapi malah dibuli"
"Eh kakak cuman bercanda, hehe" tambah Orion.
Orion menghembuskan nafas, ia menoleh kearah Langit yang berada disampingnya. "Dulu kakak nyuruh buat Langit nggak cerita apa apa kalau dia dapet beasiswa, tapi malah kakak sendiri yang keceplosan. Alasan nya kamu tahu sendiri kalau orang yang dapet beasiswa suka dipandang rendah"
Memang benar, disekolah SMA Semesta ini bisa dibilang unik karena orang yang dapet beasiswa selalu dipandang rendah, alasan nya karena pasti orang yang dapet beasiswa pasti miskin, tidak mampu membiayai sekolahnya.
"Bintang minta maaf, mungkin karena kak Langit bela aku jadi kak Langit harus ngasih tahu kalau kakak dapet beasiswa" kata Bintang menunduk.
"Nggak usah minta maaf, lagian bukan keinginan gue buat nyembunyiin semua ini" Langit bersuara dengan dingin. Mungkin ini kalimat terpanjang?

KAMU SEDANG MEMBACA
Sirius
Teen FictionAlasan Sirius mulai menerima takdir karena ada adik kesayangan berada disampingnya, Canis. Karena keluarga sudah tak ada, mereka terpaksa hidup dipanti asuhan. Suatu hari, Canis diadopsi oleh keluarga kaya. Namun kabar tak terduga, Canis dan kelu...