Rencana.

19 6 1
                                    

Sudah berapa kali sahabatnya itu mengatakan agar membuka hati untuk menerima orang disekitar sebagai teman pada dirinya. Namun penolakan lah sebagai jawaban Langit. Memang mudah untuk menerima orang lain? Mungkin mudah untuk Orion, karena sikapnya yang friendly, namun bagi Langit itu hal yang sulit.

Sore itu, Langit menunggu Orion didepan kelas sambil membaca buku. Sahabatnya itu, Orion sedang latihan basket. Ntah mengapa saat laki laki itu memintanya untuk menunggu, Langit hanya menuruti saja, katanya Orion akan menginap di Panti Asuhan, sebab orangtuanya sedang melakukan perjalanan bisnis.

"Sorry, nunggu lama" ucap Orion sambil mengatur nafasnya "tunggu bentar gue ganti baju dulu" ucap Orion yang sedang memakai baju basketnya.

"Iya" Langit bersuara.

"Kuy" ajak Orion selang beberapa menit. Langit beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan disamping Orion.

"Gimana, lo udah nerima mereka sebagai temen?" Tanya Orion memastikan agar Langit benar benar menerima Arcturus, Bintang, dan Adara.

"Nggak" jawab Langit padat dan jelas.

Orion membuang nafas gusar "ayolah, nggak selamanya lo tertutup kayak gini"

"Gimana waktu"

Orion tak membuka mulutnya lagi. Mereka berjalan tanpa ada yang membuka suara, Hening.

Baru saja Orion hendak membuka pintu mobil, retinanya menangkap sosok perempuan yang tak asing baginya.

"Bintang!" Teriaknya keras. Sang perempuan menoleh, ia membalas lambaian dari Orion.

Bintang mendekat "Hallo kak" sapanya ramah pada Orion, Bintang tak menyapa pada Langit, sebab Langit lebih dulu masuk mobil.

"Habis dari mana? Kok pulangnya terlambat?" Tanya Orion, tubuhnya bersandar di mobil.

"Habis kerja kelompok" Bintang menjawab, namun ada keraguan, sebab hanya dirinya yang mengerjakan.

"Kerja kelompok?" Orion menjawab dengan pertanyaan, salah satu alisnya mengangkat satu. "Dikerjain bareng bareng?"

Bintang menggigit bibirnya "Em- dikerjain bareng bareng kok"

"Yakin?" Pandangan Orion hanya tertuju pada wajah Bintang.

Bintang mengembuskan nafas lalu menunduk karena takut akan tatapan Orion yang tajam "kakak pasti tahu jawabannya"

"Masuk!" Ucap Orion sambil membuka pintu belakang. Bintang masuk tanpa banyak bicara.

Mobil meninggalkan tempat sekolah. Tak ada yang bicara. Bintang sibuk dengan pemikirannya, Langit sibuk dengan matanya yang terpejam, dan Orion yang sibuk menyetir.

"Kak, ini mau kemana?" Suara Bintang masuk ke telinga dua orang yang duduk didepan.

"Anterin dulu Langit ke panti terus kerumah lo" Orion menjawab, Bintang hanya mengangguk. Setelah itu hanya kesunyian yang mendominasi.

Drtt

Drtt

Drtt

"Tumben hp lo rame Lang, biasanya juga nggak suka megang hp" Orion menatap Langit. Langit hanya mendengus lalu merogoh handphonenya yang berada disaku.

"Dapet notif dari siapa?" Orion kepo.

"Panitia lomba" jawab Langit tanpa menoleh kearah Orion.

Orion mengangguk "lomba apa?"

"Puisi"

"Wah hebat, kakak ikutan dimana?" Bintang ikut bersuara.

"Instagram"

"Berbayar kak? Kalo ikutan gitu persyaratannya apa aja? Kak kalo ada lomba lagi kasih tahu Bintang ya, Bintang suka kalo nulis puisi atau cerpen" Bintang ingin tahu.

Langit tidak menjawab, ia hanya menunjukan handphonenya yang memperlihatkan poster lomba dan persyaratan dll pada Bintang.

"Eh nggak jadi kasih tahu Bintang deh"

"Kenapa?" Orion ikut bersuara. Bintang menggeleng. Kemudian tangan kiri Orion merebut handphone milik Langit. Orion mengangguk setelah tahu alasan Bintang tadi.

"Kalo masalah persyaratan yang biasanya harus follow ig terus ngirim ke email, lo bisa buat akun di hp gue atau Orion. Ini tentang hobi lo, ada cara mudah bukannya langsung mundur gitu aja" Langit berbicara panjang tak seperti biasanya, tanpa mengalihkan tatapannya dari handphone miliknya. Orion yang disebelahnya tersenyum, seolah mengatakan 'kamu bisa menerima orang lain menjadi teman'

"Eh? Em-makasih kak. Kalo ada info kasih tahu ya, hehe" Bintang agak ragu untuk mengatakannya.

"Hm" jawab Langit singkat.

***

Mungkin bagi sebagian besar orang yang hidup dengan keluarganya pasti akan memiliki apa yang dia mau. Namun berbeda dengan Langit yang sudah hidup di panti asuhan.

Kebersamaan selalu terjalin dalam hal apapun. Seperti sekarang ini, mereka sedang makan bersama sama dengan alas daun pisang. Setiap hari, mungkin mereka seperti itu, bahkan bisa satu piring oleh lima orang. Diikuti oleh cerita anak anak panti membuat keadaan selalu ceria.

Mereka selalu bersyukur, mungkin mereka kadang selalu iri jika melihat dunia luar bagaimana anak anak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya sendiri, tapi mereka selalu bangkit bersama, selalu mengatakan bahwa pengurus panti adalah orangtua mereka.

Diantara kaki Langit, ada Zaza yang sedang disuapi oleh Langit. Mungkin anak perempuan dan laki laki memang berbeda ruang, namun Zaza selalu menempel pada Langit.

Zaza, perempuan berusia lima tahun yang sudah hidup di panti dengan keadaan yang segala terbatas. Ia ditinggalkan oleh orangtuanya sendiri saat berusia satu tahun.

"Bang, Zaza nggak mau pake tahu" ucap Zaza protes saat Langit menyuapi dengan nasi dan tahu.

"Pake tempe?" Tanya Langit dan Zaza mengangguk.

  Sesudah mereka makan, mereka kelapangan sebab disana ada Orion yang sudah siap membagikan wafer nabati.

  "Bang Ori, Zaza mau tiga" Zaza meminta lagi saat ditangannya ada dua nabati.

  "Bang Ori, Salsa juga"

  "Fahri juga"

  Orion tersenyum "nggak boleh buat besok lagi ya"

  Zaza, Salsa, Elsa dan yang lain meminta tiga nabati hanya  cemberut.

  Dipanti asuhan ini ada 28 orang. Lima orang berusia 3 tahun. Lima orang berusia 4 tahun. Sembilan orang berusia 5 tahun. Dua orang berusia 6 tahun. Empat orang berusia 7 tahun.  Satu orang berusia 12 tahun. Satu orang berusia 14 tahun. Dan terakhir Langit yang berusia 17 tahun.

  Langit dan Orion hanya memandang anak anak yang sedang berebutan bola. Mereka tertawa mengesampingkan luka mereka. Mereka berlari seolah tanpa membawa beban yang seharusnya tidak mereka miliki diusia kecil. Langit tersenyum tipis.

  "Ori, gue punya harapan, dan itu untuk mereka buat nggak putus sekolah. Pengurus disini bakal bantu, tapi terlalu pecundang bagi gue kalo gue gak ikut bantu" Langit bersuara tanpa menghilangkan nada dinginnya. "Rencana gue mau kerja"

  Orion terkejut "gue bisa bantu Lang, lo nggak harus kerja apalagi sekolah pulang sore, kalo lo kerja, waktu istirahat Lo berkurang"

  "Panti nggak bisa terus ngandalin tabungan ayah lo atau lo sendiri. Butuh uang banyak sebab ada 9 orang yang bakal masuk SD tahun ini" Langit menatap Orion.

  Orion dan keluarganya itu banyak membantu dalam hal apapun dipanti ini, bahkan tahun lalu dua orang yang akan masuk SD, uangnya ditanggung oleh ayah Orion. Mungkin ada bantuan dari pemerintah ataupun mahasiswa, namun kebanyakan adalah kebutuhan seperti makan, dan bahan bahan lainnya.

  "Tenang Lang, gue bantu lo, gue selalu ada disamping lo"
  

***
Ada yang nunggu?



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 18, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SiriusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang