Pagi sekali aku bersiap untuk bertemu dengan teman lamaku dari kampung halaman, Tasya namanya. Dia cantik,tinggi,pintar dan satu yang ku suka darinya dia orang yang bisa menghargai nasihat orang lain.
-Cafe Pelita-
"Assalamualaikum Sya" sapa ku
"Waalaikumussalam, silahkan duduk" Tasya mempersilahkan ku untuk duduk.
"Iyah, udah lama tah nungguin aku, maaf macet soalnya"
"Masa di Bandung aya macet, kamu mah aneh"
" Hehe, lama nungguin angkotnya atuh"
"Gimana kabar Umi,Abi sama si Aa ?"
"Alhamdulillah"
"Bagus deh. Asyi, ada yang mau aku omongin sama kamu" ucap Tasya dengan serius
"Iyahh, silahkan ngomong ajah"
"Jadi, kemarin aku ketemu...."
Ddddrrrrrttttttrr
"Bentar ya Syi, aku angkat telpon dulu"
Assalamualaikum, hallo dek
.......
Iyahh, syukur kalau kamu udah sampai rumah. Tadi ada Ami temenmu nanyain kamu ke rumah. Teteh bilang kamu masih ada Les tari.
.......
Iyah, waalaikumussalam
"Loh, Ami siapa Sya" ujarku dengan nada heran.
"Ituloh temennya Adekku"
"Ouhhh, kok aku kayak kenal yah namanya"
"Nama Ami kan banyak Ay"
"Hehe,, udah lama aku nda pernah dipanggil nama itu lagi Sya"
"Ehh, udah mau Dhuhur nih, kita cari mesjid terdekat yuk" ajakku untuk melaksanakan sholat.
Setibaku di Rumah.
" Lohh, kamu udah pulang ?" tanya Umiku
" Sudah Mi, baru saja. Aa kapan pulang ? Asyi sudah rindu Aa. Dulu Aa yang selalu antar jemput Asyi, sekarang Asyi sendirian. Asyi kesepian Mi" ucapku sembari Menahan air mata.
" Doakan selalu semoga Aa mu cepat pulang dan selalu dalam lindungan Allah" ucap Umi dengan lembut sembari memelukku yang hampir menangis.
" Aamiin"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Umiii,, Asyi mau keluar sebentar yah, mau ke Minimarket dekat rumah. Pliss ya Mi, Izinin Asyi"
"Iyah, ttdj anak Umi" gurau Umiku. Umiku memang seperti itu, katanya umur boleh tua tapi jiwa masih tetap muda. Hahaha
Sesampainya di Minimarket, aku segera membeli barang yang seperlunya untuk dibeli agar menghemat uang. Ketika ingin membayar, aku mendengar sedikit keributan di kasir.
" Wah, kalau tidak punya uang jangan beli barang dong dek" ucap pegawai minimarket
" Tapi kan cuman kurang 5000 mba, aku janji nanti balik lagi kesini bayar kok"ucap anak kecil yang usianya sekitar 13 tahun lebih.
Segera ku sodorkan Uang untuk membayar barang yang dibeli anak itu.
"Ini mba sekalian bayar sama punya saya" ucapku pada si pegawai.
"Makasih ya kak" ucap anak itu dengan senyumannya.
"Iyah dek"
Setelah mendapatkan barang yang ku beli, segeralah aku pulang karena gerimis sudah menghampiri. Aku ambil payung lipat di tasku.
Ketika ingin pulang, aku melihat anak itu lagi dengan raut wajah cemberutnya. Aku hampiri dia
"Loh, adek ngga pulang ?" tanyaku
"Abang ngga bisa jemput Ami kak" dengan wajah ditekuk.
'Yaallah, kenapa harus nama Ami lagi' batinku
"Yuk, kakak antar daripada keburu maghrib"
"Makasih kak, mari pulang rumahku ngga jauh kok dari sini. Nanti Ami kenalkan sama Umi dan Abang Ami ya kak" ucap Ami dengan riangnya
"Iyah Ami, nama kakak Asyifah"
"Aku jadi ingat Teh Ayu, dia temen Abang. Baik banget sama Ami, Kayak kakak"
"Benarkah ?" Ucapku terheran kenapa semuanya mirip dengan dia.
"Iyahh kak, nahh udah sampai. Yuk, masuk kak" ajak Ami
" Ehh, tidak usah. Kakak harus pulang, nanti Umi kakak nyariin."
"Yahh, padahal Ami masih ingin ngobrol sama kakak" lagi lagi Ami cemberut.
"In Sya Allah lain waktu. Rumah kakak di dekat pertigaan sana kok, ga jauhkan dari rumah Ami"
"Iyah kak, Ami masuk dulu. Jangan lupa mampir ya. Wassalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Sampai rumah, segera aku hubungi Tasya untuk memastikan apakah Ami teman adiknya adalah Ami yang aku tolong tadi.
"Assalamualaikum Syi, ada apa yah telpon ?"
"Waalaikumussalam, Aku aku tanya nih. Ami teman Adikmu, apakah rumahnya dekat dengan rumahku ?"
"Iyah, emang kenapa ya ?"
"Sya, Kemungkinan dia Ami, Adik orang yang menolongku waktu kecil."
"Wahh, memang nya kamu udah pastiin Ami yang kamu tolong punya kakak lelaki, dan uminya seorang ustadzah ?"
"Dia punya kakak lelaki kok, tapi belum pasti juga Sya."
"Nah, gimana kalau kita mulai cari kebenarannya besok"
"Boleh, makasih yaa Tasyaakuu udah mau tolong aku"
"Iyahh, kamu kan sering bantu aku. Apa salahnya kalo aku bantu kamu sekarang. Udah dulu ya, besok aku Kerumah mu. Wassalamualaikum"
"Waalaikum……"
Tuutttt
"Dasar kebiasaan"
'Yaallah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun. Ampunilah segala dosa dan kesalahan orangtua hamba, Aa hamba, orang-orang disekitar hamba, serta diri hamba. Ya Rohman, jika jalan yang hamba tempuh esok adalah baik menurutmu, permudahkanlah. Hamba tak ingin menaruh harap kepada yang tidak pasti yaallah. Lindungilah hati hamba agar senantiasa selalu mengutamakanMu, mengagungkan namaMu. Robbana Atinaa fi dunyaa hasanah wafil'akhiroti hasanah wakinna adzabannar. Aamiin'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya teman-teman baru bisa Publikasi sekarang. Author lagi sibuk tugas sekolah dan persiapan PAT nih.
Doain yah semoga sukses, para Readers juga semoga sukses bagi yang mau PAT, bagi yang udah semoga hasilnya memuaskan, Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allahu Rabbi. Amiin
27 Mei 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Penantian Yang Tak Dirindukan
Teen FictionIni bukan tentang Ia yang berjuang demi cintanya, bukan pula tentang Ia yang berdoa agar disatukan dengan seseorang yang Ia nantikan. Ini hanya sebuah kisah yang tak pernah Ia pikirkan sebelumnya. Ini hanya cerita kecil tentang Ia dan penantiannya. ...
