#Tenang. (2) I

1.2K 156 3
                                        

Sambil didenger lagu di atas ya! Enjoy!

                                     ———

Udara hari itu terbilang sejuk, terik matahari sama sekali tidak menyengat. Kongpob bersyukur cuaca tidak ikut serta dalam membuat harinya menjadi lebih buruk.

Tangannya mengetik pesan mengabari kekasihnya bahwa ia sudah sampai, Kongpob menambah beberapa kata penenang dengan emoji berbentuk hati diujungnya.

"Tenang ya, apapun yang tanggapan bapak sama ibu, pastinya gak akan ngerubah apa apa tentang kita. Aku sayang kamu, kak Arthit❤️"

Kakinya lantas melangkah ke depan pintu rumahnya, ada perasaan yang tak bisa dijelaskan.

Rasa takut dan berani yang menyatu.

Rasa takut akan reaksi orang tuanya yang mengetahui bahwa anak laki satu-satunya di dalam keluarga tak menjadi seperti yang mungkin mereka inginkan, lalu menyatu dengan rasa berani akan perasaannya yang kuat terhadap Arthit. Tapi ia berusaha tetap tenang, membiarkan semuanya berjalan sesuai garis hidupnya.

Kongpob memutar knop pintu rumahnyaㅡ langsung bertemu dengan ayahnya yang sudah terduduk di ruang tamu. Tangannya memegang secangkir kopi hitam seperti biasa dengan ibu Kongpob di sebelahnya.

"Assalamualaikum."

"Walaikumsalam." keduanya menjawab salam Kongpob.

Kongpob langsung duduk di hadapan Ayah dan Ibunya, sudah terlihat mereka memang menunggu kedatangan Kongpob. Pasalnya, Ayah Kongpob bukan orang yang mempunyai banyak waktu luang, namun sekarang merelakan waktu untuk mengosongkan jadwal untuk berbicara.

"Bapak mau langsung ke intinya." Ujar ayah Kongpob memulai pembicaraan.

Tak bisa berbohong, perasaan takut sekarang Kongpob melebihi rasa beraninya.

"Sudah berapa lama?"

"Hampir satu tahun, pak." Jawab Kongpob menatap mata ayahnya.

Kongpob berusaha mencari apa arti dari tatapan kedua orang tuanya, ada sebesit perasaan kecewa yang bisa Kongpob artikan. Hatinya mencelos.

"Satu tahun?" Sekarang ibunya yang membuka suara.

"Iya bu."

Ibunya menghela nafas berat, lalu melihat ke arah ayahnya yang masih terdiam.

"Dari kapan?" Tanya ayahnya lagi.

"Tadi kan Aa udah bilang, Aa udah satu tahun samaㅡ"

"Bukan, dari kapan Aa sukanya sama laki-laki juga?"

Deg.

Tidak tahu kenapa, pertanyaan itu terdengar sangat berbeda saat orang tuanya yang melontarkan.

Lalu dengan keberanian penuh, dan sekilas mengingat senyum indah Arthit, Kongpob menjawab,

"Sebenarnya dari dulu Aa gak masalah sama siapa aja Aa jatuh cinta, pak, bu. Dari Aa masih SMP juga udah gak masalah sama siapapun. Tapi, baru sekarang dan ini pertama kalinya Aa jalin hubungan dengan gender yang sama."

Kongpob tidak menyangka, secara langsung ia memberi tahu orientasi seksualnya tanpa menyanggah apapun lagi.

Kedua orang tuanya menatap Kongpob dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, tangan Ayahnya yang tadi mengenggam kopi langsung diletakkan di atas meja.

"Aa tau ini pasti bikin kecewa karena ini bukan yang Bapak sama Ibu mau dari Aa." Ujarnya dengan suara yang tertahan, tidak ingin melepaskan bulir bening didepan kedua orang tuanya.

SOTUS: jika di Bandung. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang