Pantai Gili Trawang yang telah di penuhi oleh para angkatan 14 dan 20 itu sangat pouler dengan scuba diving dan snorkeling. Pantai yang terletak di wilayah Cakranegara ini, menjadi spot terbaik untuk wisata kuliner dan wisata belanja bagi para pengunjung, turis, atau bagi para wisatawan lainnya.
Senyap-senyup angin pantai telah mengayunkan tirai yang sedang dipasang oleh beberapa alumni dari angkatan 20. Sedangkan dibaliknya, tampaklah Zafran yang terburu-buru berjalan kea rah mereka.
"Nay...reuninya dibatalin!." Ucap Zafran dengan nada yang agak mengeras. Sehingga, semua orang yang sedang melakukan aktivitasnya berhenti dengan kabar yang di bawa Zafran saat ini.
"Kok dibatalin? Emangnya ada apa?." Pertanyaan yang sedari tadi ingin dilontarkan oleh beberapa orang, tetapi tidak berani karena cowok itu hanya mengarahkan pandangannya ke arah Nayza.
Gadis yang berpakaian santai itu turun dar kursi yang dinaikinya untuk memasang tirai dan melangkah ke arah Zafran. Kemudian diikuti oleh Ocha dan Keyra serta yang lainnya.
"Gue dapet informasi kalo ada satu mobil dari angkatan 14 kecelakaan!." Jawab Zafran yang masih sibuk mengotak-atik ponselnya untuk mengetahui info selanjutnya.
"Jadi, sekarang mereka dimana?." Tanya Keyra sambil memakai blezernya asal, tepat di samping Nayza.
"Di rumah sakit deket sini!." sambung pria itu setelah berhasil menemukan lokasi rumah sakitnya.
"Ya udah. Tunggu apa lagi? Ayo kita ke sana!." Ajak Nayza.
Dengan langkah cepat, mereka mengambil mobil sewaan yang telah tersedia di pulau itu dan langsung menancapkan gas menuju ke Rumah Sakit Umum Sidoarjo.
Rumah Sakit Umum Sidoarjo, 11.20 A.M.
Setelah mendengar serene ambulance yang mengarah kepada mereka, para dokter pun dengan siap siaga meluncur untuk mengerjakan tugasnya. Tidak seperti biasanya mereka mendapatkan pasien pada jam yang tergolong masih awal. Tapi, siapa yang tahu? Itu semua adalah kehendak Sang Maha Kuasa. Hanya Dialah yang mengetahui semua yang tidak pernah di ketahui oleh makhluk lainnya.
Lengkap dengan para dokter ahli bedahnya masing-masing, pintu lima kamar ICU terbuka lebar. Segala benda dan alat tajam sudah menunggu pemiliknya untuk digunakan sedari tadi. Suasana pun ruangan menjadi hening.
Satu jam telah berlalu, Nayza dan ketiga sahabatnya masih setia menunggu hasil dokter di lobi ICU Kalijaga itu. Bukan hanya mereka yang berkutat untuk menunggu kabar dari dokter, ada beberapa dari angkatan 14 dan 20 lainnya yang menunggu di kamar ICU yang tersisa.
"Tunggu. Tunggu. Kita nunggu seseorang di dalam ruangan ICU ini? Emangnya kita kenal sama penghuninya? Perasaan, di antara kita gak ada yang punya kenalan di angkatan 14? Betul nggak?." Bingung Nayza dengan menampilkan beberapa kerutan di dahinya. Sehingga, itu sukses membuat yang lainnya dilanda oleh kebingungan.
"Ya. Betul juga apa yang lo bilang Nay! Apa berhak kita di sini?." Ucap Keyra.
"Apa kita hubungin keluarganya aja. Atau siapa dia ajalah! Biar jadi wali. Nanti tiba-tiba dokter nanyak pulak siapa walinya. Emang kalian mau jadi walinya?." Usul gadis berjilbab itu.
"Yaelah, Cha. Kalo kita tau siapa walinya mungkin kita udah hubungin. Ini kita aja enggak tau siapa yang ada di dalam. Gimana mau hubungin wali atau kenalan dia. Nomor hpnya aja juga gak ada. Iya sih nanti kalo dokter nanyak siapa walinya. Kita gak tau mau jawab apa? Tapi gimana juga dong?." Sambung keyra.
Segenap iklim tropis yang panas dan lembab di Kota Mataram , kembali di rasakan oleh keempat insan itu. Mereka menghembuskan nafas yang sesak jikalau tidak dikeluarkan. Tidak tau harus melakukan apa, mereka lebih memilih untuk diam sambil berpikir. Siapa tahu dengan begitu, dapat menghasilkan keputusan yang sesuai dengan jalur pikir mereka. Sampai kemudian pria berhoodie hitam itu bangkit dari tempat duduknya sambil menatap ke arah ruangan yang bertuliskan ICU Kalijaga itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENAZA
Misterio / SuspensoMasih banyak hal yang perlu kulakukan. Tanpa berharap apa yang seharusnya menjadi nyata di bagian babku yang selanjutnya. Hidup memang tidak pernah berjalan dengan arah yang diinginkan. Karena ia memiliki arah tersendiri yang harus dilampauinya.
