Pagi itu cerah. Secerah masa depanmu kelak. Semoga.
Aku masih menimba ilmu kelas 9 SMP favorite di daerahku. Aku manusia biasa. Remaja biasa bahkan aku sendiri tidak tau keistimewaanku apa, selain sabar.
Nggak kerasa, udah setahun diselah-selah waktu sekolahku, aku diem-diem suka sama Dimas. Suka? Entah, Benci? Iya, nggak ngerti lah pokoknya. Nggak ngerti kenapa, nggak ngerti aja. Padahal kita deket enggak, akrab juga enggak, Kek bukan temenan. Padahal dulu kelas 8 aku sekelas sama dia, dan disana aku kenal dia. Eh, emang belom pernah akrab sama cowok manapun, selain afga sahabat aku sama dea dari kelas tujuh sih. Dasar aku.
Dasar hati! kok bisa kepleset gini sih.Nggak kerasa juga, udah mau ujian dan aku butuh motivasi. Seperti, saat butuh motivasi mandi selain orangtuaku. Namanya juga bocah. Iya.. ngaku deh, kalo aku masih kek bocah.
Siangnya, aku harus les mapel IPA khusus. Karena nilai tryout IPA ku kali itu jelek. Btw, les khusus itu emang udah tradisi sekolah buat ngebantu siswanya persiapan ujian yang belum paham beberapa mapel.
Kebetulan seruangan sama Dimas. Lumayan seneng lah, hehe. Tapi ngrasa aneh juga. anak ini kenapa bisa anjlok gini. Biasanya nilainya bagus-bagus. Bahkan kalau diparalel semua kelas, nilainya bisa lebih tinggi dari punyaku. Kali ini, dia sama-sama terjun bebas kayak aku.
Didunia ini pasti bukan cuma kau, orang yang sering nggak sengaja merhatiin orang. Waktu itu, akupun nggak sengaja merhatiin Dimas. Ternyata lutut kaki, siku dan wajahnya luka, kayak kebaret sesuatu.
Sorenya saat bel pulang sekolah, aku tanya temenku, dia saudara perempuannya Dimas. Katanya, dia sering ikut balap motor. Jadi, wajar aja kalo badannya luka gara-gara jatuh. Hmm jadi agak khawatir. Tapi ngapain khawatir juga. Toh dia nggak peduli. Eh aku kok baru tau ya, padahal udah setahun kenal dia. Ah, sabodo teuing lah.
Beberapa menit setelah perbincangan itu, temanku pulang. Lalu, hujan deras mampir membasahi halaman-halaman dan lapangan utama sekolah. Mampir doang sih. Yang singgah agak lama namanya gerimis. Aku emang sengaja nggak langsung pulang. masih asik baca buku di bangku depan kelas Dimas. Yang emang jauh banget dari kelasku. Tapi nyaman aja duduk disana.
Gerimis masih keras kepala untuk menetap. Mungkin dia rindu dengan halaman itu setelah beberapa hari nggak keliatan. Buku bacaanku habis, dan aku memutuskan untuk pulang. Aku kalo sekolah, berangkat pulang jalan kaki. Sekolahku deket sama rumah. Yaa,,, nggak capek-capek amat kalo jalan kaki.
Aku masih menyusuri jalanan yang basah itu. Ditemani gerimis yang membuat aku suka. Jangan tanya!. Aku aja nggak tau kenapa aku bisa sesuka itu sama 'hujan' dan 'hujan-hujanan'. Padahal dingin.
Sampai diperempatan...
Mataku terbelalak, melihat cowok itu didepanku. Siapa lagi kalo bukan Dimas. Dia yang terlihat keren memegang rem depan motornya.
Aduh Hujan. Ya Allah. Apa ini...
Badanku gemetar. Jantungku tak karuan. Nafasku senggal-senggal. Apa aku kehabisan udara? Apakah ini yanh dinamakan cinta? Makan tu cinta dasar bocah. Tidak, aku masih berdiri membeku disampingnya motor mahalnya. Mahal lah. Soalnya, aku mana punya,,,
Lalu...
Gadis itu, turun dari bocengannya. Dimas hanya tersenyum kaku padaku. Gadis itu menyapaku.
"Hai naa, kok baru pulang? Padahal aku yang baru main kerumah Dimas aja udah balik."
Sesekat nafasku masih kaget. 'Pea banget sih lo, astaghfirullah. Nurunin dia disini!' batinku. Lalu, aku menjawab sekenanya. "eh, ha? iya."Gadis itu teman dekat sekelasku dulu. Dekat banget. Tapi sekarang dia sekelas sama Dimas. Dia baik. Dulu murid pindahan dari daerah yang sedikit lebih kota. Dia kaya? Iya. Pokoknya, kalau dibandingin sisi materi dan ke slang ngannya, dia lebih dari aku.
Beberapa detik berlalu, dan Dimas berpamitan. "Aku duluan ya."
Gadis itu menjawab sambil senyum." Iya."Aku memperhatikannya, dan tak sengaja kulihat tangannya memakai gelang yang sering dipakai Dimas. Gelang hitam dengan sedikit corak merah. Merah memang warna kesukaan Dimas. Dimas suka berenang dan Gadis ini sepertinya sering menemaninya.
"Eh, aku balik dulu ya." Buru-buru ku meninggalkannya dang berusaha menjernihkan otak bocil ku.
Aku menggerutu pada diriku sendiri.'lo bukan siapa-siapa. Inget! Lo nggak penting dan dia lebih nggak penting buat lo.!'
Sampai rumah biasanya aku langsung mandi kalau basah. Tapi kali ini, aku memilih masuk kamar dan begonya lagi, aku nangis. Aku menelfon afga sahabatku. Ngadu, curhat, cerita, apalah itu namanya.
Sejak saat itu, aku nggak suka hujan. Aku nggak suka kegerimisan. Aku pengen nggak suka semua itu, tapi aku nggak bisa benci semua itu.
Sebulan berlalu dan Ujian selesai.
Saat perpisahan tiba, pengumuman itu menyebalkan. Nilai Dimas lebih baik dariku. Dia mendapat nilai matematika sempurna, padahal motivasiku adalah mengalahkannya. Tapi, apa boleh buat. Takdir sudah terlalu banyak berbaik hati. Kali ini aku harus mengalah. Aku sudah belajar sebisaku.
Dia orang berada. Tentu tidak bingung akan biaya kuliah nantinya. Jadi dia masuk ke SMA favorit dan elit dan aku, memilih masuk di SMK yang nggak kalah baik.
"Sampai jumpa Dim. Dimas Al Hakam. Congrats, walau nilai inggrismu tak lebih baik dariku, tapi nilai matematikamu luar biasa. Sukses terus ya. Terimakasih yang entah untuk apa."
"Ya Rabb...
Kalo boleh, Naa nggak pengen suka sama cowok lagi. Naa bakal benci mereka kalau mereka ngebuat hati Naa Kepleset lagi. Kok Sakit Gini ya, heran."Tapi Kayaknya Allah punya rencana lain deh...
"Karena Patah. Kupikir tak salah jika aku tak percaya lagi pada sebuah arah" Naa Ariasih.
"Okay guys.🌈 Gimana ceritanya?. Ini baru permulaan selanjutnya insyaallah bakal seru.... Pantengin terus ya jangan lupa vote dan comment kalian berharga banget buat aku...."
Love you All💙
