Apa yang biasa dilakuin teman sekelas kalian jika ada satu diantara kalian berbuat kesalahan? Jika dikelas Chika, DIKUCILKAN.
Chika melihat sendiri hal itu terjadi dikelasnya. Tina yang baru datang langsung meletakkan tas kebangku disebelah tempat Chika duduk. Lalu beberapa siswi datang dan langsung membuang tas itu. "Ga ada malu lo ya? Masih mau duduk disebelah Chika?" Gadis dengan rambut panjang yanh digerai dan beberapa gelang menghiasi tangannya dan kuku yang dicat berwarna biru langit itu mendengus jijik.
"Diem lo, Lasya. Chika aja ga perduli." Jingga memaki gadis tadi. Lasya meloto pada Jingga yang dibalas acuh oleh Jingga.
"Chika lo mau duduk ama ni lonte?" Lasya bertanya pada Chika yang membaca buku pelajaran Fisika dengan nyaman. Kepalanya mengangguk tanpa menoleh. Lasya yang mendapati jawaban dari Chika mencibirkan mulutnya, "Kok gitu sih. Dia kan udah mempermainkan perasaan lo, Chika!" Lasya mengingatkan.
Dengusan kesal keluar dari mulut Chika. Buku Fisika diletakkan agak kasar diatas meja. Ia menoleh pada Lasya dan beberapa teman Lasya yang ikut beraksi. "Berisik. Aku ga fokus belajar." Chika melihat Lasya tajam.
Lasya membuat raut kesal akan perkataan Chika. "Lo! Duduk dibelakang Doni! Ga usah deket-deket Chika! Sana!" Lasya mendorong Tina dengan kuat sampai Tina hampir terjatuh. Tina meringis mendapati lebam dipergelangan tangannya yang tadi sempat terbentur meja.
"Tina!" Suara bariton mengelegar marah dari sudut pintu kelas. Aji, pria itu baru saja tiba kesekolah. Kelas 10 yang memang berada pada lantai dua dan kelas tiga yang berada pada lantai empat membuatnya harus melewati kelas Chika dan Tina. Tapi kejadian saat Lasya mendorong Tina dilihat langsung oleh Aji.
"Dihh, kek kemaren. Sampe cuma bagian akhirnya doang." Lasya mencibir melihat Aji yang perhatian pada Tina. Chika menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan membaca bukunya.
"Lo!" Aji menunjuk Lasya dengan geram. "Berani banget lo nyakitin cewe gue!"Lasya mendelik mendengar ucapan Aji. Begitupun anak-anak yang lain. Tapi Chika tetap diam belajar.
"Oho. Udah jadian aja lo, Tin." Jingga menyindir Tina.
"Aduh. Kak Aji maaf ni ya aku emang sengaja buat PACAR kakak jatuh." Lasya menekan kata pacar.
Aji yang geram mendelik pada Lasya lalu mengajak Tina keluar dari kelas. Semua sorot mata menatap dua sejoli yang dengan perlahan keluar dari kelas mereka. "Buset dah itu si Lonte." Dita menggeleng takjub.
"Anjir baru kemarin Chika ama Tina berantem. Eh udah jadian." Karin ikut menyauti.
"Emang dari SMP ga ada benernya tu anak." Jingga juga ikut menjadi kompor. Lalu semua mendatangi Jingga meminta cerita tentang Tina yang ia sebutkan tadi. Pasalnya memang Jingga yang dati SMP sudah sekelas terus dengan Tina.
"Dulu dia dikelas kerjaannya ya bikin drama kek gini. Manfaatin anak yang pinter kek Chika. Terus jadian ama kakak kelas biar pamor. Dan yang lebih par-
Gebrakan meja memotong cerita Jingga. Semua melihat pada Chika yang sudah berdiri lalu melirik tajam pada mereka semua. "Kaya kalian ga pernah nyakitin orang aja. Kerjaannya cuma ngomongin kesalahan orang lain. Sekali-sekali dong cerita tentang kejelekan sendiri." Setiap kata yang keluar dari mulut Chika sangat menohok mereka yang tengah menceritakan kejelekan Tina.
"Minta maaf nanti kalo Tina balik kekelas. Aku mau keperpus dulu beli keripik." Chika melangkah keluar kelas dengan membawa beberapa buku kecil.
"Anjir kantin woy bukan perpus!" Jingga berteriak.
"Ntar. Dia tadi belain Tina ya?" Lasya bertanya pada semua. Namun semua menjawab dengan mengangkat bahu tak tahu.
Chika terus menyusuri koridor kelas sepuluh. Saat belokan menuju tangga lantai tiga, Chika mendengar suara sesegukan. Ia berhenti dianak tangga pertama melihat Tina dan Aji tengah duduk pada anak tangga teratas.
Aji yang mengusap bahu Tina melihat pada Chika yang diam ditempat. Matanya melihat datar kearah mata Chika yang sama datarnya. "Mau ngapain lo!" Aji berujar dengan keras. Tina mengangkat kepalanya melihatkan bekas airmata yang masih mengalir. Matanya menangkkap sosok Chika yang akan berbalik pergi.
"Chika!" Tina berdiri berujar dengan sedih, "Gue kira lo temen gue, Chik. Tapi lo diem aja pas gue digituin." Air mata Tina kembali menderas. Chika yang tak perduli melanjutkan langkahnya meninggalkan Tina dan Aji.
"Bangsat!" Ujaran kebencian Aji masih bisa didengar oleh Chika.
Saat tak sudah dirasa jauh dari tangga, Chika berhenti dan menyenderkan tubuhnya pada dinding. Kepalanya menunduk. Tangannya yang membawa beberapa buku kecil meremas buku itu kuat sampai buku jarinya memutih. "Kok ngilu?" Chika bertanya pada dirinya sendiri saat dirasa dadanya terasa sangat sakit.
Beberapa bulir air mata jatuh menggenang di kacamata bulat miliknya. "Lah, kok nangis?" Lagi, ia bertanya sendiri.
Sebuah kain tebal yang dirasa seperti jaket oleh Chika mendarat pada kepalanya. Menutupi kepala hingga bahunya. Chika melihat ada sepasang kaki dengan sepatu kets hitam berdiri menghadap kepadanya. "Bau. Jaketnya bau." Chika menarik jaket itu hingga terlepas dari kepalanya.
"Gitu bener,ade Chika abang Bagas kok jahat." Mata Chika menangkap bayangan kakak kelas yang sering membuat onar disekolahannya. Wajah Bagas yang tak terlihat jelas akibat kacamatanya yang basah, membuat Chika memberikan jaket serta buku yang ia bawa pada Bagas. Bagaspun menerimanya dengan senang hati.
Kacamata bulat itu dilepas dari Chika menampilkan wajah polos Chika yang serius membersihkan kacamatanya dengan kain lap khusus kacamata. Bagas berdecak, "Ginini kalo punya temen bego."
Chika kembali mendongak pada Bagas saat mendengar ucapan Bagas. Alisnya terangkat satu, "Apa kak?" Bagas menggeleng. Seteleha selesai Chika memasang kebali kacamatanya, mengambil buku pada Bagas.
"Kak Bagas, berapa tahun jaketnya ga dicuci?" Chika bertanya.
Bagas menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Dari pertama beli ga pernah gur cuci." Bagas terkekeh geli pada kebohongannya itu.
Chika menutup mukutnya mendelik pada Bagas, "Jorok!" Makinya.
"Eh, bercanda elah! Baru 2 hari ga gue cuci!" Bagas tergesa-gesa membeberkan kebenarannya pada Chika. Tapi Chika memasang wajah tak percaya.
"Serius gue!" Tapi Chika tetap tak percaya. Saat Bagas memasang wajah pasrah dan kecewa, Chika terkekeh melihatnya. Satu alis bagas terangkat. "Gue kira lo ga bisa ketawa."
Chika langsung mengembalikan ekspresi datarnya. "Jangan datar-datar jadi cewe, lo cantik kalo ketawa kaya gini."
"Aku tau aku cantik kak." Balas Chika cuek. Lalu pergi meninggalkan Bagas.
"Tiati ade Chika abang Bagas. Jan bolos lagi ya! Biar abang aja uang nakal kamu jangan!" Teriakan Bagas menggema dikoridor yang sepi. Beberapa guru keluar dari kelas menegur Bagas. Langsung saja Bagas berlari menuju kelasnya. Chika terkekeh mendengar semuanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Chika
Teen FictionGa tau ini cerita apa. Yang jelas ini cuma kisah absurd tentang cinta masa sekolah Chika. Cinta pertama yang Chika rasakan pada kakak kelasnya. Yang jatanya jika cinta pertama itu tidak pernah berakhir baik. Maka dari itu, Chika akan berusaha agar c...