A pitch dark room
I shouldn't get used to it
But I'm used to it again
The low-pitched sound of the air conditioner
If I don't have this, I might just fall apart
÷÷÷
Alarm berbunyi dengan begitu nyaringnya, namun nampaknya sang pemilik ponsel telah terbangun sebelumnya. Ia membuka matanya lebih awal, bahkan disaat sang surya belum menampakkan dirinya. Ia menatap kamarnya yang masih gelap gulita.
Pemuda itu meregangkan badannya sejenak sebelum akhirnya menoleh kesamping. Tangannya meraih ponselnya dari atas nakas. Menekan dengan jarinya untuk mematikan suara berisik yang berusaha membangunkannya disaat ia telah terjaga.
Setelah mematikan alarm yang berbunyi jemarinya beralih menekan aplikasi obrolan yang berada diponsel pintar itu. Begitu banyak chat yang masukㅡmemang biasanya juga begitu. Tapi, untuk kali ini berbeda.
Karena hari ini adalah hari ulang tahun Jungkook.
Perasaannya menghangat saat membaca chat yang masuk satu persatu. Hampir semua kontaknya memberi ucapan yang begitu manis disertai harapan mengenai dirinya. Ia kemudian menekan aplikasi social media miliknya, tak jauh berbeda. Dapat ia lihat disana begitu penuh dan sesak oleh notifikasi.
Tidak begitu terkejut sebenarnya. Karena sejak beberapa tahun terakhir hal seperti ini bukanlah sesuatu yang asing lagi baginya. Bahkan disetiap ulang tahunnya namanya terpampang jelas di trending topic hari itu. Hal ini membuat Jungkook tersenyum namun juga terharu.
Idol.
Ya, Jeon Jungkook merupakan seorang idol dengan JK sebagai nama panggungnya.
Setelah berjuang menjadi trainee selama bertahun tahun akhirnya usahanya terbayar. Debutnya sukses mendapat perhatian lebih, di tahun pertamanya dia berhasil mengumpulkan banyak penghargaan.
Suaranya yang mengalun merdu disetiap lagunya, juga parasnya yang menawan sampai sampai dapat memikat siapapun yang menatapnya.
Kemahirannya dalam memainkan alat musik serta jangan lupakan bahwa ia sangat pandai dalam hal menari. Masih banyak lagi keahlian yang ia miliki tentunya, jika dijabarkan satu-satu maka akan terlalu panjang.
Intinya pemuda itu begitu sempurna, membuat siapapun kagum sekaligus iri dengan sosoknya.
Tak heran jika ditahun-tahun selanjutnya setelah ia debut pencapaiannya bertambah. Hingga kini tak terhitung jumlah penggemar yang dimilikinya. Baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Jungkook menggerakkan jari jari lentiknya, mengetikkan sesuatu disana kemudian dengan segera membagikan postingannya. Ucapan terima kasih disampaikannya, dia bukan tipe idol yang tidak menghargai penggemarnya. Jungkook itu sangat menyayangi mereka.
Namun, entah mengapa terkadang dirinya justru merasa paling canggung dengan para penggemarnya sendiri. Bukannya apa, selama perjalanan kariernya menjadi idol tidak semulus yang dibayangkan. Banyak skandal yang menghampirinya membuat namanya tercoreng hingga tak jarang komentar buruk ditujukan padanya.
Hal-hal semacam ini tentu saja membuatnya tertekan, banyak sekali pikiran buruk yang memasuki kepalanya. Pernah suatu hari Jungkook terlalu sibuk overthinking sehingga kesehatannya pun ikut menurun.
Selama ini Jungkook berjuang sendirian, tidak ada penyemangat ataupun sahabat karena pada dasarnya ia introvert. Ia pindah dari Busan ke Seoul untuk mengejar kariernya. Waktu itu tak ada satupun yang ia kenal di ibukota yang begitu ramainya.
Bermodalkan kenekatan ia pergi ke Seoul sendirian setelah ia lolos audisi di Busan sebelumnya. Sampai disinilah ia berakhir. Mimpinya sudah menjadi nyata, bahkan jauh lebih baik jadi yang ia impikan sebelumnya.
Pemuda Jeon itu membuka galerinya, memutuskan bernostalgia sejenak dengan melihat-lihat fotonya dimasa lalu. Ia tersenyum kala mendapati potret wajahnya yang dulu begitu polos terkesan pemalu.
Foto anak kecil memakai hoodie merah, memegang tusuk makanan di tangannya. Berjongkok sambil memiringkan badannya menghadap kamera. Begitu kecil dan sialnya sangat sangat sangat menggemaskan.
Ia menggeser ke kiri, foto lain ditampilkan. Jungkook ingat betul, itu adalah fansign pertamanya setelah debut. Foto bersama salah satu penggemarnya yang ia abadikan dengan ponsel miliknya. Penggemar laki-laki pertamanya, datang dengan pakaian serba tertutupnya kala itu. Jungkook tersenyum, itu sungguh berkesan baginya.
Berlanjut ke foto berikutnya, potretnya ketika masih kecil dalam gendongan sang ibu. Senyuman yang tadinya terpampang memudar perlahan. Entah mengapa, kesedihan seketika menyeruak. Dia rindu ibunya. Sangat.
Dalam foto itu terlihat ibunya mencium keningnya dengan hati hati dan penuh kasih sayang. Jungkook seakan sudah lupa, kapan terakhir ia merasakan kasih sayang sang ibu?
Jungkook terdiam miris. Sudah lama sekali tentunya.
Tak berhenti sampai disana, Jungkook berpindah ke foto lain. Nampak oleh netranya gambar wanita tua dengan baju seadanya bersanding dengannya sambil membawa bunga.
Membekas di kepalanya, itu hari saat ia lulus sekolah dasar. Neneknya berdiri disana, dengan penuh bangganya menatap cucu kesayangannya yang mendapat peringkat dua di sekolah.
Total abai dengan orang tua para siswa lainnya yang datang menggunakan pakaian mewah serta hadiah-hadiah mahal yang mereka bawakan untuk sang buah hati.
Neneknya hanya membawakan sebuah bucket bunga yang ia rangkai sendiri. Jungkook ingat setelah acara selesai mereka pergi jalan kaki berdua disore hari sambil mendengarkan Jungkook yang sibuk berceloteh tentang banyak hal.
Jungkook juga rindu neneknya.
Tanpa sadar setetes airmata telah turun di pipi kanannya. Tidak, dia tak boleh menangis atau neneknya akan ikut sedih juga. Buru-buru ia mengelapnya, lalu menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian memasang senyuman seakan baik-baik saja.
Ia fokus kembali ke galerinya.
Jungkook menggeser lagi, kali ini muncul foto yang berhasil membuat nafasnya tercekat.
Sama seperti foto-foto sebelumnya yang juga ia pindahkan dari ponsel lamanya. Namun, yang ini terasa berbeda.
Tampak disana dua pemuda yang satu berambut blonde satunya lagi dengan rambut berwarna coklat. Berfoto dengan pose tersenyum menghadap kamera.
Itu foto saat keduanya pergi berlibur di salah satu pantai di Busan.
Foto yang tampak biasa jika dilihat sekilas. Tapi, mengapa dapat Jungkook rasakan nafasnya memberat. Kenapa selalu saja rasanya seperti ini. Ada perasaan lain dibenaknya yang tak dapat ia jelaskan tatkala teringat tentang hal itu.
Maniknya menatap foto itu lamat-lamat. Begitu indah namun dalam waktu bersamaan terasa begitu menyakitkan. Kilasan memori masa lalu mulai berputar di kepalanya bak sebuah film yang ditayangkan.
-part 2 of 8
KAMU SEDANG MEMBACA
regen ;taekook✓
Fanfiction[completed] seorang idol yang terus terbelenggu masa lalu, bersikeras menepis fakta hingga pada akhirnya ia sendiri yang harus tersiksa boyxboy! short ff ©Vickimham
