16

7 1 0
                                    

Wajib bc note yg dibawah!

Fara sampai rumah, Rafael berlari kecil membuka gerbang. Sofia menunggu di depan pintu rumah. Fara men standar motornya. Rafael merangkul sambil membawa payung. Fara melepas sandal.

Fara melepas helm dan jas hujan, lantas meng keset kaki.

"Kakak! " Sofia menjerit histeris, darah keluar dari kakinya. Rafael langsung menggendong Fara ala bridal, membawanya ke kamar Fara, mendudukkan nya di toilet.

"Kenapa lututnya berdarah gini Far? Kamu jatuh atau gimana? " Fara meringis sewaktu celananya di gulung ke atas. Menampakkan luka yang agak besar. Dengan beberapa besotan.

"Sof, ambil air sama handuk anget, juga anduk kering sama P3K, cepet! " Sofi pontang panting ke dapur, mengambil baskom dan handuk, Rafa membuka jaket Fara, siku nya yang berdarah juga.

Sofi kembali dengan baskom dan handuk kecil, handuk kering tersampir di bahu. Sofi mengisi baskom dengan air hangat lantas mengambil P3K di laci meja.

Rafa membersihkan luka dengan handuk dan air hangat. Fara meringis sambil mengeringkan badannya. Sofi menaruh jaket Fara di mesin cuci.

"Kak, seragamnya buka aja, sekalian Sofi masukkin mesin, " Fara membuka seragam. Untunglah ia pakai tank top hitam.

"Bang, pelan pelan, "

"Lo mandi dulu pake aer anget, ntar gue obatin, " Rafa menggendong Fara dan menaruhnya di bathup. Lantas mengambil baju kering dan menaruhnya di pinggir washtafel yang kering. Juga handuk di gantungkan nya di gantungan handuk.

Fara melepas baju, menyalakan keran air, mengatur suhu hangat, lantas mandi. Fara mengguyur lukanya, luka di tangan, siku juga lutut. Menggigit bibir menahan perih.

Usai sabunan dan bilas, Fara handukan dan pakai baju.

"Udah Far? "

"Iya udah, " Rafa membuka pintu, merangkul Fara yang berjalan tertatih. Lantas duduk di kasur.

Rafa membasuh kapas dengan antiseptik, mengoleskan ke luka lalu di tuang nya betadine.

"Aww, aww, bang, shhh perih! "

"Iya sabar! Abis ini jelasin gue semuanya! Kenapa lo gak angkat telpon, gak bales chat, kenapa bisa jatoh dan baru pulang jam segini. Lo kan abis PMR, gimana sih?! "

"Iya bang, maafin gue deh, tadi tuh macet, HP nya gue taro tas, tas nya gue taro jok, jadi gak kedengeran. Trus pas pulang macet, "

"Maen kemana lo tadi? "

"Pasar malam, "

Rafa diam. Memutar kasa mengelilingi lutut. Beralih mengobati lengan, meneteskan betadine dan menempel plester, "

"Trus kenapa luka gini? "

"Iya, tadi jatoh, licin, "

"Makanya jangan ngebut! Udah tau licin! Lo gimana sih?! "

"Iya iya bang, maaf deh, "

"Bukan apa! Kalo lo kenapa napa, yang panik gue, yang diomelin gue! Gue gak becus jadi abang! "

"Ya, jangan bilang gitu lah bang, maafin gue lah, janji deh ga bakal gitu lagi. Gue Terima kok hukumannya, "

Rafa mengangkat satu alis.

"Berangkat pulang sekolah, tiga hari ini gue yang jemput. Ga boleh pake motor tiga hari ini, pokoknya kemana mana gue anter, "

"Iya deh, "

"Oke good, dah tiduran, gue bawain makan, blom makan kan? "

"Iya, "

"Yaudah, " Rafa membereskan P3K dan menaruhnya di laci. Sofi datang dengan nampan penuh berisi sepiring nasi, sup bakso, perkedel kentang dan cumi goreng tepung. Juga teh camomile hangat dengan kayu manis dan irisan lemon..

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 29, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ICE BOY X GLAMOUR GIRL Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang