Sinar mentari pagi terlihat masuk melalui celah-celah tirai yang sedikit terbuka. Gelas di atas meja nakas kini telah kosong karena habis diminum oleh pemiliknya. Pria bernama Junsu itu menguap beberapa kali. Ia merenggakan otot-ototnya yang kaku, tangannya terangkat ke atas sehingga memperlihatkan otot perutnya yang menawan.
Junsu tersenyum melihat fotonya bersama kekasihnya, Se Rin. Mereka terlihat serasi. Dia juga melihat sekeliling kamarnya. Kamarnya yang telah direnovasi kini telah berubah menjadi kamarnya yang dulu. Ruangan yang penuh dengan kenangan.
Pria itu teringat janjinya pada kekasihnya. Hari ini ia akan mengajak Se Rin bersepeda. Junsu segera bersiap, ia mencari baselayernya dan memakainya. Junsu memandang pantulan bayangan tubuhnya di depan cermin, ia tampak menawan dengan pakaian ketatnya itu.
***
Hembusan angin bertiup pelan ke arah seorang wanita yang tengah menghirup udara segar di taman. Wajah cantiknya terhalang oleh beach hat yang dikenakannya.
“Se Rin-ya!”
“Hei, aku disini” teriak Junsu dari kejauhan.
Mata Se Rin menyipit, mencari orang yang memanggilnya. Siluet orang yang tadi meneriakan namanya semakin mendekat. Tetnyata itu adalah kekasihnya, Junsu!
“Kau menyebalkan! lihat, kita akan bersepeda atau apa huh?”
“Kenapa? Apa ada yang salah?”
Se Rin terlihat kesal dengan sikap Junsu yang terlewat santai. Yah, mereka berdua tidak terlihat seperti kebanyakan orang yang akan berkencan. Se Rin sendiri memakai blouse berwarna putih yang dipadukan dengan cardigan berwarna abu-abu, serta bawahannya hanya rok selutut berwarna cokelat. Sedangkan Junsu, ia hanya memakai baselayer berwarna hitam dengan garis berwarna merah.
Se Rin benar-benar kesal dengan kelakuan Junsu, ia segera meninggalkan lelaki itu menggunakan sepeda yang dibawanya.
“Yak.. yak.. yak.. apa kau ingin mengajakku balapan dengan sepeda santaimu itu?” tanya Junsu dengan nada sinis yang dibuat-buat olehnya.
“Kejar saja aku jika kau bisa!” balas Se Rin sambil memelet-meletkan lidahnya, mengejek Junsu.
“Hah.. baiklah jika itu maumu! aku akan mengejarmu chagi!”
Bayangan Se Rin yang terlihat semakin kecil langsung dikejar oleh Junsu. Mereka berdua menghabiskan waktu luangnya di taman.
Waktu cepat sekali berlalu. Langit mulai menampakkan cahaya orange keemasannya. Di taman itu terlihat seorang kekasih sedang bergandengan tangan dengan menuntun sepeda mereka. Sang pria tersenyum bahagia karena bisa bersama kekasih yang dicintainya. Ingin rasanya ia memberhentikan waktu agar bisa lebih lama dalam momen yang indah ini.
“Drrtt.. drrtt.. ”
Ponselnya kini memecah keheningan yang ia buat bersama Se Rin. Junsu menatap Se Rin, meminta persetujuan untuk mengangkat sambungan telepon dari orang yang sudah mengganggu momen indah yang langka itu. Wanita itu hanya mengangguk, mengiyakannya. Junsu hanya menghela nafas, kecewa karena Se Rin menyetujuinya. Jika saja ia tidak mengiyakannya maka Junsu akan mematikan ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaanya.
“Hallo?”
“ ... ”
“Apa tidak bisa ditunda?”
“ ... ”
“Oh, eumm.. baiklah aku akan kesana.”
Sambungan telepon diakhiri. Sekali lagi, Junsu menghela nafas kecewa. Ia menatap tepat pada mata Se Rin.

KAMU SEDANG MEMBACA
In Heaven (Short Fan Fic)
ספרות חובביםApa kau akan kembali lagi ke dunia ini Se Rin? Apakah kau tidak merindukanku? Baiklah jika begitu aku saja yang kesana. Bagaimana? Kita akan selalu bersama. Maaf, maafkan aku.. Se Rin.