Part 9 : Malam yang Indah

669 43 7
                                    

"Ngapain lo Bee !!" Bentak Arion saat Bee mengangkat telpnya.

"Sialan lo ngebentakin gue, kemana lo bawa Ane pergi" Tanya Bee dengan nada khawatir.

"Apa urusan lo.. mau gue bawa kemana juga, terserah gue"

"Tapi lo sudah membuat semua orang khawatir" Bentak Bee.

"Semuanya ckkk. Gue rasa cuma lo yang khawatir" Sinis Arion. "Apa lo lupa, daddy sudah menempelkan alat pelacak di seluruh benda yang kita gunakan ? Bukan hal yang sulit bagi daddy ataupu papi untuk melacak keberadaan gue. Lagipula gue tidak menculik seseorang, gue hanya membawa Istri gue untuk bersenang-senang" ucap Arion dengan menekankan kata Istri.

"Gue akan bilang ke Alia kalau kalian baik-baik saja" ucap Bee pelan dan langsung mematikan telphonenya.

"Dasar perusak kesenangan orang" Gerutu Arion.

Arion melangkahkan kakinya dengan kesal kearah kamarnya. Alangkah terkejutnya dia, saat dia membuka pintu berdiri sosok mungil yang sedang mengenakan kemejanya.

Mata Arion terus menatap tubuh Ane yang terbalut kemeja putih yang tampak kebesaran di tubuh mungil Ane tampa berkedip sedikitpun. Beberapa kali dia menelan ludahnya sendiri, saat Ane mengibaskan rambutnya dan membenarkan kemejanya yang melorot.

"Cantik" Ujar Arion tanpa sadar.

"Aa.. ngapain lo disini ?" Tanya Ane yang baru menyadari keberadaan Arion dikamar ini.

"Hmm Anu.. gue.. hmm gue mau ganti pakaian" ucap Arion tergagap. "Lo kenapa pakai baju gue ?"

"Maaf.. baju gue basah, makanya gue pakai kemeja lo" Arion berjalan kearah Ane dan berbisik ketelinganya.

"Kemeja gue kebesaran untuk lo Ane"

Ane menoleh kearah Arion. Tubuh mungilnya memang tidak pas dengan kemeja milik Arion yang terlihat sangat kebesaran. Tapi, Ane tidak punya pilihan lagi. Daripada dia tidak memakai baju mendingan dia memakai baju Arion walaupun kebesaran.

Arion mengedipkan matanya beberapa kali, akhh ternyata Ane tidak menggunakan bra. Samar-samar dia melihat gunung kembar milik Ane lewat celah kemeja Ane yang melorot.

"Apa lo mau menguji kesabaran gue Ane.. ?? Akhh kalai seperti ini, gue nggak akan sanggup Ane"

"Aa.. lo kenapa ?" Ane menatap Arion panik melihat keringat Arion yang mengucur di wajahnya. Namu saat Ane memegang tangan Arion, tubuh Arion terasa begitu dingin.

"Aa, lo sakit" Arion mengangguk tanpa sadar.

"Sakit dimana ?" Ane meraba tubuh Arion membuat Arion menegang seketikan. Dibalik celananya sudah sangat menuntun dirinya untuk melakukan yang seharusnya sudah ia lakukan.

Arion menuntun tangan Ane untuk menyentuh dadanya yang berdegup kencang.

"Apa lo ngerasainnya Ane ?" Ane menatap Arion tidak mengerti. "Selama ini jantung gue tidak pernah berdegup sekencang ini oleh siapapun dan dalam kondisi apapun" jelas Arion " Hanya lo Ane.. hanya lo yang bisa membuat jantung ini berdetak dengan cepat" Nafas Arion menderu saat mata cantik milik Ane menatapnya dengan sebuah senyuman indah yang mengembang diwajah mungil Ane.

"Gue tau, lo masih belum bisa menerima gue sebagai suami lo. Tapi, gue berjanji kalau gue akan menjadi suami yang terbaik buat lo Ane"

Ane menyetuh wajah Arion dengan lembut. Tangannya menyusuri dari jidad kemudian turun kehidung Arion dan berhenti di bibir sexy milik Arion. Ane juga tidak mengerti kenapa dia melakukan tindakan menjijikkan seperti itu, sekarang yang ada difikirannya hanyalah ingin menyentuh setiap inci tubuh Arion yang terlihat sexy di matanya.

"Ane"

"Husstt.. diam" Ane meraba lembut bibir Arion kemudian mendekatkan bibirnya kearah bibir Arion. Mengecupnya pelan dan singkat. Arion terhenyak, dia merasa tidak rela melepaskan bibir Ane yang lembut.

Ane tertawa kecil, dia seperti bahagia melihat wajah Arion yang tersiksa. Tangannya kini bermain didada Arion dengan bajunya yang masih lembab karena permainan mereka saat mereka mencuci piring.

"Ane" Panggil Arion dengan suara seraknya.

"Iya" Jawab Ane lembut.

Akhhh kenapa Ane berubah seperti ini, apa dia kerasukan setan genit.

"Kamu Ane kan ?" Tanya Arion pelan membuat Ane menghentikan gerakan tangannya yang bermain di dada Arion.

Ckkk

Kesal Ane kemudian berusaha pergi namun dicekal Arion.

"Wajah lo yang marah semakin menggemaskan" Bisik Arion kemudian mengecup seluruh leher Ane dengan menggebu-gebu bahkan beberapa kali Arion menggigit telinga Ane, membuat gadis mungik itu berteriak kesakitan.

Desahan mereka seperti alunan musik yang bersautan satu sama lain. Gejolak nafsu mereka semakin menjadi-jadi. Sesekali Arion tersenyum melihat Ane yang memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa yang bergejolak ditubuhnya akibat permainan tangan Ane.

"Ane"

"Hmmm"

"Kalau ini terasa sakit kamu bisa berteriak sekuatnya, atau kamu boleh mencakar atau menjabak gue dengan sekuat tenaga lo" bisik Arion saat dia hendak melakukan penyatuan bersama Ane. Dalam hitungan beberapa detik, Ane berteriak kesakitan sambil meremas bantal yang dia gunakan. Air matanya meniti menahan rasa perih di bagian bawahnya.

"Sakit !!" Tanya Arion tak tega. Ane mengangguk dengan mata yang masih terpejam.

"Lanjutkan Aa" Pinta Ane dengan suara seraknya. Tangannya kini mengakung dileher Arion. Ane mengecup bibir Arion berusaha menikmati lembutnya bibir Arion sembari menahan rasa perih di bagian bawahnya.

Arion melanjutkan aksinya dengan lembut. Sesaat setelah Ane merasakan tenang, Arion berusaha menaikkan tingkat permainannya. Deru nafas Ane dan Arion yang tidak beraturan dan keringat mereka yang bercucuran di tubuh mereka, membuat mereka tersenyum lebar sambil beradu pandang satu sama lainnya.

Perih yang pertama Ane rasakan kini berganti dengan rasa nikmatnya, dan kini dia malah ingin melakukannya lagi dan lagi.

"Terimakasih Ane" ucap Arion sambil merebahkan tubuhnya tepat disamping Ane. Tangan Arion yang kekar memeluk tubuh Ane yang tanpa terbalut sehelai benangpun.

Ane tersenyum, kemudian dia terlelap tidur di bidang dada Arion karena lelah. Arion tersenyum sambil mengusap lembut rambut Ane.

Gadis kecil ini tampak begitu menggemaskan saat dia tertidur lelap. Eiittsss lupa, Ane bukan gadis lagi. Bukankah Arion sendiri yang mengambil kegadisannya barusan.

Arion terkekeh sendiri mengingat bagaimana Ane begitu agresif barusan. Bahkan dirinya sendiri sedikit mengalami kesulitan mengimbangi permainan Ane.

"Selamat tidur, istri kecil ku.. mimpikan aku yah" kecup Arion. Ane menggeliat dan memeluk tubuh Arion seperti sedang memeluk bantal guling.

"Kak Alea.. beruangnya kok besar banget sih" Igau Ane membuat Arion tertawa gemas.

Apa dimimpi istrinya ini, dia tampak seperti boneka beruang ?

"Awas yah, kalau kamu sudah bangun, beruang besar ini akan memakan kamu lagi. Bersiap-siap saja, beruang ini nggak akan memberikan ampun sedikitpun"

Arion memejamkan matanya, berusaha melepaskan rasa lelahnya walaupun saat ini sang Adik masih saja terbangun dan mengajak bermain bersama.

"Pantas saja daddy selalu tidak mau lepas dari mommy.. ternyata begini rasanya. Gue juga nggak akan pernah lepas dari lo Ane" lirihnya sambil terpejam.

ArionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang