HAPPY READING :)
" Oh ya, lo gak kesusahan kan dengan lorong-lorong sekolah ini? Soalnya denahnya rumit banget loh"
Reisha mengadah, menemukan sosok cowok berlesung pipit itu yang sedang tersenyum dengan wajah ditopangkan ke tangkupan tangannya di sampingnya itu. Dahi gadis itu mengerut tak suka, kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.
" Yah, kok semua orang di kelas ini cuek sama gue sih? Lo juga. Padahal kita belum kenalan loh"
" Jauh-jauh dari gue."
Vathan menurunkan bahunya. Ia benar-benar gak bisa mengharapkan apa-apa dari cewek ini. Ngeri banget.
' Dasar muka batu, titisan maleficent.'
Tuhan emang udah nulis takdir Vathan bentuk dan ukuran manusia yang ada di sekitar Vathan kayak gini semua kali ya? Ga ada bedanya, patung semua.
" Lo emang ga salah masuk kelas ini. Gue kayaknya yang harus keluar". Vathan mengerucutkan bibirnya, kembali memperhatikan cewek yang lebih memilih menundukkan kepala itu.
" Gue ketua kelas lo. Gue punya hak buat ngobrol dengan siapapun di kelas ini dan tidak boleh ada yang gak nanggapin gue"
Reisha membenarkan posisi duduknya menjadi menghadap Vathan, membuat cowok itu mengernyit bingung. Ia menatap Vathan dengan tatapan yang tetep datar dan menyeramkan. Apalagi ada eye liner dibawah matanya yang mempertegas tatapannya sehingga membuat cowok ini sedikit takut.
" Tau pisau?"
Vathan naikkan alisnya, lalu mengangguk ragu. Reisha membalikkan badannya, mengambil sesuatu di tasnya. Vathan membelalakkan matanya sewaktu cewek itu sudah menodongkan pisau berwarna hitam dan untungnya ada pelapis yang digunakan kayak 'pengaman' itu.
Siapa yang gak takut coba ditodongin pisau sama orang yang tampangnya aja udah kayak mau bunuh orang gitu?
Tapi, ini Vathan. Orang yang berusaha membuat suasana menjadi cair apapun yang terjadi.
" Ah.... lo ikut tabog?"
" Lo sekali lagi ngomong didepan gue kecuali urusan global, gue gak segan-segan buat motong urat nadi lo tepat jam dua belas malam dimanapun lo berada hari itu juga. Ngerti?"
Vathan meneguk salivanya, lalu terkekeh. Memasang senyum terbaiknya, walau hatinya gak bisa boong kalo ia berdoa biar umurnya dipanjangkan sedikit lagi.
' Maleficent kebagusan. Ni anak ga ada baiknya sama sekali'
" L... lo kalo becanda lucu banget sih". Reisha tertegun memandang wajah Vathan yang masih bertahan dengan senyumnya itu.
Sekilas memori melesat dipikiran Reisha saat ia menatap Vathan lekat.
Pandangan Reisha tiba-tiba kosong, membuat pisau yang ada ditangannya lolos begitu saja. Vathan yang terlampau kaget gak bisa nyusulin tangannya menangkap pisau Reisha yang udah terjun bebas ke arah lantai.
Hop!
" Bagus ya lo, mau coba-coba jadi psikopat, Than?!"
Vathan mendelik ke arah Maduk yang sudah memasang wajah jengkelnya, sejurus kemudian Vathan menggeleng panik.
" Bukan gua gobs, dia.." Vathan mencicit kecil. Maduk menautkan alisnya mengikuti arah mata cowok itu. Lalu melebarkan mata gak percaya menatap gadis yang pikirannya udah entah kemana itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
EXCESSIVE
Romance[ HIATUS ] Vathana si Aura Matahari, yang tidak sadar disekelilingnya banyak misteri yang disimpan oleh orang-orang yang dia sayang. Ia sudah berlebihan selama ini, apakah ia mampu untuk menebus kesalahannya? CERITA AKAN HIATUS SAMPAI WAKTU YG TI...