Enemy or not

26 10 1
                                    


Di stasiun kereta yang sepi. Tampak sosok cowok mengenakan hoodie hitam tengah mencoret-coret badan kereta.

Tapi, belum ada lima detik dirinya beraksi, suara peluit terdengar keras dari arah kiri. Membuat kegiatannya terhenti gitu aja.

Cowok tampan itu menoleh. Terkejut melihat seorang polisi mempergokinya tanda kehadirannya telah diketahui.

Ia langsung melempar begitu saja pilox yang ada ditangannya, tanpa basa-basi. Polisi itu sudah menggeram marah, tak luput dari perhatian cowok itu seekor anjing putih yang mengikuti polisi gendut itu.

Cowok itu reflek berlari pasrah setelahnya. Toh ia hanya berlari seperti itu tiap hari karena perbuatan vandalisme nya dan harus diarahkan oleh 'bos besar'. Pemimpin geng cowok itu.

Yah, bisa dibilang kalau geng itu merupakan salah satu geng yang paling diminati di seluruh dunia. Bos mereka juga tersebar di banyak negara. Dan mereka beraksi juga atas perintah bos yang mengendalikan mereka.

Mereka bukan mafia, tapi hanya geng anak kecil dan hebatnya sekali ketangkep bakal lolos lagi.

Sering pula mereka tertangkap karena atasan mereka ini. Ga tau diapain, yang penting toh mereka bakal bebas lagi. Dan mengulang kesalahan yang sama.

Kesel? Nggak, mereka bahkan ga punya hati tiap hari digituin.

Anehnya, polisi gendut dan anjing putihnya yang bertugas mengejar mereka itu ada dimana-mana. Entah mereka lagi tour di Bali, Chicago, Edinburgh, yang datang mempergoki mereka lagi-lagi polisi itu.

Mikir juga apa dia ga mati-mati ngejar mereka di tengah stasiun yang kadang-kadang lewat banyak kereta itu?

Cowok itu, Jake. Merupakan orang pertama yang paling dekat dengan bosnya. Sama seperti yang lain, cowok itu tak kenal lelah.

Termasuk mata duitan juga. Karena bosnya selalu minta uang, walau tujuannya ya... nyari pengganti yang lebih wow daripadanya. Tapi sampai sekarang, cowok itu tetap yang paling setia. Yang paling pertama melayani bosnya.

Jake kaget ketika ia lepas kendali saat berlari. Tubuhnya tiba-tiba tidak bisa berbelok saat gerbong tak terpakai terlihat didepannya. Ia dengan pasrahnya terus berlari walau ia tahu akan tertabrak keras dengan gerbong itu.

Andai ia punya hati, ia akan berteriak pada bosnya mengapa beliau selalu tega membiarkan dirinya tertabrak.


JDUK!






" AH, GIMANA SIH KAK HIME? MASA MAIN BENTAR UDAH KALAH?!!"

Adit merebut ponsel Himeka yang masih menampilkan sosok animasi yang sudah terkapar karena habis tertabrak itu, dengan sebuah pop up muncul setelahnya.

SAVE ME, 1 KEY.

" Ya kan kaget tau, tiba-tiba orangnya lari kenceng kek gitu. Lo juga, tiba-tiba nongol dari belakang siapa yang gak kaget coba"

Adit terkekeh lalu terdiam ketika menatap pop up muncul tiba-tiba dilayar hape Himeka yang barusan dirampasnya. Matanya membesar, lalu menatap geram Himeka yang sibuk ngemil dengan menatap televisi.

" Kak, kok gak kasih tahu aku kakak mau dinas ke London malem ini?"

Himeka yang sibuk mengunyah banyak chiki didalam mulutnya itu spontan menatap Adit yang sudah murung dibelakangnya. Himeka terkekeh pelan, melihat adiknya yang memperlihatkan pesan asisten pribadinya itu.

" Papa nyuruh gue balik lagi, Dit" Himeka kembali menonton televisi dengan santai. Mengabaikan ekspresi keruh Adit disampingnya.

" Bosen aku dengernya. Sampai kapan kakak bilang bakal sama aku terus, hah? Bilang kesini lagi cuma setahun, realitanya bertahun-tahun baru balik. Mana janjinya?"

Adit menghela napas, sisi jeleknya mulai menyeruak keluar menuntut Himeka. Ia terkadang tidak suka dengan sifatnya yang terkadang posesif membuatnya sedikit gelisah, apalagi jika sudah berhubungan dengan orang yang disayanginya.

Tapi ini Himeka, kakaknya. Gak boleh Adit mengharapkan Himeka terus mengisi kekosongan keluarganya yang gak akur ini?

" Ini demi semuanya, Dit. Ada yang mendadak perlu diurus"

Adit terkekeh." Diurus? Pacar bejibun itu maksud kakak? Kakak enak disana senang-senang, gak dikekang sama ayah ibu. Kenapa harus aku sih yang harus jadi 'robot' kalian? Malah harus masuk sekolah 'itu' lagi"

Himeka menghentikan aktivitasnya, menatap Adit tajam. Rahangnya mengeras, akhirnya bangkit dari sofa. Mendekatkan wajah satu sama lain dengan tangan Himeka yang bertumpu pada sandaran sofa. Napas Adit tercekat karena wajah mereka terlalu dekat.

Ia tak suka adiknya terus-terusan bersikap kekanak-kanakan tanpa peduli apa yang terjadi. Apalagi mengungkit-ungkit soal 'hobinya'. Omaygat, anak kecil macam Adit emang gak tahu gimana serunya.

Siapapun di dunia sosialitanya tahu Himeka adalah super duper playgirl. Tapi ya.. ga bakal ada yang berani menghujat kakak calon pewaris perusahaan besar dengan relasi yang kuatnya minta ampun itu. Gak akan.

Tapi, tentang Adit yang ngomel-ngomel yang kayak gitu mencungkil rasa gak suka, apalagi setelah semua pengorbanan yang telah ia lakukan.

Entah kenapa Himeka ingin memberi pelajaran sesekali. Gemes, pengen disentil ginjalnya.


" Lo yang besok enak-enak mimpin perusahaan keluarga diem aja ya"

Adit mengernyit bingung, tertegun dengan ucapan Himeka. Kakaknya menjauhkan wajah sehingga Adit bisa menghela napas lega. Apa itu tadi?

Himeka berjalan cuek menuju ruang tamu, pandangan Adit yang masih bertanya-tanya itu mengikuti langkah kakaknya yang ternyata sudah ditunggu oleh oma dengan dua koper besar disampingnya.

Adit melupakan bahwa kakaknya cukup plin-plan akhir-akhir ini. Terkadang mendukungnya dihadapan orang tua mereka, gak jarang pula Himeka lebih membela orang tuanya dihadapan Adit.

Padahal dulu kan mereka 'geng', bersatu melawan orang tua yang sedikit sekali memberikan perhatian itu. Sekarang apaan?


Pengkhianat.




" Oh, gue mau bilang kalo tiga bulan lagi ibu kesini. So, siapkan diri. Jangan macem-macem"

Adit mendengus geli, memalingkan wajah dan memilih selonjoran di sofa. Tidak peduli.  Himeka memicingkan matanya, tersenyum kecil sembari mengambil mantelnya yang tersampir di tangkai koper. Lalu tersenyum menyalami oma, pengasuh mereka sejak kecil itu.

Adit merogoh sakunya, mengambil ponsel lalu mencari sebuah nama di kontaknya. Ia mendesis, lupa kalau dirinya sedang menjauhi cowok itu.

Kenapa gue apes banget sih?

Ia berjalan menuju kamarnya, tanpa memperdulikan Himeka yang masih asik ngaca di kaca yang super besar tertempel di ruang tamu.

" Gue berangkat, Dit!" Adit tersenyum sinis, yang akhirnya menoleh ke belakang. Ia sangat tahu Himeka gak pernah tega nyuekin dia gitu aja.

Bodo, Adit lagi marah sekarang.






" Moga diputusin serentak sama pacar di seluruh dunia!"




EXCESSIVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang