Pagi-pagi sekali aku sudah sampai disini.Kelasku.Alasanku datang pagi-pagi sekali adalah hanya ingin menghindari tatapan murid yang sekolah di sekolah ini,terlebih kepada teman sekelasku.Jujur saja ingin sekali hari ini aku tidak hadir,tapi jika aku tidak hadir pasti sangat membosankan.Tidak ada teman untuk di ajak bicara. Apa terlalu menyedihkan wajahku?atau ah sudahlah memang diriku ini terlalu introvert.
Kau tau kan introvert. Pendiam dan tidak suka kebisingan. Lebih baik berada di dalam ruang sendiri dari pada di keramaian. Terkadang aku memiliki ide untuk mengubah diri tapi itu sangat mustahil. Apa yang tertanam di diriku ini sudah dari lahir. Sulit untuk di benah mungkin.
Satu persatu teman sekelasku masuk ke dalam kelas. Duduk mengisi bangkunya masing-masing. Tak jarang mereka melihatku sinis bahkan ada yang sengaja mendorong mejaku agar diriku terkejut. Hei apa salahku kepada kalian?jika kalian tidak suka kepadaku coba saja katakan langsung tidak main fisik atau mencoba membunuh kejiwaanku. Diamku bukan berarti tidak berani hanya saja malas meladeni hal tidak penting.
Gadis berambut hitam legam yang di kucir kuda itu menghampiriku. Itu adalah salah satu temanku yang paling tersayang. Tunggu,lebih tepatnya sahabatku. Ia tau seluk beluk kehidupanku. Mulai dari masa kecil hingga sekarang ini. Hanya dia yang mengerti keadaanku. Orang yang paling ku percayai.
Akan kuperkenalkan dia. Namanya adalah Desi. Dia ini tomboy dan sifatnya terbalik seratus delapan puluh derajat dariku. Paham kan maksutku? Dia periang tepatnya hiperaktif mungkin. Satu hal yang harus kalian catat dia ini tidak suka teman munafik! Pernah sekali aku bertanya padanya kenapa ia mau menjadi sahabatku padahal banyak sekali pasang mata yang membenciku,"aku tidak suka kepada mereka,banyak dari mereka menggunakan topeng untuk menutup sifat aslinya,mereka senang menusuk dari belakang,sedangkan kau?aku sudah tau pribadimu kau bukan salah satu dari mereka walaupun aku banyak teman tapi kau yang spesial". Itu jawabannya kala ku bertanya.
Tetapi di pertemukan dengan Desi merupakan sebuah anugerah bagiku dimana aku menemukan tempat untuk bercurah dan saling bertukar cerita.Ia menyapaku lalu duduk di kursi depan bangku milikku. Sayang sekali tidak satu kelas dengannya. Tapi tidak apa yang terpenting masih dalam satu sekolah bukan? Sekarang ini memang belum waktu bel masuk,masih ada sisa waktu sebelum pembelajaran. Desi bertanya padaku apakah aku sudah sarapan?ku katakan belum karna itu kenyataannya. Berangkat lebih awal membuatku melewatkan waktu sarapan. Semalam aku mengirim pesan pada Desi bahwa aku berangkat awal-awal sekali dan tentu dia akan melakukan hal yang sama. Yang dilakukkannya itu bukan tanpa sebab,jelas sekali hamir setiap pagi ia menghampiriku. Hanya sekedar menanyakan sudah sarapan atau hanya basa-basi saja. Bukan aku tidak mau menghampirinya tetapi dia menyuruhku untuk tidak menghampirinya. Ia sudah tau bahwa pasti aku canggung jika berada di ruang yang jauh lebih bising. Desi paham itu.
Desi menarikku keluar kelas,aku hanya menurut saja padanya. Sejauh ini keadaan masih sama,di setiap koridor banyak yang mencemoohku,menatapku sinis,bahkan ada yang terang-terangan menghinaku. Desi yang sadar dengan perlakuan mereka menengokku lalu berkata "Jangan dengarkan mereka Kinan,mereka hanya kurang asupan." Aku yang mendengarkan perkataan Desi hanya tertawa kecil bisa sekali sahabat satuku ini menghiburku. Jika kupikir lagi apa yang di katakan Desi mungkin benar,mereka kurang asupan sampai-sampai masalah orang mau di tanggap. Sangat memalukan. Seharusnya apa yang menjadi masalah orang lain biarkan saja di selesaikan sendiri untuk apa orang lain ikut campur jika bukan masalahnya bukan? Itu sama saja makan asupan orang lain.
Setelah melalui koridor panjang,kami berdua berbelok di sebelah kiri untuk menuju kantin.Desi mengajakku berbelok di sebelah kiri karna tau jalan ini merupakan jalan menuju kantin yang tidak terlalu banyak siswa dan siswi lewat.Sesampainya di kantin Desi membelikanku sebungkus roti isi coklat kesukaanku dan satu botol air mineral. Aku tersenyum padanya sambil mengucapkan terimakasih. Lalu kami kembali berjalan menuju kelasku lagi. Di pertengah perjalanan menuju kelasku aku bertanya kepada Desi.

KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN HUJAN
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA!] Kau tau bagaimana cara menenangkan hati?ku beri satu saran untukmu berdirilah di bawah air hujan. Jangan terlalu cepat,maksutku tidak terlalu lama juga,hanya rasakan saja bagaimana hujan bercerita tentang dirinya mungkin le...