Pair : Soukoku
Genre : Angst Dystopian
Prompt : World War AU
——————————————
A World Made From Chaos
Chapter 1
—0—
Kunjungan di Gedung Runtuh
Dunia yang kering ini dibangun dari ketamakan dan kerusakan manusia. Mereka bertanya bagaimana bisa bertahan dari angin panas dan rasa sepi tanpa mengubah kekejian mereka memperbudak alam dan orang lain. Kekuasaan, harta, cinta, dendam, mereka memakan semuanya dan hanya meninggalkan ampas untuk dibagi. Manusia bukan berperang untuk negara maupun kebebasan, mereka hanya menggunakan dunia sebagai medan tempur atas dasar keegoisan.
Chuuya sudah melangkah jauh. Melewati laut hitam dan melintasi sungai kering sampai di kota mati penuh reruntuhan gedung percakar langit yang dulu bewarna biru bersinar. Di bawah langit mendung selalu ada suara teror. Bahkan jika sepi menaungi, gelap dan pengap tidak akan pernah lepas dari indra mereka yang masih bisa menghela napas.
Tujuan Chuuya adalah Kehampaan, terkadang dia juga berharap bisa sampai ke Kedamaian. Namun dengan semua putus asa memenuhi udara, ia lebih suka tidak pernah sampai kemana-mana dan akan jatuh lalu tenggelam dalam pasir-pasir penghukuman atas semua yang telah mati ia bunuh untuk sampai ke sini.
"Pekat," ucapnya melihat air sungai yang menghitam. Sudah beberapa jam setelah tetes terakhir persediaan habis dan seluruh debu sukses membakar kerongkongan. Chuuya berulang kali menelan liur sendiri hanya untuk merasakan perih di luka-luka akibat dehidrasi.
Di depan sana sebuah badai menanti dan Chuuya tahu melanjutkan perjalanan hanya akan membuatnya mati walau mungkin itu lebih baik dari tetap ada di dunia ini. Sebuah bangunan yang bertahan dari kekacauan, beton-beton coklat yang tampak rapuh dan kuat serta bilik-bilik suram tanpa jendela, Chuuya melangkah ke sebuah ruangan, bersandar pada sebuah tembok kusam, dan memilih tidur dengan senapan di pelukannya.
Semenit, sepuluh, tiga puluh, gemuruh badai dan petir-petir seperti mencambuk setiap eksistensi yang ada di luar dan Chuuya terbangun ketika mendengar suara di ruangannya. Senapan siaga, ia memejamkan mata beberapa kali sebelum bangkit dengan letih. Di pintu lemari berkarat sebuah kaca penuh debu yang tinggal sebagian memanggil fokus mata biru matinya. Bukan sebab pantulan mengenaskan wujud Chuuya yang berantakan dengan seluruh mantel dan serbet-serbet kusam, dan bukan pula karena wajahnya yang peluh dan berpasir.
"Thirsty?"
Sebuah tulisan yang dibuat dengan ujung telunjuk di atas tumpukan debu-debu tebal. Chuuya memicingkan mata dan melangkah penuh kehati-hatian ke luar bilik. Dia yakin tidak ada siapa-siapa, jika ada siapa-siapa seharusnya Chuuya tidak lagi bernyawa dan sudah ada di meja jagal atau sebuah kasur rusak.
Langkah kaki yang bergema di lorong-lorong bangunan seakan menjawab ricuh angin kering dan halilintar yang mengamuk di luar. Beberapa ruangan Chuuya lewati dan ia mendapat sebuah tulisan lagi di atas meja berdebu.
"Promise you won't hurt me."
Chuuya tidak bisa berjanji.
"I will give you water."
Bahkan walau air bersih ada di hadapannya, jika yang memberi seorang maniak hobi menyiksa dan memperkosa, Chuuya akan membunuhnya. Tanpa ragu.
"Tunjukkan dirimu," Chuuya berbicara. Tidak kuat, tidak pelan, hanya sebuah nada yang cukup didengar siapapun pengecut yang tidak menunjukkan diri dan tidak membunuh Chuuya ketika ada kesempatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aglio Latibule
FanfictionDidedikasikan untuk Bungou Stray Dogs Angst-week 2020. Soukoku. ©Bungo Stray Dogs adalah milik Asagiri Kafka dan Illustratators.
