15

791 47 5
                                        

Don't forget to VOTE and COMMENT before you read.

Don't forget to VOTE and COMMENT before you read

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ignore the typos.

Your Playlist:

Never Let Me Go - Florence + The Machine.

°°°°°°°°°°°

"Evakuasi para tamu Andres!" Jonathan berseru keras pada Andres di sebrang alat komunikasi. Suara Jonathan tenggelam di tengah-tengah suara pekikan panik tamu tamu yang memenuhi ballroom, saling beradu dengan suara pecahan piring piring, gelas, botol wine, vas bunga dan Chandelier yang menggantung. Keadaan Ballroom menjadi remang dan semakin kacau. Tetapi semua tamu masih berlarian berusaha mencari aman.

"Siap Mr. Hitchens!" Andres menjawab lantang di sebrang sana, segera melaksanakan tugas. Menuntun para tamu terutama yang berperan tinggi dan kerabat dekat keluarga Hitchens, membawa mereka memasuki jalur keamanan Palacio untuk segera keluar dengan selamat menuju halaman utama.

Dengan gerakan gesit Jonathan menarik Elena berlindung. Dengan posisi jongkok di balik meja besar tamu yang terdapat pada pojok ruangan, di hadapan mereka adalah dinding, ini tempat paling aman saat ini.

"Kenapa kau tidak ikut tamu yang lainnya Elena??!" Menoleh kearah wanita di sampingnya itu, Jonathan berseru dengan suara lebih keras berusaha mengalahkan bising ruangan.

"Kau seharusnya ikut melewati jalur Evakuasi itu dan keluar dengan selamat, tunggu di dalam dan tidak tetap bersamaku melakukan hal berbahaya seperti ini." Lanjutnya lagi. Elena menatap Jonathan linglung, ia masih gemetar. Tangannya yang masih dalam genggaman Jonathan bahkan kebas. Elena hanya bisa mengatur nafasnya yang terputus-putus.

"Ak-aku tidak merasa aman. Di tem-tempat lain kecuali denganmu Jo." Elena menjawab pelan, tangan nya yang lain terangkat mencengkram jas milik Jonathan erat, matanya yang berkaca menatap Jonathan sedikit buram. Melihat itu membuat Jonathan merasa sesak, rahangnya mengeras. Elena terlihat sangat ketakutan. Dengan cepat ia menarik wanita itu dalam dekapannya.

Jonathan sesekali melongok kan kepala dari balik meja, untuk melihat situasi. Tangannya kembali terangkat menekan alat komunikasi dibalik telinganya.

"Apa kalian baik baik saja??" Jonathan memonitor semua keluarganya itu dengan alat komunikasi DEMON yang di buat khusus.

"Kami baik-baik saja, Jo. Bagaimana denganmu?? Dan Elena?? Dia sudah ikut jalur Evakuasi bersama tamu??" Itu suara Olivia, terdengar menjawab lebih dulu.

PLAN to be DISASTERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang