Bab 11

25.7K 1.9K 150
                                        

Tanpa sadar Raven tertegun melihat kepergian mantan istrinya itu, wanita itu sungguh tampak jauh berbeda dengan wanita yang dulu pernah dinikahinya beberapa tahun yang lalu. Karena Yasmin yang ia kenal dulu akan langsung mengamuk pada wanita yang menempel dengannya, mantan istrinya itu sangat pencemburu dan tidak segan-segan akan melakukan hal-hal konyol yang mempermalukan dirinya sendiri demi bisa menjauhkannya dari wanita-wanita yang mengelilinya pada saat itu. Ingatan Raven seketika terputar pada kejadian beberapa waktu lalu, dimana ia melihat wanita itu menangis dan nampak begitu ketakutan akan sentuhannya, sebenarnya apa yang membuat Yasmin berubah sedrastis itu 7 tahun ini?

Dengan cepat Raven melepaskan pelukan Giselle di tubuhnya, dia lalu mencengkeram lengan wanita itu keras, hingga membuat Giselle yang awalnya masih berfokus pada kepergian Yasmin terkejut atas tindakan tiba-tiba yang Raven lakukan padanya.

"Ku harap ini terakhir kalinya aku melihatmu mengganggunya lagi seperti tadi, karena jika kamu masih nekad melakukannya lagi, maka kali ini kamu akan berurusan denganku!" Raven berkata tajam sebelum kemudian pergi meninggalkan Giselle yang masih terbengong-bengong mendengar ucapannya.

"Sejak kapan dia membela si pembunuh itu?" Gumam Giselle pelan, matanya terus menatap kepergian Raven dengan kesal.

........

"Tanteee!" Teriakan Edgar seketika membuat Yasmin menoleh, dia tersenyum saat melihat bocah tampan itu berlari ke arahnya sambil memegangi banyak sekali permen kapas. Yasmin membungkuk untuk mensejajarkan dirinya.

"Hallo tampan, kamu keren sekali pakai baju ini," kata Yasmin sambil menatap kagum keponakannya yang saat ini memakai setelan jas dan celana berwarna biru dongker.

"Iya dong, ini kan Momy yang belikan," jawab Edgar sambil menarik kerah bajunya ala-ala membanggakan dirinya.

Yasmin menggeleng pelan dengan wajah menahan senyuman, menyadari kalau sifat congkak keponakannya adalah perpaduan sempurna dari sifat Arion dan juga Bianca.

"Yas, dari mana saja kamu? Kakak mencarimu dari tadi." Suara Arion sontak mengalihkan tatapan Yasmin, tiba-tiba sang Kakak muncul disebelahnya sambil mengulurkan Bella padanya.

Yasmin menghela nafas dan dengan sigap dia langsung menggendong Bella. "Jadi mencariku hanya untuk ini?" lalu mengangkat Bella sejajar dengan wajahnya hanya untuk menciumi pipi gembil keponakannya itu.

Arion meneloyor kepala Yasmin pelan. "Kau ini, masih sempat-sempatnya membuat lelucon, tidak tahu ya kalau tadi aku sangat mengkhawatirkanmu." Arion menggerutu kesal.

Yasmin terkikik seraya mengayun Bella, bersikap sesantai mungkin agar Arion tidak curiga. Jauh di dalam hatinya sebenarnya Yasmin bergidik sendiri membayangkan, apa yang akan terjadi jika Arion sempat memergoki apa yang di lakukan Raven padanya.

Sial, kenapa juga Yasmin masih saja mempedulikan pria brengsek itu? Bukankah akan lebih baik jika Arion berhasil memberikan Raven pelajaran atas ulah pria itu sendiri? Namun sayangnya Yasmin tidak bisa egois, dia harus memikirkan perasaan Bianca, pasti kakak iparnya itu akan sedih ketika melihat suami dan kakaknya terlibat perkelahian sekali lagi.

"Memangnya apa yang kau khawatirkan sih, Kak?"

Arion menarik nafas pelan, dia menatap Yasmin dengan sorot mata yang tidak bisa Yasmin tebak, perlahan kakaknya itu mengangkat kedua bahunya dengan berat. "Aku juga tidak tahu." Lalu tersenyum. "Tapi kalau ada apa-apa yang menimpamu disini, Kakak tidak mau kamu menyembunyikannya dari Kakak!" Dia mengusap kepala Yasmin lembut.

Yasmin tertegun, dia merasakan tertusuk hatinya begitu menyadari kekhawatiran yang Arion rasakan untuknya dan merasa bersalah karena sudah membohongi kakaknya itu. Tapi Yasmin mampu meyakinkan dirinya kalau apa yang ia lakukan itu demi kebaikan kakaknya, toh dua hari lagi Yasmin juga akan segera pulang ke Barcelona, jadi Yasmin tidak perlu mengkhawatirkan soal Raven lagi. Yasmin akan tetap menyembunyikan soal ini dari Arion.

Beautiful Mistake Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang