Bab 26

12.9K 907 182
                                        


Malam ini, Yasmin masih merenung di dalam kamarnya. Usai perdebatannya dengan Raven tadi, dia langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci semua pintu dan juga jendela, memastikan kali ini tidak ada lagi celah bagi pria itu untuk bisa masuk kedalam kamarnya. Sebenarnya dia ingin pulang ke rumah orang tuanya tapi pasti Arion tidak akan mengijinkannya, dengan alasan tidak ingin membuatnya terus mengingat calon anaknya yang telah tiada.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamarnya di ketuk, lalu di susul oleh suara Arion yang terdengar setelahnya. Yasmin dengan cepat membukakan pintu untuk Kakaknya itu.

“Ada apa, Kak?” tanyanya begitu Arion sudah memasuki kamarnya.

“Ken sudah pulang?” Arion berjalan kearah ranjang lalu duduk di atasnya.

“Sudah dari tadi, kenapa kamu tadi tidak ikut menemuinya?”

“Aku sudah bertemu dengannya tadi siang sampai membuatnya terlambat untuk menjemput keponakannya.” Arion terlihat bersalah.

Yasmin membelalak, meski dia sudah mendengar dari Ken kalau siang ini Arion mendatangi kantornya namun Yasmin tidak menyangka kalau Arionlah penyebab Ken terlambat menjemput Hena tadi siang.

“Ken juga mengatakannya padaku kalau siang ini kamu datang menemuinya di kantor untuk meminta tolong padanya menangani dokumenku yang hilang. Apa itu benar Kak?”

Arion mengangguk dengan wajah muram.

“Kak, ada apa memangnya? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”

Perlahan, Arion menarik nafas. “Baiklah jika kamu memaksa, Kakak dengan terpaksa harus memberitahumu sekarang, sepertinya dalam waktu dekat ini kamu masih belum bisa kembali ke Barcelona.”

Yasmin terkejut bukan main, “Maksud Kakak apa?”

Arion menghela nafas sebelum menepuk tempat di sebelahnya sebagai isyarat agar Yasmin mau duduk disana. “Kemungkinan ada seseorang yang dengan sengaja menghalangi keberangkatanmu ke Barcelona,” tuturnya ketika Yasmin sudah duduk di sebelahnya.

Yasmin dengan reflek menutupi mulutnya dengan telapak tangan. “Apa Raven ada di balik semua ini?”

Arion tidak langsung menjawab, hanya rahang tegasnya yang berkedutlah yang memberikan Yasmin jawaban, kalau apa yang ia tuduhkan benar adanya. “Jadi ini sebabnya kamu mendiami Bianca?”

Tatapan Arion meredup.

“Aku tahu Bianca pasti terlibat dalam hal ini,” kata Arion dengan suara tegas.

“Kamu sudah memastikannya pada istrimu?”

Arion menggeleng. “Tidak perlu, aku tahu karena sejak awal dia yang terlihat antusias untuk menyatukan kalian.”

Yasmin termenung, sebenarnya dia juga berpikiran sama dengan Arion, namun Yasmin tidak mau membuat rumah tangga Arion terlibat masalah hanya gara-gara dirinya. Cukup dia saja yang pernah mengalami kegagalan di dalam rumah tangga, Yasmin tidak akan membiarkan hal itu menimpa kakaknya dan Bianca.

“Tapi Kak, kamu tidak bisa menuduhnya kalau tidak ada bukti. Lagipula aku yakin, ini pasti rencana Raven, Bianca tidak mungkin tega melakukan itu padaku. Kamu pasti hanya salah paham saja!”

Arion kembali terdiam, merasa tidak tega untuk memberitahu Yasmin kejadian sebenarnya. Di saat dia melihat sendiri rekaman CCTV dimana istrinya itu mengendap-ngendap memasuki kamar Yasmin.

“Sudahlah, Kakak kesini bukan untuk membahas masalah itu.” Dia menepuk lembut kepala Yasmin. “Kakak ingin memberitahumu, kalau mulai besok Kakak akan pergi ke Filipina, kemungkinan untuk beberapa hari kedepan Kakak tidak bisa pulang.”

Beautiful Mistake Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang