Bab 23

35.5K 1.8K 169
                                        

"Dari mana saja kamu?"

Pertanyaan itu sontak mengejutkan Yasmin, terlebih cengkeraman yang teramat keras pada lengannya seketika membuatnya tersentak keras.

Tubuhnya secara otomatis jatuh kedalam pelukan sang pemilik suara begitu pria itu menarik lengannya dengan kuat. Seketika Yasmin membulatkan matanya sembari meronta, namun cengkeraman Raven di lengannya begitu kuat, begitu keras, hingga untuk tubuh serapuh dirinya tidak akan mungkin bisa meloloskan diri dari cengkeraman pria itu.

"Jawab pertanyaanku sekarang atau kau tidak akan aku lepaskan!" Raven mendesis dengan rahang mengetat.

Yasmin menatap pria itu dengan terkejut sekaligus marah. "Lepaskan! Itu bukan lagi urusanmu sekarang!"

Tatapan Raven menajam, emosinya sudah naik ke ubun-ubun begitu mendengar jawaban wanita itu. Ini semua gara-gara Arion, pria sialan itu sengaja menyembunyikan perihal status mereka kepada Yasmin, hingga membuatnya tampak bodoh sekarang ini. namun Raven harus bersabar sebentar lagi, karena waktunya masih belum tepat untuk memberitahu Yasmin yang sebenarnya.

Perlahan Raven melepaskan Yasmin sebelum memasukkan tangannya di kedua saku celana, sementara kedua matanya yang tajam menatap Yasmin dengan angkuh.

"Urusan kita belum selesai." Tentu saja, jika Yasmin berpikir dengan Raven mau melepaskannya kali ini berarti dia sudah bebas, maka pemikirannya itu salah karena Raven hanya tidak mau tindakannya kali ini di pergoki oleh Arion dan Bianca. Bisa-bisa ada perang dunia ketiga jika hal itu terjadi. Sebenarnya Raven bukannya takut kepada Arion, malah jika boleh jujur sudah terlalu banyak kemarahan yang tersimpan di dalam diri Raven saat ini untuk mantan sahabatnya itu. Hanya saja, sejak dulu Raven selalu berusaha untuk mengontrol amarahnya terhadap Arion mengingat adiknya begitu mencintai pria itu, terlebih sekarang begitu banyak perasaan yang harus ia jaga untuk tidak melanjutkan perseteruan mereka seperti di masa lalu. Terutama perasaan anak-anak Bianca, apa jadinya jika Edgar melihat Om serta Papy-nya beradu jotos di depan mata kepalanya sendiri?

Yasmin menatap Raven dengan sendu, dia sungguh tidak mengerti apa yang sudah membuat Raven tampak begitu marah kali ini, padahal baru kemaren pria itu menunjukkan sikapnya yang malu-malu dengan terus menghindari tatapannya. Lalu sekarang, begitu cepat Raven sudah kembali ketabiat awalnya lagi-meledak-ledak setiap kali berhadapan dengannya. Tanpa sadar Yasmin mengusap sikunya yang memerah karena ulah kasar Raven tadi, rasa nyerinya masih membekas di permukaan kulit tangannya, namun sayangnya rasa sakit itu tidak bisa mengalihkan denyutan menyakitkan di hatinya saat ini begitu dirinya lagi-lagi mendapatkan perlakuan kasar pria itu.

"Sebenarnya ada apa denganmu? Apa yang membuatmu tidak pernah berhenti untuk mengusikku? Bukankah, sekarang aku sudah tidak pernah lagi mengganggumu? Tidak bisakah kita menjalani kehidupan masing-masing?" Yasmin menjeda, "Setidaknya jika kamu merasa tidak sudi menganggap wanita pendosa sepertiku ini kerabat, maka anggaplah aku tidak pernah ada, karena itu akan membuatmu lebih baik."

Raven tertegun karena kata-kata Yasmin langsung mengenai hatinya. Terlebih sorot mata penuh kesedihan yang wanita itu tampakkan saat ini berhasil menyerap jiwanya dengan pedih, membuatnya tidak bisa berkata-kata ketika untuk kesekian kali sikapnya di salah artikan oleh istrinya.

Sesaat lamanya keduanya hanya saling bertatapan dengan arti tatapannya masing-masing. Namun, di saat berikutnya Yasmin memilih untuk pergi, wanita itu kemudian meninggalkan Raven disana yang masih tertegun oleh kata-katanya.

Dia kemudian menuju kamarnya, berbagai kejadian yang menimpanya siang ini berhasil mengguncang perasaannya, sekarang tidak hanya fisik Yasmin saja yang terasa lelah tapi psikisnya juga. Bisa jadi, inilah alasan yang membuat Yasmin ingin cepat-cepat pergi dari Negara ini, disini tidak ada orang-kecuali Arion dan Bianca-yang bisa menerima perubahannya yang sekarang, karena bagi mereka seorang pendosa seperti dirinya selamanya apa yang ia lakukan akan tetap di nilai buruk, tidak ada sedikitpun nilai positif pada dirinya di mata orang-orang yang dulu pernah dia sakiti hatinya. Apakah memang dirinya tidak layak untuk mendapatkan pengampunan?

Beautiful Mistake Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang